Showing posts with label Minangkabau. Show all posts
Showing posts with label Minangkabau. Show all posts

Friday, April 3, 2015

Jangan Ngaku Pecinta Masakan Padang Kalo Belum Nyobain ini : Sala Lauak!

Sala Lauak

Bicara tentang wisata di Kota Padang, pasti sebagian besar yang ada di kepala kita adalah wisata kuliner ; Masakan Padang.

Masakan Padang memang telah mendunia, di Jakarta sudah tak terhitung lagi jumlahnya, di London, Sydney, sampai New York juga ada, di Indonesia bahkan seorang Dosen Geografi Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan bahwa keberadaan Rumah Makan Padang menjadi salah satu indikator kemajuan suatu daerah. Hal ini karena ditinjau dari faktor aksesibilitas dan daya tarik daerahnya, ketika sudah ada Rumah Makan Padang disana, berarti sudah ada orang Padang disana, yang berarti sudah ada pendatang di daerah tersebut yang secara tidak langsung menyatakan bahwa daerah tersebut sudah memiliki akses transportasi yang baik dan daya tarik yang menarik pendatang untuk merantau.

Apa Kabar Gaji PNS di Sumbar?

pemerintah.net

Gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi DKI Jakarta menuai reaksi dari banyak pihak. Terutama untuk gaji lurah, camat, dan walikota yang mencapai angka Rp 75 juta.

Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB), Yuddy Chrisnandi menyebutkan bahwa Belanja Pegawai DKI Jakarta yang meraup 24 persen dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) tersebut, tidak melanggar Undang-Undang (UU) Aparatur Sipil Negara dan UU Pemerintahan Daerah (Pemda). Sementara itu, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menyebutkan di Tahun 2012, 302 daerah di Indonesia menggunakan lebih dari 50% anggarannya untuk belanja pegawainya.

Lalu FITRA juga menyebutkan bahwa dalam lima besar gaji kepala daerah tertinggi di Indonesia, mayoritas mereka berasal dari daerah-daerah di Jawa. Dari Sumatera, hanya ada Provinsi Sumatera Utara, lalu bagaimana dengan daerah lainnya di Sumatera?.

Wednesday, February 11, 2015

Pasang Surut Wacana Daerah Istimewa Minangkabau

Istana Pagaruyuang di Batusangka, Sumbar (www.theguardian.com)

Indak ado kojo cari kojo, diagiah kojo beko mancibia” (gak ada kerjaan trus nyari kerjaan, dikasih kerjaan malah mencibir), inilah sebuah komentar dari seorang warga yang kontra terhadap tulisan di media yang mendukung gagasan mewujudkan Daerah Istimewa Minangkabau (DIM).
Memang, gagasan ini menuai pro-kontra dari sejumlah kalangan.

Gagasan mewujudkan DIM kembali menguak ke permukaan. Adalah Mochtar Naim(Budayawan Minangkabau) yang menulis ulang idenya pasca pilpres 2014 lalu. Tulisan tersebut pun kemudian kembali dibahas di berbagai forum. Sebelumnya, Mochtar sudah sering menyuarakan ide ini di tulisan-tulisannya sebelumnya.

Bayangan Menghilang di Kampung Tuanku Imam Bonjol!

Bayangannya berada tepat di bawah benda (sugianto-industri.blogspot.com )

Pernahkah anda berdiri di bawah terik sinar matahari, dan menemukan bahwa ternyata tidak ada bayangan yang muncul dari tubuh anda?.

Bukan sulap, bukan sihir, namun ini nyata adanya, dan sangat ilmiah. Adalah peristiwa titik kulminasi matahari yang rutin terjadi di daerah-daerah di sepanjang garis khatulistiwa.

Sunday, September 7, 2014

Stigma Racun


“BBM langka, mungkin Jokowi dendam pada kita karena suaranya kecil disini. Baru awal saja sudah begini, apalagi nanti, kita akan sengsara. Rasakan saja oleh rakyat itu, yang memilih Jokowi, kita akan celaka dipimpin oleh dia”.

Begitulah kutipan dari percakapan beberapa orang penumpang di sebuah transportasi umum di Sumatera Barat (Sumbar), Provinsi yang memenangkan Prabowo-Hatta dengan persentase tertinggi. Tak hanya itu, di antrian panjang pemburu BBM di SPBU, warung-warung kopi, dan berbagai tempat lain di Provinsi itu, terdengar juga nada-nada seirama ; menyudutkan Jokowi, dalam merespon berbagai kondisi yang terjadi di sekitar mereka.

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana pernyataan tersebut sangat kering informasi. Mereka menyalahkan Jokowi terkait masalah kelangkaan BBM, padahal pada waktu tersebut Presiden Indonesia masih SBY. Sinisme terhadap pemerintah terpilih yang menjadi obrolan dari warung kopi hingga restoran elit para kelas menengah ke atas. Bahkan seorang siswa sekolah menengah di Sumbar sampai membuat pernyataan, “saya tidak rela foto dia (Jokowi) dipajang di depan kelas kita”, ucapnya pada teman sekelasnya.

Friday, September 13, 2013

(Masih) Samo-Samo Karajo

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAhPHyz_gYDQDV-nH2hY4eOYBOfmM5xk-dBA6h2u9luKX9CE3YDapEIoy_jfwNgsGrxgO4d6MrYrISAHKlXG0zJs0bJ2FoFVLZZqJF6ZBNP24n5ecT19zM5dtYtfqJoFG6x4U-RppbmsE/s1600/as.jpg

Hujan mengguyur kota Padang beberapa hari di minggu-minggu terakhir ini, membasahi kertas-kertas dan kain-kain bergambar aneka wajah yang minta dikenal. Bersama dengannya, slogan-slogan klise beserta nama-nama bergelar yang terpampang didalamnya menciut dingin, basi dan hambar.

Sekitar delapan abad yang lalu, tidak jauh dari kota tersebut berdiri Kerajaan Minangkabau yang menjadi akar peradaban Sumatera Barat (Sumbar) saat ini. Ketika itu di dalamnya terjadi pertentangan antara dua pemimpinnya. Ialah Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang. Perbedaan ide dasar antara mereka kemudian membawa perpecahan kerajaan ke dalam dua sistem politik, yaitu Lareh Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Sunday, June 23, 2013

Islam’s Secret Feminists

http://funkyroses.files.wordpress.com/2011/09/indonesia-community.jpg

In an obscure, devoutly Muslim ethnic group in Indonesia, women are revered—and own key land and property. There is report on the world’s largest matrilineal society.

Sunday, April 15, 2012

Sejarah Ikatan Mahasiswa Minang Universitas Indonesia (IMAMI UI)


Logo IMAMI UI
Logo IMAMI UI (sumber: FB IMAMI UI)
Ikatan mahasiswa minang (IMAMI) Universitas Indonesia (UI) resmi dideklarasikan pada tanggal 1 Mei 1983 di Jalan Angkur No 5 Kampung Ambon, Jakarta Timur, dengan beberapa tokoh diantaranya Harmaily Ibrahim SH, Akhiar Salmi, Zohra Amran, Achmad Rifai dan Uni Elly.
Pada awal terbentuknya IMAMI bernama IMAMI FH UI, karena para tokoh tersebut berasal dari Fakultas Hukum (FH) UI, namun pada perkembangan selanjutnya nama tersebut berubah menjadi IMAMI saja dikarenakan meningkatnya jumlah mahasiswa Minang yang bergabung di dalamnya dan mulai merata dari berbagai fakultas. Mahasiswa Minang yang menempuh pendidikan di UI sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum tahun 1983, namun saat itu belum ada deklarasi ikatan yang menyatakan diri sebagai ikatan.
Dasar pemikiran pendirian IMAMI UI ini pada awalnya berasal dari keinginan untuk saling berbagi, bekerjasama, dan mempererat tali silahturahmi antar mahasiswa minang dalam bentuk sebuah wadah yang bersifat kekeluargaan agar ‘saciok bak ayam, sadanciang bak basi, ka lurah samo manurun, ka bukik samo mandaki, ringan samo dijinjiang barek samo dipikua, basatu kito kuaik bacarai kito rubuah.
IMAMI UI juga menjadi ‘urek tampek baselo, batang tampek basanda’. Wadah kekeluargaan yang dibentuk disini bukan berarti untuk melahirkan sebuah gerakan separatis yang berpaham primordial memperjuangkan kepentingan suku atau daerah masing-masing, justru disini IMAMI UI hadir sebagai salah satu etalase warna yang terkandung dalam pelangi merah putih.
Sebagai salah satu unsur dari pelangi merah putih IMAMI UI ikut berkontibusi disini untuk mewujudkan implementasi dari salah satu unsur pancasila yaitunya ‘bhineka tunggal ika’, IMAMI UI berdiri untuk membantu membangun bangsa dan peradaban. IMAMI UI selalu berupaya dinamis untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, ‘dima langik dipijak disina langik dijunjuang, tagak dikampuang bapaga kampuang, tagak di nagari bapaga nagari’.

Seribu Mahasiswa dari Sumatera Barat di UI: Dinamika IMAMI UI


Logo IMAMI UI
Logo IMAMI UI (sumber: FB IMAMI UI)
Keberadaan mahasiswa minang di UI sesungguhnya telah ada jauh sebelum tahun 1983, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya jumlah mahasiswa minang yang ikut bergabung setelah proses deklarasi di tahun 1983 dan berasal dari berbagai tingkat maupun fakultas. Seiring dengan perkembangan ini maka IMAMI UI yang awalnya bernama IMAMI FHUI lalu menjadi IMAMI KMHR (kelompok mahasiswa hukum rawamangun)-pun berganti nama menjadi IMAMI UI yang cakupannya semakin luas.
Pertengahan tahun 1985 IMAMI UI-pun semakin mengembangkan sayapnya melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakannya dan diikutinya, salah satunya yaitu acara Perkemahan alam budaya minangkabau pertama (MAHABUANA I) di Cikole Bandung bersama kepala daerah dan rekan-rekan mahasiswa minang lainnya dari jawa barat dan DKI Jakarta.
Selang satu tahun setelah itu, pada tanggal 6-13 Juli 1986 di Istora Senayan Jakarta IMAMI UI diberi kepercayaan oleh pemuka masyarakat minangkabau di Jakarta untuk menjadi penyelenggara acara ‘Pekan Wisata Budaya Minangkabau dan Halal bi Halal Masyarakat Sumbar DKI 1406 H’. Acara selama tujuh hari ini akhirnya mendapat penghargaan dari Bapak Ir Azwar Anas (Mantan Gubernur Sumbar & Mentri Perhubungan RI).
Awal tahun 1990 pada tanggal 19 Januari – 6 Februari IMAMI UI semakin bersemangat menggelar kegiatan-kegiatan bermanfaat, salah satunya yaitu acara ‘Pengabdian dan temu ilmiah IMAMI UI’ yang bertempat di Sumatera Barat. Tahun demi tahun IMAMI UI terus mencoba menggali potensi masyarakat minangkabau khususnya dengan mengadakan try out akbar Sipemaru untuk para siswa SMA di sumbar, hingga akhirnya pada tahun 2002 acara ini dikemas dalam sebuah bentuk rangkaian acara yang diberi nama ‘Kampus Goes to Kampuang (KGTK)’.
Acara ini dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan mulai dari konten acara hingga jumlah peserta. Beberapa konten acaranya selain try out akbar yaitu : bedah kampus, seminar guru, workshop gempa, lomba kreatifitas siswa, bimbel gratis, festival kebudayaan minang, studi islam dan adat, dll. Hasil evaluasi dari program rutin terbesar IMAMI UI ini ternyata sungguh luar biasa. Seluruh keringat kerja keras keluarga besar IMAMI UI terbayarkan melihat hasil ini. Setiap tahunnya peserta dari rangkaian acara KGTK yang diselenggarakan dari tahun 2002, baik itu simulasi SNMPTN, bedah kampus, seminar, workshop,dll hingga hingga sekarang mengalami peningkatan mencapai 25 %.
Gambar 1.Peningkatan Kuantitas KGTK
Gambar 1.Peningkatan Kuantitas KGTK
Gambar 2. Persebaran Mahasiswa Sumatera Barat di UI
Gambar 2. Persebaran Mahasiswa Sumatera Barat di UI
Hari ini jumlah mahasiswa yang berasal dari sumatera barat mencapai angka seribu orang, dimana pada tahun 2002 jumlahnya hanya sekitar puluhan saja. Sekarang mereka tersebar di berbagai fakultas. Sebuah penggalian potensi daerah untuk menyukseskan otonomi daerah menuju kebangkitan negeri ini. Semoga semangat ini tetap terjaga dan mampu menginspirasi.

Gerakan Paguyuban Daerah di UI untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan


Liburan semester ganjil bagi sejumlah Paguyuban Daerah di UI menjadi waktu yang potensial untuk berkontribusi secara maksimal untuk negeri melalui daerah masing-masing. Gerakan yang sebagian besar mengarahkan sasaran kepada para siswa SMA/sederajat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka.
Menurut data terakhir dari Departemen Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) BEM UI ada sekitar 53 Paguyuban daerah di UI dan sebagian besar diantaranya sukses melakukan gerakan ini. Berikut liputannya dari beberapa Paguyuban Daerah tersebut :
Ayo Berani Masuk UI, Formasi Delta UI (Sidoarjo)
Formasi Delta UI merupakan paguyuban daerah yang baru terbentuk 5 november 2009. Mereka menggelar Roadshow “Ayo Berani Masuk UI” di sembilan SMA Se-Sidoarjo dan menyebar poster-booklet tentang UI ke lembaga bimbingan belajar dan sekolah-sekolah lainnya.
Program yang berlangsung sekitar dua minggu ini mendapat antusisame yang cukup tinggi dari para siswa-siswi di tiap sekolah. Tidak hanya itu, para pengajar di tiap SMA juga menyambut baik program ini mengingat seringkali ada ambiguitas informasi tentang jalur masuk di Universitas Indonesia.
Ke depan, Formasi Delta UI berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan dan jumlah SMA yang menjadi target roadshow sehingga semakin banyak pula SDM berkualitas di daerah yang bisa meneruskan pendidikan di Universitas Indonesia.
Sai Mahasiswa Lampung (Saimala)
Selama bulan Januari 2011 Saimala mengadakan 4 kegiatan utama yaitu : Roadshow, Try-Out (simulasi SNMPTN), Bedah Kampus Universitas Indonesia, Gathering Saimala Ui (jalan-jalan ke pantai), dan Bakti Sosial. Kegiatan roadshow diadakan di lebih dari 58 SMA di 5 kabupaten di provinsi Lampung.
Roadshow ini diadakan pada tanggal 3-20 Januari 2011. Kegiatan ini berupa sosialisasi fakultas dan jurusan apa saja yang di UI serta jalur masuk ke UI. Selain itu, pada roadshow tahun ini, Saimala juga tidak lupa memberikan motivasi kepada teman-teman SMA untuk rajin belajar dan menjadi generasi yang cerdas sehingga dapat membangun bangsa ini.
Kegiatan selanjutnya adalah Try-Out. Kegiatan ini berupa simulasi SNMPTN untuk teman-teman SMA agar mereka terlatih untuk mengerjakan soal dengan situasi seperti SNMPTN sesungguhnya. Kegiatan Try-Out ini dihadiri oleh lebih dari 3400 peserta. Kegiatan Try-Out dan Bedah Kampus diadakan bersamaan pada tanggal 23 Januari 2011.
Pada kegiatan Bedah Kampus, Saimala mendirikan stand 12 Fakultas sehingga teman-teman SMA bisa bertanya lebih detil tentang jurusan-jurusan apa saja yang ada di UI. Selain mengadakan kegiatan untuk eksternal anggota Saimala, Saimala juga mengadakan gathering untuk pengakraban sesama anggotaa saimala. Kegiatan gathering tahun ini, diadakan di pantai Mutun di kota Bandar Lampung. Kegiatan yang terakhir adalah bakti sosial ke panti asuhan yang berada di kota Bandar Lampung. Pada bakti sosial kali ini, Saimala memberikan santunan dan bantuan untuk adik-adik yatim piatu.
MURTP (MANGGO UI Road to Probolinggo)
Sejak tahun 2002 tercatat hanya dua mahasiswa asal Probolinggo yang mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia (UI), bahkan pada tahun 2005 tidak ada satu pun siswa SMA di Probolinggo yang melanjutkan pendidikan di UI. Hingga pada tahun 2008, akumulasi seluruh mahasiswa UI asal Probolinggo terhitung sejumlah tujuh orang.
Angka ini cukup membesarkan hati para mahasiswa tersebut dan tercetus lah ide untuk membentuk paguyuban Mahasiswa Probolinggo Universitas Indonesia (MANGGO UI). Tujuh mahasiswa ini menjadi pelopor diadakannya roadshow sosialisasi mengenai UI pada siswa SMA kelas XII di Probolinggo. Berkat sosialisasi ini, jumlah mahasiswa asal Probolinggo menjadi dua kali lipat di tahun 2009.
Ide sosialisasi tersebut dikembangkan dari tahun ke tahun agar jumlah mahasiswa asal Probolinggo yang mengenyam pendidikan di UI semakin banyak. Awal Januari 2011 kemarin, MANGGO UI membuat sebuah gebrakan baru dalam sosialisasi UI di Probolinggo melalui acara MURTP (MANGGO UI Road to Probolinggo). Acara ini terdiri atas tiga kegiatan yakni Roadshow, Talkshow, dan Try Out. Roadshow diadakan di sembilan sekolah yang tersebar di kota dan kabupaten Probolinggo.
Selanjutnya, MANGGO UI mengadakan Talkshow bertema Knowing and Maximizing Your Potential dengan mahasiswa berprestasi FASILKOM 2010, Big Zaman, sebagai pembicara.
Acara terakhir merupakan Try Out Ujian Masuk Universitas yang bekerja sama dengan delapan paguyuban lain di Jawa serta Sumatra. Respon positif diberikan oleh siswa SMA maupun lembaga pemerintah di Probolinggo terhadap MURTP. Dengan adanya respon positif tersebut, diharapkan jumlah mahasiswa asal Probolinggo yang melanjutkan kuliah di UI naik secara signifikan sehingga banyak siswa SMA Probolinggo bisa mendapatkan pendidikan berkualitas di UI.
Kampus Goes to Kampuang 8 ( KGTK 8 ) IMAMI UI : Manyibak Kilau Nagari Ka Rantau
Pada tahun ke delapan pelaksanannya, Kampus Goes to Kampuang (KGTK) IMAMI UI mengusung tema manyibak kilau nagari ka rantau (membuka kilau kampung halaman ke rantau). Tema tersebut diurai dalam enam rangkaian acara yang dimulai pada tanggal 3 Januari sampai dengan 30 Januari 2011 yaitu Lomba Proposal Proyek, desain, dan Fotografi, Roadshow, Simulasi SNMPTN, SILAT (Studi Islam dan Adat), Bedah Kampus UI dan ditutup dengan acara Minangkabau Culture Festival (MCF). Sasaran dari seluruh rangkaian acara KGTK ini adalah siswa SMA/MA/sederajat di 16 Kota/Kabupaten se-Sumatera Barat.
Dimulai dengan Lomba Proposal Proyek, desain, dan Fotografi yang pendaftarannya telah dibuka dari bulan Oktober 2010. Lalu dilanjutkan dengan Roadshow berbagi informasi, motivasi, dan inspirasi ke 112 SMA/MA/sederajat pada 3-15 Januari. Untuk menguji kesiapan mereka dalam SNMPTN maka disambung dengan Simulasi SNMPTN pada 16 Januari.
Pendidikan karakter juga menjadi perhatian dari IMAMI UI, hal ini dibuktikan melalui SILAT yang diadakan di Kabupaten Padang Pariaman bagi para pengurus OSIS SMA/MA/sederajat pada 20-22 Januari. Sehari setelahnya 23 Januari di Kota Bukittinggi semarak KGTK 8 semakin berkibar dalam Bedah Kampus UI yang menghadirkan Anies Baswedan P,hd, Ahmad Syafiq P,hd, dan Bona Hutahean S,Psi. Akhirnya pada 28-30 Januari di Kota Padang Panjang gelaran KGTK 8 ditutup oleh Gubernur Sumatera Barat Prof. Irwan Prayitno dalam MCF yang sukses membangkitkan kembali kecintaan terhadap kebudayaan daerah.

Sunday, November 13, 2011

Taman Bacaan 'Palito Ilmu" Imami UI



Salah satu permasalahan besar di Indonesia yang hingga saat ini masih belum total pemecahannya adalah masalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini dibuktikan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia pada tahun 2011 yang mana Indonesia masih menempati peringkat ke-108 dari 177 negara di dunia. Masalah SDM ini dipicu oleh ketimpangan pembangunan di Indonesia. Sentralisasi yang terjadi di zaman orde baru membuat ketimpangan antara desa dan kota yang sangat tinggi. Meskipun sejak reformasi otonomi daerah sudah mulai diterapkan, akan tetapi nyatanya kualitas SDM yang ada pun belum siap sepenuhnya menghadapi otonomi daerah. Hal ini dibuktikan dengan munculnya raja-raja kecil di daerah-daerah dengan kasus korupsi.

Salah satu daerah di Indonesia yang mengalami permasalahan SDM yang cukup berat adalah Kabupaten Pesisir Selatan. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang cukup rendah kualitas penduduknya secara umum dibandingkan dengan 13 daerah tingkat dua lainnya di Provinsi Sumatera Barat. Hal ini terbukti dengan rendahnya ratio pendidikan penduduk, fasilitas kesehatan, dan masih rendahnya kesejahteraan khususnya dibidang pendapatan. (Azizon, 2009).

Bupati Pesisir Selatan, Nasrul Abit menyatakan bahwa selama ini Pesisir Selatan memang dinilai lemah dalam hal kualitas sumber daya manusia. Salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya mutu pendidikan serta masih tingginya angka putus sekolah. Pendidikan merupakan hal penentu bagi kemajuan suatu daerah, sehingga pembangunan SDM menjadi hal penting dan mendesak yang harus segera dilakukan dan terus ditingkatkan.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, ternyata angka putus sekolah salah satu penghambat percepatan pengentasan kemiskinan. Kemiskinan itu bertahan subur, karena tingkat pendidikan yang rendah. Ini bisa dilihat berdasarkan data yang ada. Sebab lebih dari 80 persen jumlah penduduk miskin itu, ternyata berasal dari mereka yang tidak mengenyam pendidikan hingga ke jenjang SMA.

Himpitan ekonomi memang salah satu penyebab penduduk miskin itu tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Jika itu masih terus berlangsung, sehingga secara turun temurun mata rantai kemiskinan itu tidak akan putus. Pemerintah setempat telah berupaya untuk memecahkan masalah ini. Salah satunya dengan diterapkannya program “Wajar (wajib belajar) 12 tahun” sejak tahun 2008. Namun upaya ini ternyata masih belum cukup maksimal karena subsidi yang diberikan pemerintah masih jauh dari cukup.

Kelemahan program Wajar 12 tahun oleh pemerintah setempat adalah program ini hanya berupa anjuran untuk mengikuti sekolah formal dengan bantuan subsidi yang sangat kecil. Hal ini membuat masyarakat tidak terlalu memperhatikan hal ini dan juga bahkan kecewa dengan subsidi yang sangat kecil. Tidak ada pencerdasan tentang arti penting pendidikan kepada masyarakat secara langsung. Padahal sebenarnya hal inilah yang paling dibutuhkan oleh masyarakat, dalam hal ini terutama penduduk dalam usia pelajar.

Etnis mayoritas di Pesisir Selatan sama seperti etnis utama di Sumatera Barat, yaitu Minangkabau. Kebudayaan Minangkabau memiliki sebuah potensi besar dalam sektor pendidikan. Potensi itu adalah keberadaan surau atau mesjid sebagai salah satu pranata sosial di masyarakat Minangkabau. Surau tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat pendidikan. Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai solusi atas masalah SDM yang terjadi di Pesisir Selatan.

Selama ini surau di Sumbar juga telah banyak kehilangan identitasnya akibat munculnya berbagai sekolah formal. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah, hanya saja surau di sini seharusnya mesti tetap memiliki peran di bidang pendidikan. Maka dari itu diperlukan upaya kreatif yang bisa menjadi solusi atas masalah SDM di Pesisir Selatan dan juga untuk mengembalikan peran surau di sektor pendidikan. Akhirnya penulis mencoba mengurai upaya kreatif tersebut dalam bentuk pendirian taman bacaan di surau dalam kemasan yang menarik sehingga memudahkan semua kalangan masyarakat dalam mengakses ilmu pengetahuan. 

Penulis memilih Nagari atau Kelurahan Kambang sebagai lokasi karena berdasarkan keterangan penduduk setempat kecamatan ini memiliki kondisi relatif paling parah dibanding kecamatan lain. Taman bacaan ini diberi nama “Palito Ilmu” Imami UI. “Palito Ilmu” berarti cahaya ilmu. Sedangkan Imami UI dikarenakan taman bacaan ini nanti dalam penyelenggaraannya akan bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Minang (Imami) UI yang memang memiliki kegiatan sosial rutin setiap tahun di Sumatera Barat.

Tulisan ini merupakan latar belakang dari proposal Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) untuk Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2012

Tuesday, August 9, 2011

Menekan Brain Drain Sumbar


Optimalisasi Peranan Organisasi Minangkabau Rantau Sebagai Upaya Akselerasi Otonomi Daerah Sumatera Barat Dan Menekan Laju Brain Drain Suku Minangkabau

Pola migrasi masyarakat Minangkabau yang berasal dari Sumatera Barat (Sumbar) setiap tahun menunjukkan tren kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 menunjukkan migrasi keluar Sumbar mendekati angka satu juta jiwa. Migrasi tersebut itu pun sudah menjadi sebuah brain drain karena sebagian besar mereka merupakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ini dibuktikan dengan jumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Sumbar mencapai angka 200 orang setiap tahunnya dan terus mengalami kenaikan. Meskipun dalam ajaran adat sebenarnya mereka diwajibkan untuk kembali ke kampung halaman, namun karena berbagai faktor sebagian besar diantara mereka tidak pernah kembali. Ini dibuktikan oleh migrasi netto Sumbar di tahun 2005 dari data BPS sejumlah minus 620.858.

Sementara itu dilain sisi program otonomi daerah yang digalakkan setelah reformasi belum banyak mengalami kemajuan karena rendahnya kualitas SDM yang mengelola. Yang dihasilkan malah berbagai kasus korupsi di berbagai daerah seperti di Padang tahun 2006, Padang Panjang, Pariaman, dan berbagai wilayah lain. Maka dari itu untuk menciptakan akselerasi otonomi daerah dan menekan laju brain drain yang terjadi di Sumatera Barat sangat dibutuhkan sekali SDM-SDM yang handal dan berkualitas untuk dapat mengelola otonomi daerah tersebut.

Keberadaan organisasi minang rantau yang menjamur hampir di seluruh Indonesia bahkan dunia memiliki potensi besar untuk menjawab permasalahan di atas. Ada begitu banyak organisasi tersebut, di Jabodetabek saja bahkan mencapai sekitar 200 organisasi. Namun belum semuanya mampu berjalan dengan baik atau bahkan mati. Hal ini diakibatkan kurangnya koordinasi antar mereka dan perhatian dari pemerintah provinsi (pemprov). Padahal semua memiliki tujuan yang sama yaitu memajukan nagari untuk negeri.

Maka dari itu dibutuhkan sebuah gerakan bersama antar semua organisasi tersebut bekerja sama dengan pemprov maupun organisasi minang lain yang ada di Sumbar. Tahapan pertama dimulai dengan langkah konsolidasi terlebih dahulu yang dikelola oleh pemprov. Pada mubes tersebutlah ditentukan rancangan yang mengatur tahapan-tahapan selanjutnya.
Tahapan kedua yaitu melakukan kajian terhadap apa saja permasalahan strategis yang ada di daerah. Permasalahan tersebut dikaji secara komprehensif dan diurut menggunakan skala prioritas mana yang dianggap paling penting dan mendesak.

Setelah usai mengkaji permasalahan tersebut maka hasilnya akan dapat digunakan untuk masuk ke tahapan selanjutnya yaitu penyatuan visi. Berdasarkan kepada rumusan permasalahan yang ada di daerah tadi maka dapat disatukan sebuah visi bersama yang akan menjadi sasaran utama dari pergerakan ini. Dari visi tersebut kita mengurai tahapan selanjutnya yaitu penetapan target. Penetapan target ini tentu berdasarkan skala prioritas yang telah disusun di tahapan kedua tadi. Target-target yang dibuat harus realistis dan terukur.

Tahapan keempat dilanjutkan dengan pembagian peran.Penetapan target tadi menjadi landasan utama dalam pembagian peran. Setiap target yang telah ditetapkan harus memiliki penanggung jawab.Setelah semuanya selesai maka yang jauh lebih penting dari semua hal yang bersifat perencanaan di atas adalah implementasinya. Bagaimana gerakan akselerasi otonomi daerah ini dapat terwujud tentunya yang paling penting dibutuhkan adalah konsistensi terhadap komitmen dari semua pihak yang terlibat. Konsistensi terhadap komitmen adalah kunci keberhasilan dari apa pun jenis gerakan.

Gerakan akselerasi otonomi daerah ini tentu memiliki peluang dan tantangan dalam implementasinya. Peluangnya adalah banyaknya jumlah organisasi minang rantau tersebut dan adanya perhatian terhadap mereka mekipun belum besar dan menyeluruh. Selain itu potensi alam, laut, pariwisata, dan berbagai sektor lainnnya di Sumbar juga sangat potensial untuk dikembangkan. Dibutuhkan banyak tenaga ahli yang terampil dan kreatif untuk mampu mengekplorasi semua itu. Adapun tantangan yang dihadapi adalah karakter orang Minang yang egaliter dan agak susak untuk diatur. Sehingganya untuk menyatukan ratusan jumlah organisasi tersebut ke dalam satu gerakan bersama tentu cukup sulit. Namun bukan berarti hal ini tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan pendekatan personal yang konsisten dan kesabaran serta konsistensi terhadap komitmen tadi maka semua itu tidak akan lagi jadi masalah.

Gerakan akselerasi otonomi daerah ini harus memiliki perhatian utama di bidang pendidikan. Karena bidang ini merupakan sektor sentral yang sangat berpengaruh besar terhadap masa depan bangsa. Brain drain muncul dimulai dari sektor pendidikan, ketika kualitas pendidikan di Sumbar dirasa kurang berkualitas bagi mereka para pelajar maka akhirnya mereka lebih memilih untuk menikmati pendidikan yang lebih baik di luar Sumbar.

Maka dari itu gerakan ini harus secepat mungkin memberikan perhatian besar di bidang pendidikan di Sumbar. Melalui hal ini kita dapat memperbaiki sistem yang menentukan kualitas pendidikan nantinya. Dengan begitu maka akan tercipta sistem pendidikan yang lebih baik dan para pelajar pun tidak perlu lagi jauh-jauh mencari pendidikan yang berkualitas. Akhinya laju brain drain pun dapat ditekan dan mereka juga memiliki peluang dan kesempatan lebih besar untuk ikut serta dalam gerakan akselerasi otonomi daerah.

Abstrak Karya Tulis Ilmiah ini meraih peringkat 9 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Geografi yang diselenggarakan oleh Undhiksa (Universitas Pendidikan Ganesha) Bali.

Padang Kota Tercinta..Padang Kota Terlunta..

Rabu, 30 September 2009. Hari itu tidak ada pertanda aneh yang atau pun semacam isyarat asing yang menyelimutiku. Sampai akhirnya ketika magrib menjelang aku beranjak dari perpustakaan kampus kuning itu aku terhenti sejenak ketika melewati bagian registrasi. Sebuah televisi tua yang bertengger di atas sebuah lemari menyiarkan liputan berita tentang kepanikan yang terjadi di Kota Padang Sumatera Barat. Ya beberapa jam yang lalu sekitar pukul empat sore telah terjadi gempa bumi berskala 7,9 skala richter yang mengguncang Kota Padang dan Pariaman di Sumatera Barat.

Hanya baru itu sepenggal berita yang kudapatkan dari liputan berita di televisi tadi. Dadaku pun bergemuruh, segudang kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti pikiranku saat itu. Tiga hari yang lalu aku baru saja meninggalkan kota itu melanjutkan mimpi-mimpi perubahanku. Namun hari ini aku mendengar berita kehancuran kota kelahiranku itu. Orang-orang tercinta yang kumiliki menetap di kota itu. Kedua orang tuaku, adik kandungku, sahabat-sahabat terbaikku, dan sejuta kenanganku telah larut bersama kota itu.

Aku pun melanjutkan perjalanan dari perpustakaan itu menuju halte bus kampus untuk segera pulang ke asrama tempatku menetap. Sepanjang perjalanan pikiranku pun diselimuti berbagai kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi pada mereka : orang-orang tercintaku. Aku pun mencoba menghubungi mereka melalui handphone, namun ternyata gempa bumi tersebut telah merusak koneksi operator banyak provider sehingga aku pun belum dapat menghubungi mereka.

Aku tidak menyerah, aku mencoba menghubungi kakakku yang berada di Batam. Ternyata ia telah berhasil menghubungi orang tuaku melalui salah satu provider handphone yang koneksinya masih baik. Alhamdulillah ternyata mereka semua dalam keadaan selamat, hanya saja kondisi rumahku dihiasi berbagai retakan cukup parah di berbagai sisi. Pikiranku pun sedikit mulai tenang sambil terus berharap dampak dari bencana yang terjadi tidak terlalu parah.

Di atas bus kampus yang aku naiki beberapa orang mulai terdengar membicarakan gempa bumi yang terjadi. Berbagai berita simpang siur terus menyebar di bus itu. Aku masih tetap diam mencoba mengumpulkan informasi dari mereka. Sesampai di asrama aku pun langsung menghampiri kamar teman-temanku yang berasal dari satu daerah. Ternyata mereka telah berkumpul di salah satu kamar dan sedang sibuk mencoba menghubungi keluarga masing-masing. Suasana kamar itu diliputi kecemasan dan ketakutan, ini tergambar dari raut wajah mereka yang biasanya riang dan ceria kali ini sangat bertolak belakang.

Kami pun memulai perbincangan dengan bertukar informasi tentang kondisi terakhir yang diketahui tentang kota kelahiran kami itu. Usai itu aku bertolak ke kamarku dan mengukir perasaanku dalam tulisan.

Peradaban yang menawan..
Kehidupan yang mapan..
Nyawa-nyawa yang merasa aman..
Jiwa-jiwa yang terkubur oleh kesombongan..
Raga-raga yang tersesat dalam khayalan..

Tersentak
Terhenyak..
Oleh tarian gerak..
Hitungan detik yang berdetak..
Peradaban luluh lantak..
Kehidupan terkoyak..
Nyawa-nyawa terserak..
Raga-raga bersorak..

Teriakan ketakutan..
Suara kecemasan..
Jeritan..tangisan..
Terakumulasi sejalan dengan..

Konstruksi yang takluk..
Fondasi yang ambruk..
Arsitektur yang terpuruk..
Serta..puing yang remuk..
Menuai fakta terburuk..

Jasad terbentang tersurat..
Nafas lenyap tersirat..
Darah merambat..
Perlahan bereaksi..menjadi..mayat..
Nurani tersayat..

Semua seakan tidak berharga..
Ratusan..bahkan ribuan..melayang percuma..
Jutaan..bahkan miliaran..rupiah sirna..

Tiada lagi yang menawan..
Habis sudah kemapanan..
Terkikis rasa aman..
Tamatlah kesombongan..
Berakhir juga khayalan..

Hanya dalam sesaat masa..sekejap mata..

Azab atau peringatan…
Mari kita renungkan…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kisah Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)

Friday, December 10, 2010

Diskusi Publik: Proyeksi Pembangunan Sumatera Barat Pasca Bencana


Kajian D2KI ( Diskusi dan Kajian Ilmiah ) IMAMI UI yang bertema “ Proyeksi Pembangunan Sumatera Barat (Sumbar) Pasca Bencana”, tema ini dipicu oleh munculnya Surat Terbuka yang ditujukan kepada Presiden RI dari Warga Sumbar yang beredar di internet. Kajian ini terbuka untuk umum dan membahas tema dikaji dari dua aspek yaitu aspek sains dan sosial politik. Aspek sains membahas mengenai potensi-potensi bencana yang dimiliki Sumbar ditinjau dari kondisi geografis. Sedangkan aspek sosial politik meliputi sejauh mana upaya pemerintah dalam menangani masalah bencana apa saja kebijakan-kebijakan strategis pemerintah terkait mitigasi bencana di Sumbar.

Jumat 10 Desember 2010, 19.30-22,00
@gazebo asrama UI

Narasumber
1. Hj Emma Yohana (anggota DPD RI)*
2. H Refrizal (anggota komisi VI DPR RI)*
3. Andry Rustanto S,Si. M,Sc.

info :
cp : angga wp- 085274422354
http://www.facebook.com/home.php?#!/event.php?eid=129420090450621
http://www.facebook.com/home.php?#!/photo.php?fbid=10150133337123084&set=a.10150133336623084.329540.59068573083

Friday, December 3, 2010

Kajian Keislaman IMAMI UI: Syariah Islam dalam Ke-bhinekaan


Dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1432 H Divisi Keislaman IMAMI UI menggelar sebuah kajian membahas seputar kondisi umat Islam dan di Indonesia dan eksistensinya dalam aroma perbedaan yang kental dalam kehidupan bernegara.

Sabtu, 4 Desember 2010
08-00-09.30 AM
MUI UI Depok.

informasi lebih lengkap kunjungi

http://www.facebook.com/event.php?eid=114983978568820&index=1

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150129059908084&set=a.10150129059613084.327165.59068573083

Thursday, October 28, 2010

Peduli Tsunami Mentawai-SOSMAS IMAMI UI

Gempa bumi kembali melanda mentawai pada Senin (25/10/2010) malam. Lokasi gempa berada di 78 km barat daya Pagai Selatan Mentawai, Sumatera Barat, dengan kedalaman 10 km. Tidak hanya di Sumatera Barat, gempa juga dirasakan sampai ke Singapra.
Gempa yang disusul tsunami tersebut mendatangkan kerugian yang sangat besar. Jumlah korban tewas akibat gempa 7,2 SR dan tsunami yang melanda Pulau Pagai, yang telah terdata hingga Rabu, pukul 18.10 WIB di Data Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat mencapai 282 korban.. Sedangkan jumlah warga hilang yang belum ditemukan dilaporkan 411 orang. Kemudian jumlah korban luka berat tercatat 77 orang dan luka ringan 25 orang. Jumlah rumah warga yang rusak berat dan yang hilang diseret tsunami terdata sebanyak 426 unit dan yang rusak ringan 200 orang. Gempa 7,2 SR diikuti tsunami melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai dan sejumlah wilayah lainnya di Sumbar. (Sumber: kompas.com dan detiknews.com)

ULURAN TANGAN ANDA SANGAT DIBUTUHKAN

Salurkan bantuan anda ke rekening BNI di bawah ini:
a.n MUHAMMAD HANIF
0201355944
Kantor Cabang UI Depok

Bantuan anda akan langsung disalurkan oleh IMAMI UI kepada korban gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat