| Sala Lauak |
Friday, April 3, 2015
Jangan Ngaku Pecinta Masakan Padang Kalo Belum Nyobain ini : Sala Lauak!
Apa Kabar Gaji PNS di Sumbar?
![]() |
| pemerintah.net |
Wednesday, February 11, 2015
Pasang Surut Wacana Daerah Istimewa Minangkabau
![]() |
| Istana Pagaruyuang di Batusangka, Sumbar (www.theguardian.com) |
Bayangan Menghilang di Kampung Tuanku Imam Bonjol!
![]() |
| Bayangannya berada tepat di bawah benda (sugianto-industri.blogspot.com ) |
Sunday, September 7, 2014
Stigma Racun
Friday, September 13, 2013
(Masih) Samo-Samo Karajo
Sunday, June 23, 2013
Islam’s Secret Feminists
Sunday, April 15, 2012
Sejarah Ikatan Mahasiswa Minang Universitas Indonesia (IMAMI UI)
Seribu Mahasiswa dari Sumatera Barat di UI: Dinamika IMAMI UI
Gerakan Paguyuban Daerah di UI untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Formasi Delta UI merupakan paguyuban daerah yang baru terbentuk 5 november 2009. Mereka menggelar Roadshow “Ayo Berani Masuk UI” di sembilan SMA Se-Sidoarjo dan menyebar poster-booklet tentang UI ke lembaga bimbingan belajar dan sekolah-sekolah lainnya.
Selama bulan Januari 2011 Saimala mengadakan 4 kegiatan utama yaitu : Roadshow, Try-Out (simulasi SNMPTN), Bedah Kampus Universitas Indonesia, Gathering Saimala Ui (jalan-jalan ke pantai), dan Bakti Sosial. Kegiatan roadshow diadakan di lebih dari 58 SMA di 5 kabupaten di provinsi Lampung.
Sejak tahun 2002 tercatat hanya dua mahasiswa asal Probolinggo yang mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia (UI), bahkan pada tahun 2005 tidak ada satu pun siswa SMA di Probolinggo yang melanjutkan pendidikan di UI. Hingga pada tahun 2008, akumulasi seluruh mahasiswa UI asal Probolinggo terhitung sejumlah tujuh orang.
Pada tahun ke delapan pelaksanannya, Kampus Goes to Kampuang (KGTK) IMAMI UI mengusung tema manyibak kilau nagari ka rantau (membuka kilau kampung halaman ke rantau). Tema tersebut diurai dalam enam rangkaian acara yang dimulai pada tanggal 3 Januari sampai dengan 30 Januari 2011 yaitu Lomba Proposal Proyek, desain, dan Fotografi, Roadshow, Simulasi SNMPTN, SILAT (Studi Islam dan Adat), Bedah Kampus UI dan ditutup dengan acara Minangkabau Culture Festival (MCF). Sasaran dari seluruh rangkaian acara KGTK ini adalah siswa SMA/MA/sederajat di 16 Kota/Kabupaten se-Sumatera Barat.
Sunday, November 13, 2011
Taman Bacaan 'Palito Ilmu" Imami UI
Salah satu permasalahan besar di Indonesia yang hingga saat ini masih belum total pemecahannya adalah masalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini dibuktikan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia pada tahun 2011 yang mana Indonesia masih menempati peringkat ke-108 dari 177 negara di dunia. Masalah SDM ini dipicu oleh ketimpangan pembangunan di Indonesia. Sentralisasi yang terjadi di zaman orde baru membuat ketimpangan antara desa dan kota yang sangat tinggi. Meskipun sejak reformasi otonomi daerah sudah mulai diterapkan, akan tetapi nyatanya kualitas SDM yang ada pun belum siap sepenuhnya menghadapi otonomi daerah. Hal ini dibuktikan dengan munculnya raja-raja kecil di daerah-daerah dengan kasus korupsi.
Salah satu daerah di Indonesia yang mengalami permasalahan SDM yang cukup berat adalah Kabupaten Pesisir Selatan. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang cukup rendah kualitas penduduknya secara umum dibandingkan dengan 13 daerah tingkat dua lainnya di Provinsi Sumatera Barat. Hal ini terbukti dengan rendahnya ratio pendidikan penduduk, fasilitas kesehatan, dan masih rendahnya kesejahteraan khususnya dibidang pendapatan. (Azizon, 2009).
Bupati Pesisir Selatan, Nasrul Abit menyatakan bahwa selama ini Pesisir Selatan memang dinilai lemah dalam hal kualitas sumber daya manusia. Salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya mutu pendidikan serta masih tingginya angka putus sekolah. Pendidikan merupakan hal penentu bagi kemajuan suatu daerah, sehingga pembangunan SDM menjadi hal penting dan mendesak yang harus segera dilakukan dan terus ditingkatkan.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, ternyata angka putus sekolah salah satu penghambat percepatan pengentasan kemiskinan. Kemiskinan itu bertahan subur, karena tingkat pendidikan yang rendah. Ini bisa dilihat berdasarkan data yang ada. Sebab lebih dari 80 persen jumlah penduduk miskin itu, ternyata berasal dari mereka yang tidak mengenyam pendidikan hingga ke jenjang SMA.
Himpitan ekonomi memang salah satu penyebab penduduk miskin itu tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Jika itu masih terus berlangsung, sehingga secara turun temurun mata rantai kemiskinan itu tidak akan putus. Pemerintah setempat telah berupaya untuk memecahkan masalah ini. Salah satunya dengan diterapkannya program “Wajar (wajib belajar) 12 tahun” sejak tahun 2008. Namun upaya ini ternyata masih belum cukup maksimal karena subsidi yang diberikan pemerintah masih jauh dari cukup.
Kelemahan program Wajar 12 tahun oleh pemerintah setempat adalah program ini hanya berupa anjuran untuk mengikuti sekolah formal dengan bantuan subsidi yang sangat kecil. Hal ini membuat masyarakat tidak terlalu memperhatikan hal ini dan juga bahkan kecewa dengan subsidi yang sangat kecil. Tidak ada pencerdasan tentang arti penting pendidikan kepada masyarakat secara langsung. Padahal sebenarnya hal inilah yang paling dibutuhkan oleh masyarakat, dalam hal ini terutama penduduk dalam usia pelajar.
Etnis mayoritas di Pesisir Selatan sama seperti etnis utama di Sumatera Barat, yaitu Minangkabau. Kebudayaan Minangkabau memiliki sebuah potensi besar dalam sektor pendidikan. Potensi itu adalah keberadaan surau atau mesjid sebagai salah satu pranata sosial di masyarakat Minangkabau. Surau tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat pendidikan. Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai solusi atas masalah SDM yang terjadi di Pesisir Selatan.
Selama ini surau di Sumbar juga telah banyak kehilangan identitasnya akibat munculnya berbagai sekolah formal. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah, hanya saja surau di sini seharusnya mesti tetap memiliki peran di bidang pendidikan. Maka dari itu diperlukan upaya kreatif yang bisa menjadi solusi atas masalah SDM di Pesisir Selatan dan juga untuk mengembalikan peran surau di sektor pendidikan. Akhirnya penulis mencoba mengurai upaya kreatif tersebut dalam bentuk pendirian taman bacaan di surau dalam kemasan yang menarik sehingga memudahkan semua kalangan masyarakat dalam mengakses ilmu pengetahuan.
Penulis memilih Nagari atau Kelurahan Kambang sebagai lokasi karena berdasarkan keterangan penduduk setempat kecamatan ini memiliki kondisi relatif paling parah dibanding kecamatan lain. Taman bacaan ini diberi nama “Palito Ilmu” Imami UI. “Palito Ilmu” berarti cahaya ilmu. Sedangkan Imami UI dikarenakan taman bacaan ini nanti dalam penyelenggaraannya akan bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Minang (Imami) UI yang memang memiliki kegiatan sosial rutin setiap tahun di Sumatera Barat.
Tulisan ini merupakan latar belakang dari proposal Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) untuk Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2012
Tuesday, August 9, 2011
Menekan Brain Drain Sumbar
Optimalisasi Peranan Organisasi Minangkabau Rantau Sebagai Upaya Akselerasi Otonomi Daerah Sumatera Barat Dan Menekan Laju Brain Drain Suku Minangkabau
Pola migrasi masyarakat Minangkabau yang berasal dari Sumatera Barat (Sumbar) setiap tahun menunjukkan tren kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 menunjukkan migrasi keluar Sumbar mendekati angka satu juta jiwa. Migrasi tersebut itu pun sudah menjadi sebuah brain drain karena sebagian besar mereka merupakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ini dibuktikan dengan jumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Sumbar mencapai angka 200 orang setiap tahunnya dan terus mengalami kenaikan. Meskipun dalam ajaran adat sebenarnya mereka diwajibkan untuk kembali ke kampung halaman, namun karena berbagai faktor sebagian besar diantara mereka tidak pernah kembali. Ini dibuktikan oleh migrasi netto Sumbar di tahun 2005 dari data BPS sejumlah minus 620.858.
Sementara itu dilain sisi program otonomi daerah yang digalakkan setelah reformasi belum banyak mengalami kemajuan karena rendahnya kualitas SDM yang mengelola. Yang dihasilkan malah berbagai kasus korupsi di berbagai daerah seperti di Padang tahun 2006, Padang Panjang, Pariaman, dan berbagai wilayah lain. Maka dari itu untuk menciptakan akselerasi otonomi daerah dan menekan laju brain drain yang terjadi di Sumatera Barat sangat dibutuhkan sekali SDM-SDM yang handal dan berkualitas untuk dapat mengelola otonomi daerah tersebut.
Keberadaan organisasi minang rantau yang menjamur hampir di seluruh Indonesia bahkan dunia memiliki potensi besar untuk menjawab permasalahan di atas. Ada begitu banyak organisasi tersebut, di Jabodetabek saja bahkan mencapai sekitar 200 organisasi. Namun belum semuanya mampu berjalan dengan baik atau bahkan mati. Hal ini diakibatkan kurangnya koordinasi antar mereka dan perhatian dari pemerintah provinsi (pemprov). Padahal semua memiliki tujuan yang sama yaitu memajukan nagari untuk negeri.
Maka dari itu dibutuhkan sebuah gerakan bersama antar semua organisasi tersebut bekerja sama dengan pemprov maupun organisasi minang lain yang ada di Sumbar. Tahapan pertama dimulai dengan langkah konsolidasi terlebih dahulu yang dikelola oleh pemprov. Pada mubes tersebutlah ditentukan rancangan yang mengatur tahapan-tahapan selanjutnya.
Tahapan kedua yaitu melakukan kajian terhadap apa saja permasalahan strategis yang ada di daerah. Permasalahan tersebut dikaji secara komprehensif dan diurut menggunakan skala prioritas mana yang dianggap paling penting dan mendesak.
Setelah usai mengkaji permasalahan tersebut maka hasilnya akan dapat digunakan untuk masuk ke tahapan selanjutnya yaitu penyatuan visi. Berdasarkan kepada rumusan permasalahan yang ada di daerah tadi maka dapat disatukan sebuah visi bersama yang akan menjadi sasaran utama dari pergerakan ini. Dari visi tersebut kita mengurai tahapan selanjutnya yaitu penetapan target. Penetapan target ini tentu berdasarkan skala prioritas yang telah disusun di tahapan kedua tadi. Target-target yang dibuat harus realistis dan terukur.
Tahapan keempat dilanjutkan dengan pembagian peran.Penetapan target tadi menjadi landasan utama dalam pembagian peran. Setiap target yang telah ditetapkan harus memiliki penanggung jawab.Setelah semuanya selesai maka yang jauh lebih penting dari semua hal yang bersifat perencanaan di atas adalah implementasinya. Bagaimana gerakan akselerasi otonomi daerah ini dapat terwujud tentunya yang paling penting dibutuhkan adalah konsistensi terhadap komitmen dari semua pihak yang terlibat. Konsistensi terhadap komitmen adalah kunci keberhasilan dari apa pun jenis gerakan.
Gerakan akselerasi otonomi daerah ini tentu memiliki peluang dan tantangan dalam implementasinya. Peluangnya adalah banyaknya jumlah organisasi minang rantau tersebut dan adanya perhatian terhadap mereka mekipun belum besar dan menyeluruh. Selain itu potensi alam, laut, pariwisata, dan berbagai sektor lainnnya di Sumbar juga sangat potensial untuk dikembangkan. Dibutuhkan banyak tenaga ahli yang terampil dan kreatif untuk mampu mengekplorasi semua itu. Adapun tantangan yang dihadapi adalah karakter orang Minang yang egaliter dan agak susak untuk diatur. Sehingganya untuk menyatukan ratusan jumlah organisasi tersebut ke dalam satu gerakan bersama tentu cukup sulit. Namun bukan berarti hal ini tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan pendekatan personal yang konsisten dan kesabaran serta konsistensi terhadap komitmen tadi maka semua itu tidak akan lagi jadi masalah.
Gerakan akselerasi otonomi daerah ini harus memiliki perhatian utama di bidang pendidikan. Karena bidang ini merupakan sektor sentral yang sangat berpengaruh besar terhadap masa depan bangsa. Brain drain muncul dimulai dari sektor pendidikan, ketika kualitas pendidikan di Sumbar dirasa kurang berkualitas bagi mereka para pelajar maka akhirnya mereka lebih memilih untuk menikmati pendidikan yang lebih baik di luar Sumbar.
Maka dari itu gerakan ini harus secepat mungkin memberikan perhatian besar di bidang pendidikan di Sumbar. Melalui hal ini kita dapat memperbaiki sistem yang menentukan kualitas pendidikan nantinya. Dengan begitu maka akan tercipta sistem pendidikan yang lebih baik dan para pelajar pun tidak perlu lagi jauh-jauh mencari pendidikan yang berkualitas. Akhinya laju brain drain pun dapat ditekan dan mereka juga memiliki peluang dan kesempatan lebih besar untuk ikut serta dalam gerakan akselerasi otonomi daerah.
Abstrak Karya Tulis Ilmiah ini meraih peringkat 9 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Geografi yang diselenggarakan oleh Undhiksa (Universitas Pendidikan Ganesha) Bali.
Padang Kota Tercinta..Padang Kota Terlunta..
Hanya baru itu sepenggal berita yang kudapatkan dari liputan berita di televisi tadi. Dadaku pun bergemuruh, segudang kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti pikiranku saat itu. Tiga hari yang lalu aku baru saja meninggalkan kota itu melanjutkan mimpi-mimpi perubahanku. Namun hari ini aku mendengar berita kehancuran kota kelahiranku itu. Orang-orang tercinta yang kumiliki menetap di kota itu. Kedua orang tuaku, adik kandungku, sahabat-sahabat terbaikku, dan sejuta kenanganku telah larut bersama kota itu.
Aku pun melanjutkan perjalanan dari perpustakaan itu menuju halte bus kampus untuk segera pulang ke asrama tempatku menetap. Sepanjang perjalanan pikiranku pun diselimuti berbagai kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi pada mereka : orang-orang tercintaku. Aku pun mencoba menghubungi mereka melalui handphone, namun ternyata gempa bumi tersebut telah merusak koneksi operator banyak provider sehingga aku pun belum dapat menghubungi mereka.
Aku tidak menyerah, aku mencoba menghubungi kakakku yang berada di Batam. Ternyata ia telah berhasil menghubungi orang tuaku melalui salah satu provider handphone yang koneksinya masih baik. Alhamdulillah ternyata mereka semua dalam keadaan selamat, hanya saja kondisi rumahku dihiasi berbagai retakan cukup parah di berbagai sisi. Pikiranku pun sedikit mulai tenang sambil terus berharap dampak dari bencana yang terjadi tidak terlalu parah.
Di atas bus kampus yang aku naiki beberapa orang mulai terdengar membicarakan gempa bumi yang terjadi. Berbagai berita simpang siur terus menyebar di bus itu. Aku masih tetap diam mencoba mengumpulkan informasi dari mereka. Sesampai di asrama aku pun langsung menghampiri kamar teman-temanku yang berasal dari satu daerah. Ternyata mereka telah berkumpul di salah satu kamar dan sedang sibuk mencoba menghubungi keluarga masing-masing. Suasana kamar itu diliputi kecemasan dan ketakutan, ini tergambar dari raut wajah mereka yang biasanya riang dan ceria kali ini sangat bertolak belakang.
Kami pun memulai perbincangan dengan bertukar informasi tentang kondisi terakhir yang diketahui tentang kota kelahiran kami itu. Usai itu aku bertolak ke kamarku dan mengukir perasaanku dalam tulisan.
Peradaban yang menawan..
Kehidupan yang mapan..
Nyawa-nyawa yang merasa aman..
Jiwa-jiwa yang terkubur oleh kesombongan..
Raga-raga yang tersesat dalam khayalan..
Tersentak
Terhenyak..
Oleh tarian gerak..
Hitungan detik yang berdetak..
Peradaban luluh lantak..
Kehidupan terkoyak..
Nyawa-nyawa terserak..
Raga-raga bersorak..
Teriakan ketakutan..
Suara kecemasan..
Jeritan..tangisan..
Terakumulasi sejalan dengan..
Konstruksi yang takluk..
Fondasi yang ambruk..
Arsitektur yang terpuruk..
Serta..puing yang remuk..
Menuai fakta terburuk..
Jasad terbentang tersurat..
Nafas lenyap tersirat..
Darah merambat..
Perlahan bereaksi..menjadi..mayat..
Nurani tersayat..
Semua seakan tidak berharga..
Ratusan..bahkan ribuan..melayang percuma..
Jutaan..bahkan miliaran..rupiah sirna..
Tiada lagi yang menawan..
Habis sudah kemapanan..
Terkikis rasa aman..
Tamatlah kesombongan..
Berakhir juga khayalan..
Hanya dalam sesaat masa..sekejap mata..
Azab atau peringatan…
Mari kita renungkan…
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kisah Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)
Friday, December 10, 2010
Diskusi Publik: Proyeksi Pembangunan Sumatera Barat Pasca Bencana

Kajian D2KI ( Diskusi dan Kajian Ilmiah ) IMAMI UI yang bertema “ Proyeksi Pembangunan Sumatera Barat (Sumbar) Pasca Bencana”, tema ini dipicu oleh munculnya Surat Terbuka yang ditujukan kepada Presiden RI dari Warga Sumbar yang beredar di internet. Kajian ini terbuka untuk umum dan membahas tema dikaji dari dua aspek yaitu aspek sains dan sosial politik. Aspek sains membahas mengenai potensi-potensi bencana yang dimiliki Sumbar ditinjau dari kondisi geografis. Sedangkan aspek sosial politik meliputi sejauh mana upaya pemerintah dalam menangani masalah bencana apa saja kebijakan-kebijakan strategis pemerintah terkait mitigasi bencana di Sumbar.
Jumat 10 Desember 2010, 19.30-22,00
@gazebo asrama UI
Narasumber
1. Hj Emma Yohana (anggota DPD RI)*
2. H Refrizal (anggota komisi VI DPR RI)*
3. Andry Rustanto S,Si. M,Sc.
info :
cp : angga wp- 085274422354
http://www.facebook.com/home.php?#!/event.php?eid=129420090450621
http://www.facebook.com/home.php?#!/photo.php?fbid=10150133337123084&set=a.10150133336623084.329540.59068573083
Friday, December 3, 2010
Kajian Keislaman IMAMI UI: Syariah Islam dalam Ke-bhinekaan

Dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1432 H Divisi Keislaman IMAMI UI menggelar sebuah kajian membahas seputar kondisi umat Islam dan di Indonesia dan eksistensinya dalam aroma perbedaan yang kental dalam kehidupan bernegara.
Sabtu, 4 Desember 2010
08-00-09.30 AM
MUI UI Depok.
informasi lebih lengkap kunjungi
http://www.facebook.com/event.php?eid=114983978568820&index=1
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150129059908084&set=a.10150129059613084.327165.59068573083
Thursday, October 28, 2010
Peduli Tsunami Mentawai-SOSMAS IMAMI UI
Gempa bumi kembali melanda mentawai pada Senin (25/10/2010) malam. Lokasi gempa berada di 78 km barat daya Pagai Selatan Mentawai, Sumatera Barat, dengan kedalaman 10 km. Tidak hanya di Sumatera Barat, gempa juga dirasakan sampai ke Singapra.
Gempa yang disusul tsunami tersebut mendatangkan kerugian yang sangat besar. Jumlah korban tewas akibat gempa 7,2 SR dan tsunami yang melanda Pulau Pagai, yang telah terdata hingga Rabu, pukul 18.10 WIB di Data Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat mencapai 282 korban.. Sedangkan jumlah warga hilang yang belum ditemukan dilaporkan 411 orang. Kemudian jumlah korban luka berat tercatat 77 orang dan luka ringan 25 orang. Jumlah rumah warga yang rusak berat dan yang hilang diseret tsunami terdata sebanyak 426 unit dan yang rusak ringan 200 orang. Gempa 7,2 SR diikuti tsunami melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai dan sejumlah wilayah lainnya di Sumbar. (Sumber: kompas.com dan detiknews.com)
ULURAN TANGAN ANDA SANGAT DIBUTUHKAN
Salurkan bantuan anda ke rekening BNI di bawah ini:
a.n MUHAMMAD HANIF
0201355944
Kantor Cabang UI Depok
Bantuan anda akan langsung disalurkan oleh IMAMI UI kepada korban gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat







