Showing posts with label Sains Terapan. Show all posts
Showing posts with label Sains Terapan. Show all posts

Saturday, July 1, 2017

Why do we need social scientists in environmental research?


Risk governance framework

There are many environmental challenges which are threatening ecosystem and global biodiversity. Environmental issue is an interdisciplinary topic which has complex interaction between human with nature system. It has substantive uncertainty and strategic-institutional uncertainty among the stakeholders. Scientific research is required to manage risk of the uncertainties. Scientists have to collaborate in interdisciplinary research to solve wicked environmental problems. Interdisciplinary research generally refers to the process of coordination, collaboration, or investigation by researchers are combined into a public issue with sharing, invention, and knowledge mix between disciplines.

The social sciences research produces strong output that contributes to environmental studies. Social scientists are studying humans in some form or another, this output is required to produce various kinds of socially robust knowledge to address environmental issues. Consequently, it creates potential for knowledge transfer and scalability, praxis planning and policy-making bridges to implement solution for the problems. Scientific research on societal environmental issues requires a full collaborative role of social scientists. 

Friday, June 9, 2017

Fragmented climate governance in Indonesia



Fragmentation theory focuses on interaction among different institutions on the architecture of an institutional setting. Competition among different national entities resulting in fragmentation reflects the persistence of domestic power relations.
This situation is happening with climate governance in Indonesia, which includes different cases from various institutions and platforms. One such case is the biogas program as one of the climate change mitigation strategies in the Nationally Appropriate Mitigation Action. This climate governance involves NGOs, local and national governments, businesses and international development organizations. 

Wednesday, February 8, 2017

Enabling opportunities to diversify farmers' livelihoods: Blending adaptation and mitigation practice





It is not difficult to source biogas technology. BIRU programmes in partnership with the government and private sector are currently expanding their effort to deliver the biogas to the last mile in order to enable local farmers to increase their adaptive capacity.

Biogas acts as a means of waste alleviation and management, preventing pollution, and enabling a healthy environment for farming communities. The biogas produced from anaerobic digestion can be used in this concept with manure as main feedstock, since this technology is already widely distributed. Bioslurry can also be produced as a side product of the biogas, and can be used as an organic fertilizer on the coffee plantation. A positive impact of this approach is that it reduces reliance on artificial fertilizers, resulting in more sustainable agricultural practice. With the help of the coffee community to increase demand, the concept can make biogas more accessible and make a real, positive impact on the reduction of greenhouse gas emissions.

Monday, October 3, 2016

Investment planning for energy-agriculture nexus




15th WREC (World Renewable Energy Congress) took place at the Jakarta International Convention Center in Indonesia on 19-23 September alongside the Indonesia Renewable Energy and Energy Conservation Summit 2016. It was attended by 457 participants, comprising Indonesians and foreigners from 68 countries. As many as 122 scientific papers on renewable energy are presented at the congress. Some of them are discussing energy-agriculture nexus through bioenergy, geothermal and solar. Participants from Indonesia gained knowledge and network about business, policy and technological developments in the energy-agriculture sector, from from overseas businessmen and experts in the congress.

Renewable energy interventions in an agriculture-food enterprise include the introduction of renewable energy technologies or of energy efficiency measures, which can result in improvement in energy intensity. Each step of agriculture value chain presents different challenges to ensure that the relevant energy services are provided efficiently, cost effectively and minimizing the reliance on the fossil fuel market. Applying the value chain approach, it becomes evident how the value of food products tend to increase as more processing occurs and more inputs (energy, water, packaging materials) are consumed. The energy interventions considered span from solar-power irrigation systems to cooling and cold storage facilities, and from the use of residues for energy production to geothermal energy for food processing. These concepts were explored in the WREC.

Monday, August 29, 2016

Investasi alternatif energi terbarukan


Biogas rumah di Bali


Beberapa waktu lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai bahwa menurunnya produksi energi fosil di Indonesia harus dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT). Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi terbesar di dunia, mencapai 7 persen per tahun. Sementara itu, produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan rata-rata 2,1 persen per tahun periode 1992-2013. Dan kini laju penurunannya semakin tajam, sehingga mendorong pemerintah untuk mencari solusi energi.

Dengan kata lain, pemerintah harus segera mempercepat pembangunan dan mendukung investasi di sektor EBT. Misalnya, dengan memberikan insentif menarik, dukungan regulasi yang berpihak pada investasi tersebut, dan juga fasilitas fiskal memadai, mengingat nilai investasi sektor EBT sangat besar. Saat ini Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan mencapai 176,01 Gigawatt. Angka itu terdiri dari energi bayu/angin sebesar 950 Megawatt, tenaga surya 11 Gigawatt, tenaga air 75 Gigawatt, energi biomasa 32 Megawatt, biofuel 32 Megawatt, energi laut 60 Gigawatt dan panas bumi 29 Gigawatt.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan realisasi investasi di sektor EBT pada 2016 akan melebihi target US$ 1,37 miliar. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, meski terjadi perlambatan perekonomian global dan beberapa hambatan, iklim investasi sektor energi baru terbarukan di Indonesia tetap menarik. Sampai akhir Juni lalu, realisasi investasi di sektor ini mencapai US$ 867 juta atau 63,5%  dari target. Realisasi investasi di sektor panas bumi tercatat sebesar US$ 56 juta atau 58,3% dari target US$ 96 juta, bioenergi sebesar US$ 28,9 juta atau 93,2% dari target US$ 31 juta dan aneka energi baru terbarukan lainnya hanya US$ 180 ribu atau 18% dari target US$ 1 juta.

Pemerintah optimistis investasi sektor energi baru terbarukan ini dapat digenjot pada semester kedua 2016 ini. Di Sumatra Barat, sektor energi terbarukan menjadi incaran investor untuk menanamkan modalnya dikarenakan potensi sektor energi daerah itu yang terbilang besar. Gubernur setempat menyebutkan sejumlah perusahaan sudah menunjukkan minat untuk berinvestasi di daerah itu dengan melakukan eksplorasi. Namun, ketergantungan pada investor besar mungkin bukan solusi berkelanjutan bagi pengembangan EBT di Indonesia.

Wednesday, August 10, 2016

Behavioural change in climate action




Indonesia is already affected by climate change with temperatures having risen by between 0.16 and 1.44 degrees Celsius. Drought in some places has caused uncertainty for farmers in the initial rice planting season this year. Climate change is also characterized by chaos in weather patterns in the country. Urgent task will be to take action seriously towards reduction and reversal of global warming, and avoid threats against climate action. I recently found a threat in two Indonesian articles entitled “Does climate change exist?” and “The myths of climate change” in an online platform for idea's marketplace. I am wondering what’s going on in the brains of these climate change deniers?

Friday, May 27, 2016

Menyikapi Skeptisisme Perubahan Iklim

Kekeringan di Jembrana, Bali

Beberapa waktu lalu saya membaca dua tulisan di sebuah media dengan judul “Apakah perubahan iklim benar-benar terjadi?” dan “Mitos Perubahan Iklim”. Hal ini menambah runyam skeptisisme terhadap perubahan iklim dan membuat saya terpanggil untuk menanggapi dan melengkapi diskursus tersebut.
Tulisan pertama mencoba menghadirkan sejumlah penelitian terkait perubahan iklim dan menyimpulkan bahwa perubahan iklim adalah siklus normal bagi bumi. “Tak Perlu Histeris, tidak perlu menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap perubahan iklim. Kita tidak bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan itu. Ada ribuan probabilitas mengapa Tuhan menurunkan bencana pada suatu daerah. Ke semuanya bergantung pada individu yang mendiami daerah itu”, argumen ini menutup ulasan tulisan pertama.

Building the energy-agriculture nexus

Agriculture potential for energy resource

The Center of Excellence ( CoE ) was launched at the Bali Clean Energy Forum ( BCEF ) February. The CoE was established to facilitate with the integration of research and development, investment and deployment of clean energy and related technologies. CoE initiatives are planned to be developed all over Indonesia.

Beyond energy demand, Indonesia needs to address domestic and global challenges on renewable energy and climate change. The CoE links global targets to domestic priorities. The focus is on well defined and broadly endorsed national priorities. The CoE wants to strengthen national capacity and create enabling environments. However, one important aspect is missing in the CoE mission stated at the BCEF, and that is about building the energy-agriculture nexus.

Sunday, March 1, 2015

Merusak Lahan Tambang

Salah Satu Lahan Pertambangan di Indonesia

Selama ini kita mungkin lebih akrab dengan term yang agak berbeda dengan susunan kata pada judul di atas, ‘lahan tambang itu merusak lingkungan’, inilah stigma yang mungkin yang lebih populer di sebagian besar kita.

Bingung?, yuk pelan-pelan kita bahas keduanya. Bagaimana kita bisa merusak lahan tambang dan apakah lahan tambang merusak lingkungan kita.

Sebagai contoh, kita akan ambil studi kasus dari salah satu perusahaan tambang besar di Indonesia, yakni Newmont (Baca : Lebih Lanjut tentang Newmont).

Kita mulai dengan bahasan yang terpopuler, apakah semua proses tambang merusak lingkungan?.

Thursday, February 19, 2015

Banjir Adalah Kita

Ilustrasi Spatial Behaviour

Jakarta Smart City, itulah slogan yang digaunkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beberapa waktu lalu, dalam peluncuran aplikasi smart city-nya. Dan kini, smart city itu mengalami banjir, lagi. Seperti biasanya?

Untuk menjawabnya mari kita lihat beragam komentar dan sudut pandang yang hadir dari berbagai orang terkait banjir yang terjadi ini.

Sejumlah media sosial pun juga turut kebanjiran, banjir postingan dari para penggunanya terkait dengan Banjir Jakarta. Mulai dari sindiran tentang terjadinya banjir yang dikaitkan dengan kondisi politik hingga dengan mengubah foto banjir menjadi seperti film animasi.

Wednesday, February 11, 2015

Bayangan Menghilang di Kampung Tuanku Imam Bonjol!

Bayangannya berada tepat di bawah benda (sugianto-industri.blogspot.com )

Pernahkah anda berdiri di bawah terik sinar matahari, dan menemukan bahwa ternyata tidak ada bayangan yang muncul dari tubuh anda?.

Bukan sulap, bukan sihir, namun ini nyata adanya, dan sangat ilmiah. Adalah peristiwa titik kulminasi matahari yang rutin terjadi di daerah-daerah di sepanjang garis khatulistiwa.

Tuesday, February 18, 2014

Orang(h)utan



“Mengapa harus selamatkan orangutan?. Sementara masih banyak orang beneran yang lebih butuh untuk diselamatkan”

Sejumlah pertanyaan atau pernyataan sekitar lingkup di atas kembali bertebaran akhir-akhir ini, usai berita tentang Pelepasliaran Orangutan oleh BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation / Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo) beberapa waktu yang lalu. Hal ini memang hampir selalu terjadi bagi sebagian orang yang belum cukup paham, di setiap program pelepasliaran yang dilakukan.

Jadi, kenapa harus diselamatkan?.

Thursday, July 25, 2013

Mencegah Aterosklerosis Dini dengan Morfologi USG

http://www.klinikherbaldunia.com/wp-content/uploads/2013/07/126.jpg

Dunia kesehatan di Indonesia saat ini masih sering kesulitan dalam mendiagnosa atau mendeteksi keberadaan penyakit aterosklerosis dini pada manusia. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan para ahli kesehatan terkait optimalisasi penggunaan teknologi USG. Chandramin, seorang Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Premier Bintaro, melakukan penelitian untuk memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Ia melakukan klasifikasi morfologi intima media arteri karotis dengan pencitraan ultrasonografi pada aterosklerosis dini dan menggunakan monyet macaca nemestrina sebagai hewan modelnya.

Friday, July 19, 2013

Meningkatkan Produktivitas Koloni Lebah Madu

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYl59vpoClmJ-GflK0caVOzF6Q-_nwE8vMVjSzPb_vAHS8tX-D0V4D5OBYk2zO4dYaSNinyhIwDIac9IYh-ztWdgR2qmPDUOT-2yixiW0TNt7UD4FBGjzOpzEqpIqrCOY5Pen8AXfRjVY/s640/1.jpg

Keberadaan Khamir, yang memiliki asosiasi fungsional dengan lebah madu, akhirnya memicu Retno Widowati (Dosen Universitas Nasional) yang sebelumnya sudah tertarik dengan penelitian terkait lebah, untuk meriset lebih jauh terkait potensi dari Khamir ini. Khamir dan lebah madu merupakan simbiosis mutualistik. Khamir berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kesehatan lebah madu. Khamir juga berperan dalam fermentasi nektar menjadi madu.