Sunday, April 15, 2012

Sejarah Ikatan Mahasiswa Minang Universitas Indonesia (IMAMI UI)


Logo IMAMI UI
Logo IMAMI UI (sumber: FB IMAMI UI)
Ikatan mahasiswa minang (IMAMI) Universitas Indonesia (UI) resmi dideklarasikan pada tanggal 1 Mei 1983 di Jalan Angkur No 5 Kampung Ambon, Jakarta Timur, dengan beberapa tokoh diantaranya Harmaily Ibrahim SH, Akhiar Salmi, Zohra Amran, Achmad Rifai dan Uni Elly.
Pada awal terbentuknya IMAMI bernama IMAMI FH UI, karena para tokoh tersebut berasal dari Fakultas Hukum (FH) UI, namun pada perkembangan selanjutnya nama tersebut berubah menjadi IMAMI saja dikarenakan meningkatnya jumlah mahasiswa Minang yang bergabung di dalamnya dan mulai merata dari berbagai fakultas. Mahasiswa Minang yang menempuh pendidikan di UI sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum tahun 1983, namun saat itu belum ada deklarasi ikatan yang menyatakan diri sebagai ikatan.
Dasar pemikiran pendirian IMAMI UI ini pada awalnya berasal dari keinginan untuk saling berbagi, bekerjasama, dan mempererat tali silahturahmi antar mahasiswa minang dalam bentuk sebuah wadah yang bersifat kekeluargaan agar ‘saciok bak ayam, sadanciang bak basi, ka lurah samo manurun, ka bukik samo mandaki, ringan samo dijinjiang barek samo dipikua, basatu kito kuaik bacarai kito rubuah.
IMAMI UI juga menjadi ‘urek tampek baselo, batang tampek basanda’. Wadah kekeluargaan yang dibentuk disini bukan berarti untuk melahirkan sebuah gerakan separatis yang berpaham primordial memperjuangkan kepentingan suku atau daerah masing-masing, justru disini IMAMI UI hadir sebagai salah satu etalase warna yang terkandung dalam pelangi merah putih.
Sebagai salah satu unsur dari pelangi merah putih IMAMI UI ikut berkontibusi disini untuk mewujudkan implementasi dari salah satu unsur pancasila yaitunya ‘bhineka tunggal ika’, IMAMI UI berdiri untuk membantu membangun bangsa dan peradaban. IMAMI UI selalu berupaya dinamis untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, ‘dima langik dipijak disina langik dijunjuang, tagak dikampuang bapaga kampuang, tagak di nagari bapaga nagari’.

Seribu Mahasiswa dari Sumatera Barat di UI: Dinamika IMAMI UI


Logo IMAMI UI
Logo IMAMI UI (sumber: FB IMAMI UI)
Keberadaan mahasiswa minang di UI sesungguhnya telah ada jauh sebelum tahun 1983, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya jumlah mahasiswa minang yang ikut bergabung setelah proses deklarasi di tahun 1983 dan berasal dari berbagai tingkat maupun fakultas. Seiring dengan perkembangan ini maka IMAMI UI yang awalnya bernama IMAMI FHUI lalu menjadi IMAMI KMHR (kelompok mahasiswa hukum rawamangun)-pun berganti nama menjadi IMAMI UI yang cakupannya semakin luas.
Pertengahan tahun 1985 IMAMI UI-pun semakin mengembangkan sayapnya melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakannya dan diikutinya, salah satunya yaitu acara Perkemahan alam budaya minangkabau pertama (MAHABUANA I) di Cikole Bandung bersama kepala daerah dan rekan-rekan mahasiswa minang lainnya dari jawa barat dan DKI Jakarta.
Selang satu tahun setelah itu, pada tanggal 6-13 Juli 1986 di Istora Senayan Jakarta IMAMI UI diberi kepercayaan oleh pemuka masyarakat minangkabau di Jakarta untuk menjadi penyelenggara acara ‘Pekan Wisata Budaya Minangkabau dan Halal bi Halal Masyarakat Sumbar DKI 1406 H’. Acara selama tujuh hari ini akhirnya mendapat penghargaan dari Bapak Ir Azwar Anas (Mantan Gubernur Sumbar & Mentri Perhubungan RI).
Awal tahun 1990 pada tanggal 19 Januari – 6 Februari IMAMI UI semakin bersemangat menggelar kegiatan-kegiatan bermanfaat, salah satunya yaitu acara ‘Pengabdian dan temu ilmiah IMAMI UI’ yang bertempat di Sumatera Barat. Tahun demi tahun IMAMI UI terus mencoba menggali potensi masyarakat minangkabau khususnya dengan mengadakan try out akbar Sipemaru untuk para siswa SMA di sumbar, hingga akhirnya pada tahun 2002 acara ini dikemas dalam sebuah bentuk rangkaian acara yang diberi nama ‘Kampus Goes to Kampuang (KGTK)’.
Acara ini dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan mulai dari konten acara hingga jumlah peserta. Beberapa konten acaranya selain try out akbar yaitu : bedah kampus, seminar guru, workshop gempa, lomba kreatifitas siswa, bimbel gratis, festival kebudayaan minang, studi islam dan adat, dll. Hasil evaluasi dari program rutin terbesar IMAMI UI ini ternyata sungguh luar biasa. Seluruh keringat kerja keras keluarga besar IMAMI UI terbayarkan melihat hasil ini. Setiap tahunnya peserta dari rangkaian acara KGTK yang diselenggarakan dari tahun 2002, baik itu simulasi SNMPTN, bedah kampus, seminar, workshop,dll hingga hingga sekarang mengalami peningkatan mencapai 25 %.
Gambar 1.Peningkatan Kuantitas KGTK
Gambar 1.Peningkatan Kuantitas KGTK
Gambar 2. Persebaran Mahasiswa Sumatera Barat di UI
Gambar 2. Persebaran Mahasiswa Sumatera Barat di UI
Hari ini jumlah mahasiswa yang berasal dari sumatera barat mencapai angka seribu orang, dimana pada tahun 2002 jumlahnya hanya sekitar puluhan saja. Sekarang mereka tersebar di berbagai fakultas. Sebuah penggalian potensi daerah untuk menyukseskan otonomi daerah menuju kebangkitan negeri ini. Semoga semangat ini tetap terjaga dan mampu menginspirasi.

Gerakan Paguyuban Daerah di UI untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan


Liburan semester ganjil bagi sejumlah Paguyuban Daerah di UI menjadi waktu yang potensial untuk berkontribusi secara maksimal untuk negeri melalui daerah masing-masing. Gerakan yang sebagian besar mengarahkan sasaran kepada para siswa SMA/sederajat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka.
Menurut data terakhir dari Departemen Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) BEM UI ada sekitar 53 Paguyuban daerah di UI dan sebagian besar diantaranya sukses melakukan gerakan ini. Berikut liputannya dari beberapa Paguyuban Daerah tersebut :
Ayo Berani Masuk UI, Formasi Delta UI (Sidoarjo)
Formasi Delta UI merupakan paguyuban daerah yang baru terbentuk 5 november 2009. Mereka menggelar Roadshow “Ayo Berani Masuk UI” di sembilan SMA Se-Sidoarjo dan menyebar poster-booklet tentang UI ke lembaga bimbingan belajar dan sekolah-sekolah lainnya.
Program yang berlangsung sekitar dua minggu ini mendapat antusisame yang cukup tinggi dari para siswa-siswi di tiap sekolah. Tidak hanya itu, para pengajar di tiap SMA juga menyambut baik program ini mengingat seringkali ada ambiguitas informasi tentang jalur masuk di Universitas Indonesia.
Ke depan, Formasi Delta UI berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan dan jumlah SMA yang menjadi target roadshow sehingga semakin banyak pula SDM berkualitas di daerah yang bisa meneruskan pendidikan di Universitas Indonesia.
Sai Mahasiswa Lampung (Saimala)
Selama bulan Januari 2011 Saimala mengadakan 4 kegiatan utama yaitu : Roadshow, Try-Out (simulasi SNMPTN), Bedah Kampus Universitas Indonesia, Gathering Saimala Ui (jalan-jalan ke pantai), dan Bakti Sosial. Kegiatan roadshow diadakan di lebih dari 58 SMA di 5 kabupaten di provinsi Lampung.
Roadshow ini diadakan pada tanggal 3-20 Januari 2011. Kegiatan ini berupa sosialisasi fakultas dan jurusan apa saja yang di UI serta jalur masuk ke UI. Selain itu, pada roadshow tahun ini, Saimala juga tidak lupa memberikan motivasi kepada teman-teman SMA untuk rajin belajar dan menjadi generasi yang cerdas sehingga dapat membangun bangsa ini.
Kegiatan selanjutnya adalah Try-Out. Kegiatan ini berupa simulasi SNMPTN untuk teman-teman SMA agar mereka terlatih untuk mengerjakan soal dengan situasi seperti SNMPTN sesungguhnya. Kegiatan Try-Out ini dihadiri oleh lebih dari 3400 peserta. Kegiatan Try-Out dan Bedah Kampus diadakan bersamaan pada tanggal 23 Januari 2011.
Pada kegiatan Bedah Kampus, Saimala mendirikan stand 12 Fakultas sehingga teman-teman SMA bisa bertanya lebih detil tentang jurusan-jurusan apa saja yang ada di UI. Selain mengadakan kegiatan untuk eksternal anggota Saimala, Saimala juga mengadakan gathering untuk pengakraban sesama anggotaa saimala. Kegiatan gathering tahun ini, diadakan di pantai Mutun di kota Bandar Lampung. Kegiatan yang terakhir adalah bakti sosial ke panti asuhan yang berada di kota Bandar Lampung. Pada bakti sosial kali ini, Saimala memberikan santunan dan bantuan untuk adik-adik yatim piatu.
MURTP (MANGGO UI Road to Probolinggo)
Sejak tahun 2002 tercatat hanya dua mahasiswa asal Probolinggo yang mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia (UI), bahkan pada tahun 2005 tidak ada satu pun siswa SMA di Probolinggo yang melanjutkan pendidikan di UI. Hingga pada tahun 2008, akumulasi seluruh mahasiswa UI asal Probolinggo terhitung sejumlah tujuh orang.
Angka ini cukup membesarkan hati para mahasiswa tersebut dan tercetus lah ide untuk membentuk paguyuban Mahasiswa Probolinggo Universitas Indonesia (MANGGO UI). Tujuh mahasiswa ini menjadi pelopor diadakannya roadshow sosialisasi mengenai UI pada siswa SMA kelas XII di Probolinggo. Berkat sosialisasi ini, jumlah mahasiswa asal Probolinggo menjadi dua kali lipat di tahun 2009.
Ide sosialisasi tersebut dikembangkan dari tahun ke tahun agar jumlah mahasiswa asal Probolinggo yang mengenyam pendidikan di UI semakin banyak. Awal Januari 2011 kemarin, MANGGO UI membuat sebuah gebrakan baru dalam sosialisasi UI di Probolinggo melalui acara MURTP (MANGGO UI Road to Probolinggo). Acara ini terdiri atas tiga kegiatan yakni Roadshow, Talkshow, dan Try Out. Roadshow diadakan di sembilan sekolah yang tersebar di kota dan kabupaten Probolinggo.
Selanjutnya, MANGGO UI mengadakan Talkshow bertema Knowing and Maximizing Your Potential dengan mahasiswa berprestasi FASILKOM 2010, Big Zaman, sebagai pembicara.
Acara terakhir merupakan Try Out Ujian Masuk Universitas yang bekerja sama dengan delapan paguyuban lain di Jawa serta Sumatra. Respon positif diberikan oleh siswa SMA maupun lembaga pemerintah di Probolinggo terhadap MURTP. Dengan adanya respon positif tersebut, diharapkan jumlah mahasiswa asal Probolinggo yang melanjutkan kuliah di UI naik secara signifikan sehingga banyak siswa SMA Probolinggo bisa mendapatkan pendidikan berkualitas di UI.
Kampus Goes to Kampuang 8 ( KGTK 8 ) IMAMI UI : Manyibak Kilau Nagari Ka Rantau
Pada tahun ke delapan pelaksanannya, Kampus Goes to Kampuang (KGTK) IMAMI UI mengusung tema manyibak kilau nagari ka rantau (membuka kilau kampung halaman ke rantau). Tema tersebut diurai dalam enam rangkaian acara yang dimulai pada tanggal 3 Januari sampai dengan 30 Januari 2011 yaitu Lomba Proposal Proyek, desain, dan Fotografi, Roadshow, Simulasi SNMPTN, SILAT (Studi Islam dan Adat), Bedah Kampus UI dan ditutup dengan acara Minangkabau Culture Festival (MCF). Sasaran dari seluruh rangkaian acara KGTK ini adalah siswa SMA/MA/sederajat di 16 Kota/Kabupaten se-Sumatera Barat.
Dimulai dengan Lomba Proposal Proyek, desain, dan Fotografi yang pendaftarannya telah dibuka dari bulan Oktober 2010. Lalu dilanjutkan dengan Roadshow berbagi informasi, motivasi, dan inspirasi ke 112 SMA/MA/sederajat pada 3-15 Januari. Untuk menguji kesiapan mereka dalam SNMPTN maka disambung dengan Simulasi SNMPTN pada 16 Januari.
Pendidikan karakter juga menjadi perhatian dari IMAMI UI, hal ini dibuktikan melalui SILAT yang diadakan di Kabupaten Padang Pariaman bagi para pengurus OSIS SMA/MA/sederajat pada 20-22 Januari. Sehari setelahnya 23 Januari di Kota Bukittinggi semarak KGTK 8 semakin berkibar dalam Bedah Kampus UI yang menghadirkan Anies Baswedan P,hd, Ahmad Syafiq P,hd, dan Bona Hutahean S,Psi. Akhirnya pada 28-30 Januari di Kota Padang Panjang gelaran KGTK 8 ditutup oleh Gubernur Sumatera Barat Prof. Irwan Prayitno dalam MCF yang sukses membangkitkan kembali kecintaan terhadap kebudayaan daerah.

[Seri 2 Urgensi GN] : Siklus Potensial Paguyuban


Mohon maaf kawan karena pada tulisan sebelumnya belum dijelaskan apa itu GN, maka disini kita akan coba mengenal secara singkat GN. GN merupakan Gerakan Nusantara yang awalnya bernama Paguyuban Nusantara. Wadah ini merupakan forum sinergisasi pergerakan paguyuban-paguyuban daerah yang ada di UI. Cita-cita besar dari gerakan ini adalah terwujudnya pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.
Terlalu lebay memang kawan, namun kita bisa buktikan nanti. Dalam seri pertama kita sudah membahas apa perbedaan antara paguyuban dan organisasi. Kesimpulannya paguyuban merupakan salah satu bentuk organisasi yang berbasis azas kekeluargaan. Hal inilah yang menjadi salah satu poin plus dan juga karakter dari organisasi tersebut. Sementara dalam seri kedua ini kita akan bahas apa urgensi dari keberadaan paguyuban tersebut. Yang pasti mereka bukan gerakan separatis berpaham primordial. Camkan itu kawan!
Ada sebuah peranan sentral dari paguyuban-paguyuban tersebut yang selama ini jarang disadari manfaatnya oleh sebagian besar sivitas akademika UI. Peranan ini jugalah yang merupakan sebuah pengantar untuk meneliti lebih jauh definisi lebih dalam dari paguyuban ini. Peranan sentral ini berawal dari sebuah sistem yang berjalan dalam bentuk siklus yang selama ini masih belum cukup optimal dijalankan oleh seluruh paguyuban.
Siklus ini dibagi menjadi tiga fase yaitu : penggalian potensi daerah, kaderisasi, dan pengembangan sistem. Penggalian potensi daerah disini yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh paguyuban yang bersentuhan langsung dengan daerah asalnya seperti salah satu contohnya yaitu kegiatan kunjungan (roadshow) yang dilakukan ke sekolah-sekolah setingkat SMA yang bertujuan memberikan pencerdasan pendidikan dalam bentuk pemberian motivasi dan informasi-informasi terkait perguruan tinggi kepada para siswa SMA dan sederajat.
Salah satu kegiatan tersebut berdasarkan hasil evaluasi ternyata telah berhasil meningkatkan antusiasme mereka untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi yang lebih baik. Hal ini tentunya secara tidak langsung berarti telah sukses menggali potensi-potensi yang awalnya terpendam karena minimnya informasi dan motivasi.
Selanjutnya yaitu kaderisasi, maksudnya disini adalah setelah potensi-potensi tadi berhasil digali maka untuk mengawal potensi-potensi tersebut agar tetap dapat berkembang pada jalurnya tentunya dibutuhkan pembinaan yang optimal agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal.
Setelah kaderisasi mampu terselenggara dengan baik maka diharapkan potensi-potensi tersebut akhirnya dapat mengembangkan sistem-sistem yang telah ada sebelumya di paguyuban mereka menjadi lebih kreatif dan bermanfaat tentunya.
Sistem yang semakin baik otomatis mempengaruhi pola penggalian potensi daerah juga menjadi lebih masif yang akan diselenggarkan selanjutnya. Hal ini tentu juga akan berbanding lurus dengan hasilnya nanti yaitu : semakin banyaknya potensi yang akan tergali. Jika siklus tersebut digambarkan secara kuantitas maka hal ini akan seperti obat nyamuk bakar, semakin lama semakin membesar.
Jika siklus ini mampu dioptimalkan kinerjanya secara merata di seluruh daerah di Indonesia oleh masing-masing paguyuban, bayangkan dua puluh tahun lagi maka universitas indonesia akan menjadi the real university of indonesia. Bukankah hal ini seharusnya yang menjadi salah satu misi dari kampus ini ?
Tidak hanya disampai disana kawan, tahukah kau kelanjutannya?
Tunggu edisi berikutnya..

[Seri 1 Urgensi GN] Kesesatan Berfikir : “Organisasi” atau “Paguyuban”


Banyak diantara kita terutama para pejuang (masih disebut) paguyuban daerah yang kurang memahami hal ini. Maka dari itu mari kita cermati bersama kawan.
A. Pengertian Organisasi
“Organisasi” sebenarnya berasal dari bhs Yunani, “organon” atau dalam bhs Latin, disebut “organum” yang artinya “alat, bagian, atau anggota badan”. Selanjutnya seiring berjalannya waktu, terjadilah perkembangan dalam pengertiannya. Dengan kata lain, semakin banyak orang yang mengartikannya maka semakin banyak definisi dan semakin luas pula kata itu diartikan) Tapi dari sekian banyak definisi “organisasi”, saya lebih tertarik sama dua pendapat berikut yang menurut saya sudah merangkum semuanya. Pertama, bapak  J.D. Mooney bilang kalo “organisasi merupakan perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”. Kedua, bapak C.I. Barnard  bilang kalo “organisasi” adalah sistem dari usaha2 kerjasama yang dilakukan sama dua orang atau lebih.
Nah, berdasarkan sifatnya organisasi dapat dibedakan antara organisasi statis dan organisasi dinamis.
Apa itu organisasi statis? Dan apa pula yang dimaksud dengan organisasi dinamis ? (Kayak soal ulangan saja)
Organisasi statis itu merupakan gambaran secara skematis tentang hubungan kerjasama antara orang-orang yang terdapat dalam suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan kalo organisasi dinamis adalah setiap kegiatan yang berhubungan dengan usaha merencanakan skema organis, mengadakan departemenisasi, menetapkan wewenang, tugas, dan tanggung jawab dari orang-orang di dalam suatu badan/organisasi. Kalo mau disingkat, “organisasi dinamis” adalah kegiatan-kegiatan mengorganisir yaitu kegiatan menetapkan susunan organisasi suatu usaha.
Lantas gimana relasi antar orang per orang dalam sebuah organisasi?
Berdasarkan relasi antar orang per orang yang terdapat dalam suatu organisasi dikenal yang namanya:
Organisasi formal , yaitu sistem kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan dikoordinasikan secara sadar untuk mencapai tujuan tertentu;
dan organisasi informal yang merupakan kumpulan hubungan antara pribadi-pribadi tanpa tujuan bersama yang disadari. Meskipun pada akhirnya hubungan-hubungan tak disadari itu ternyata dilakukan untuk mencapai tujuan bersama.
Nah, ada tiga unsur utama dalam organisasi, yaitu:
  • adanya sekelompok orang
  • adanya hubungan kerjasama antara orang-orang tersebut
  • adanya tujuan bersama yang ingin dicapai
B. Pengertian Paguyuban
Dalam makalah bapak Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si. yang merupakan bahan ajar pengantar sosiologi, paguyuban dilihat sebagai salah satu kelompok sosial yang teratur dengan pengertian sebagai berikut :
Paguyuban – dalam bahasa Inggris disebut Community (dalam bahasa Jermannya disebut Gemeinschaft … yang artinya tentu saja beda sama Organisation yang berarti √úbersetzung(en) tabellarisch anzeigen atau √úbersetzungen mit gleichem Wortanfang …sengaja pake bahasa Jerman, biar kliatannya saya nggak mengada-ngada hehehe) – diartikan sebagai bentuk kehidupan bersama, di mana para anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah dikodratkan.
Sedangkan menurut Surat Gembala Uskup Malang Thn 2009 yang berjudul TAHUN PAGUYUBAN UMAT ALLAH, terutama dalam subjudul Pengertian “Gereja sebagai Paguyuban Umat Allah”, kata paguyuban digunakan untuk menerangkan kata Communio (Cum=bersama-sama dan Munus=tugas atau fungsi) yang berarti satu kesatuan dan kesamaan perutusan. Kalo dalam bahasa Yunani disebut Koinonia (kesatuan dalam keberagaman).
Selanjutnya, paguyuban diartikan pula sebagai persekutuan atau kebersamaan aneka ragam orang dalam batas teritori dan kategori tertentu, dengan nilai-nilai umum sebagai berikut :
  • disemangati kebersamaan, keterlibatan, komunikasi, relasi yang terjadi terus-menerus, sehati dan sejiwa dalam suka dan duka, untuk menghidupi dan menghayati tugas, karya, dan panggilan hidup dalam mewujudkan visi-misi paguyuban tersebut.
  • kebersamaan setiap anggotanya yang se-detak jantung, yang hidup dalam kebersamaan, memiliki kepekaan dan bertindak saling mengasihi sehingga terbentuk suatu komunitas yang sehati-sejiwa.
  • bentuk kehidupan bersama yang menghayati solidaritas, toleransi dan prinsip subsidiaritas dalam memanfaatkan segala perbedaan untuk mencapai tujuan bersama.
  • kebutuhan untuk hidup berkelompok yang berlandaskan pada kepercayaan yang satu.
C. Tinjauan Kritis :
Memang semua paguyuban adalah sebuah organisasi akan tetapi tidak semua organisasi merupakan paguyuban. Alasannya jelas, yakni asas dasar dari sebuah organisasi belum tentu cinta kasih (bisa jadi hanya berdasarkan pada kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu atau hanya atas dasar kepentingan saja). Tetapi asas dasar paguyuban (lebih kerennya kita sebut saja “komunitas”) adalah cinta kasih persaudaraan, menghayati solidaritas, toleransi dan prinsip subsidiaritas dalam memanfaatkan segala perbedaan untuk mencapai tujuan bersama di mana para anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alamiah, kekal serta sehati-sejiwa. Singkatnya, dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah dikodratkan.
Jadi menurutmu apakah masih tepat disebut sebagai ‘paguyuban daerah’?. Aku lebih nyaman memanggilnya ‘organisasi berbasis paguyuban’. Karena jalan ini masih panjang. Kita butuh banyak improvisasi kawan. Kita harus dinamis.
#bhineka-tunggal-ika!
sumber : http://donnyreston.wordpress.com/2009/02/10/5/

Paguyuban Daerah di Mata Para Petinggi UI


Transformasi Paguyuban Daerah di UI
Paguyuban Nusantara UI dipicu oleh kesatuan tekad sejumlah paguyuban daerah di UI untuk memperjuangkan keadilan akan persamaan hak dan kewajiban selaku lembaga mahasiswa yang jika meminjam istilah Maman Abdurrahman disebut sebagai lembaga mahasiswa yang lahir dan berkembang dari rahim UI.
Selama ini banyak paguyuban daerah yang merasa dikhianati oleh banyak pihak, baik itu dari lembaga kemahasiswaan maupun para birokrat di rektorat. Keberadaan mereka diperlakukan seperti anak tiri. Mereka dianggap sebagai organ ekstra kampus yang mengganggu. #kami tetap bersabar.
Studi kasus terakhir terjadi pada bulan Desember tahun lalu dimana ketika itu rektorat memanggil semua paguyuban daerah untuk datang ke rektorat mendengarkan sosialisasi tentang penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru UI dan juga dibagikan ketika itu sejumlah brosur SIMAK UI dalam jumlah yang sangat terbatas.
Secara tidak langsung disimpulkan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk meminta bantuan kepada sejumlah paguyuban daerah untuk publikasi dan sosialisasi UI dan jalur masuknya di daerah masing-masing. Sungguh mulia mereka para paguyuban daerah kembali dari tempat itu dengan ikhlas dalam kondisi brosur dan supporting system kegiatan yang sangat terbatas.
Mereka pun kembali ke daerah masing-masing dan menghabiskan waktu libur Januari untuk mengabdikan diri mereka dengan sejumlah kegiatan yang pada intinya sangat membesarkan nama UI di mata anak-anak Indonesia (Sabang-Merauke). Meskipun dukungan untuk acara sangat terbatas namun mereka tidak kehilangan semangat berjuang demi melihat senyum adik-adik mereka optimis menggapai masa depan yang lebih baik.
Ya begitulah sebulan waktu libur mereka habis tanpa terasa bersama keringat dan suara yang telah serak menyuarakan pendidikan berkualitas nan diharapkan masih berkeadilan. Terkadang sebagian orang tua mereka tidak mampu memahami pekerjaan luhur anak-anak mereka sehingga alhasil ceramah, khotbah, hingga akumulasi emosi pun mereka terima sepulang dari pekerjaan luhur itu. Tapi meskipun demikian mereka tetap bersyukur masih mendapatkan perhatian dari orang tua mereka.
Liburan telah usai dan mereka pun kembali ke kampus yang dulu rektoratnya meminta bantuan kepada mereka. Keikhlasan membuat mereka tidak terlalu mempermasalahkan ketidak-pedulian rektorat kepada mereka meskipun permohonan telah dikabulkan. Tidak masalah, kita meyakini banyak pekerjaan lain yang lebih penting dan mendesak hingga mereka lupa akan sekedar ucapan terima kasih. Sekian bulan berlalu hingga waktu mendekati masa penerimaan mahasiswa baru (maba).
Dalam menyambut masa penerimaan maba tentu paguyuban daerah yang dulunya memberikan informasi secara langsung kepada para calon mahasiswa terkait hal tersebut tentu merasa berkewajiban melanjutkan pekerjaannya. Dalam hal ini paguyuban daerah sepenuhnya menyadari bahwa dalam tindak advokasi mereka harus berkoordinasi dengan pihak Kesma BEM.
Koordinasi pun dijalankan dan semua berjalan lancar sampai pada akhirnya terjadi kesalahan sistem informasi yang cukup fatal terkait pembayaran BOP B pada website penerimaan yang dikelola rektorat dan menimbulkan sejumlah pertanyaan dari para maba.
Secara kultural para maba lebih dekat dengan seniornya satu daerah yang dulunya memberikan informasi di Januari. Maka pertanyaan pun pertama kali diajukan kepada para paguyuban daerah. Karena keadaan yang mendesak dan pihak Kesma BEM pun tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut akhirnya salah satu paguyuban daerah mencoba bertanya langsung kepada bagian kemahasiswaan di PPMT dan jawaban yang diterima sungguh menampar keikhlasan yang dibina paguyuban daerah. Dikarenakan penanya berasal dari paguyuban daerah maka oknum penjawab menyatakan tidak mau memberikan jawaban. Alhasil kerugian pun diderita oleh mahasiswa dari daerah terkait.
Beberapa bulan sebelumnya tidak terkait dengan penerimaan maba tamparan lain juga sebenarnya telah menghampiri. Fasilitas Gazebo Asrama UI yang dulunya merupakan satu-satunya tempat favorit bagi paguyuban daerah untuk melakukan sejumlah kegiatan konsolidasi sekarang tidak lagi dapat digunakan karena peraturan baru dari Manajer Direktorat Fasilitas Umum (Dirfasum) yang membawahi asrama melarang tempat tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan terutama oleh paguyuban daerah.
Meminjam ruangan di UI dikenakan biaya mahal disamakan dengan harga peminjaman dari pihak eksternal kampus karena memang paguyuban daerah dianggap organ ekstra kampus dan sekarang peminjaman gazebo asrama yang dulunya gratis saat ini bahkan tidak boleh digunakan lagi.
Pergerakan paguyuban daerah semakin dikekang dan terbatas. Tamparan demi tamparan terus melecut semangat juang kami. Kami ikhlas. Semangat menyukseskan akselerasi otonomi daerah sebagai salah satu pilar kebangkitan bangsa yang merupakan visi dari paguyuban daerah yang bersatu dalam tekad nusantara : untuk Indonesia.
Semangat tersebut justru semakin kuat. Bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan kebudayaan merupakan sorot utama dalam pergerakan ini. Sama sekali bukan gerakan separatis berpaham primordial namun kita bicara tentang sinergisasi pergerakan. Universitas Indonesia sudah seharusnya benar-benar memberikan kebermanfaatan yang meng-indonesia. Fondasi Indonesia ada di daerah-daerah.
Diskusi Bersama Ketua BEM UI, Ketua DPM UI, dan MWA UI Unsur Mahasiswa
Paguyuban Nusantara UI menyelenggarakan diskusi umum bersama tiga orang pimpinan lembaga kemahasiswaan di UI pada Hari Rabu (08/06) dan bertempat di Lobi FH. Tiga pimpinan lembaga kemahasiswaan tersebut adalah Andreas Sanjaya (MWA UI Unsur Mahasiswa), Eko Aditya (Ketua DPM UI), dan Maman Abdurrahman (Ketua BEM UI).
Diskusi yang bertemakan tentang ‘Urgensi  dan Status Paguyuban Daerah di UI’ dihadiri oleh sejumlah paguyuban daerah yaitu Sintesa (Tegal), Sasambo (NTB), Imami (Sumbar), Saimala (Lampung), Smart (Garut), Urban (Bandung), dan Forkoma Banten.
Diskusi ini dpicu oleh forum sebelumnya dari sejumlah paguyuban daerah yang membahas tentang masa depan mereka yang masih bingung mau dibawa kemana. Hasil forum tersebut yaitu sejumlah paguyuban daerah tersebut sepakat untuk bersatu dalam payung Paguyuban Nusantara yang legal formal untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi selama ini oleh masing-masing paguyuban daerah dan juga untuk mencapai visi bersama mereka yaitu mendukung menyukseskan otonomi daerah di daerah masing-masing sebagai langkah menuju kebangkitan bangsa. Fokus bidang diarahkan pada bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan kebudayaan. Terkait hal inilah akhirnya dibutuhkan perspektif dari tiga petinggi lembaga kemahasiswaan diatas.
Cuaca yang kurang bersahabat malam itu membuat diskusi sedikit terlambat dimulai karena sejumlah peserta dan pembicara terhambat oleh hujan yang cukup deras. Sekitar pukul setengah delapan diskusi dimulai dengan dimoderatori oleh Rifky Arif Budianto (FH 2010) perwakilan dari Forkoma Banten. Tiga poin penjabaran dari tema diskusi malam itu yaitu mengenai urgensi paguyuban daerah, bentuk pola hubungannya dengan kembaga kemahasiswaan lain di UI, dan bentuk serta status dari paguyuban daerah tersebut.
Pada kesempatan pertama Andrea Sanjaya yang merupakan pembicara yang datang paling awal menyatakan bahwa terkait urgensi ada dua hal yang berseberangan yang dipahami oleh dua pihak yang sama-sama berasal dari rektorat. Bagian kemahasiswaan menganggap paguyuban daerah adalah sebagai tools yang positif membantu kinerja UI, sementara di sisi lain bagian fasilitas umum menyatakan bahwa paguyuban daerah hanya akan menimbulkan pengkotak-kotakan pergaulan dan memunculkan arogansi antar daerah di UI.
Hal inilah yang diduga menjadi penyebab tidak adanya titik temu dalam permasalahan ini. Dalam opini pribadinya Andreas  Senjaya menyatakan bahwa ia sendiri cukup mendukung kehadiran Paguyuban Nusantara sebagai suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UI.
Selanjutnya dalam pemaparan kedua Eko Aditya menyatakan bahwa ia sendiri masih belum cukup jelas apa peranan sentral dari paguyuban daerah. Ia mengkhawatirkan terjadinya tumpang tindih kegiatan dalam hal advokasi karena untuk hal tersebut sudah dikelola oleh pihak BEM. Menurutnya paguyuban daerah memiliki titik terberat hanya di bidang kekeluargaan. Hal ini pun langsung dijawab oleh paguyuban daerah yang hadir dengan hasil diskusi pada forum sebelumnya yang sangat menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian Eko juga menyatakan bahwa dalam UUD IKM UI paguyuban daerah belumlah diakui atau dianggap sama dengan organ ekstra kampus.
“Saya cukup merekomendasikan sebaiknya seluruh paguyuban daerah cukup dalam satu wadah Paguyuban Nusantara. Untuk dapat menjadi UKM di UI saat ini aturannya dikelola oleh pihak rektorat bukan lagi sepenuhnya oleh DPM”, ujar Eko menjelaskan.
Setelah itu pemaparan ketiga pun langsung dilanjutkan oleh Maman Abdurrahman. Maman yang dulu juga sempat hampir menjadi ketua Makabon (Makara Cirebon : Paguyuban Daerah asal Cirebon) menyatakan bahwa paguyuban daerah memiliki peranan vital bagi para mahasiswa daerah yaitu membentuk karakter mereka.
“Paguyuban daerahlah yang bertanggung jawab menjaga mereka dari awal masuk hingga kelak mereka tamat. Pola hubungan yang seharusnya dibangun oleh paguyuban daerah dengan lembaga kemahasiswaan lain yaitu sinergisasi. Untuk bentuk saya setuju berupa Paguyuban Nusantara karena hal ini mampu meruntuhkan arogansi daerah yang dicemaskan oleh salah satu pihak rektorat. Namun sebelum itu sebaiknya diadakan terlebih dahulu revitalisasi struktur, memperjelas bentuk atau format organisasi, dan mencari diferensiasi yang jelas dan kuat agar tidak tumpang tindih dengan lembaga kemahasiswaan lain yang telah ada”, tegas Maman.~

Paguyuban Daerah? Penting?


Sepenggal cerita pelecut semangat bagi teman-teman paguyuban daerah yang akan berkontribusi di daerah masing-masing di bulan Januari nanti.Selamat mengabdi!
Jawaban dari judul di atas akan kita temukan setelah membaca hingga selesai tulisan ini.
Berawal dari keinginan adanya komunikasi antar begitu banyaknya paguyuban daerah yang ada di UI. Maka tahun 2010 mulai diinisiasi kegiatan welcome maba bersama oleh 18 paguyuban daerah. Kegiatan ini yang akhirnya menjadi tonggak kelahiran forum komunikasi yang kemudian dinamakan “Paguyuban Nusantara UI”.
Paguyuban Nusantara UI salah satu tujuannya yaitu berupaya untuk memperjuangkan keadilan akan persamaan hak dan kewajiban paguyuban daerah selaku lembaga mahasiswa. Maman Abdurrahman menyebut paguyuban daerah sebagai lembaga mahasiswa yang lahir dan berkembang dari rahim UI dan ia sangat berbeda organ ekstra kampus lainnya yang lahir di luar UI.
Selama ini banyak paguyuban daerah yang merasa dikhianati oleh banyak pihak, baik dari lembaga mahasiswa maupun para birokrat di rektorat. Keberadaan mereka diperlakukan seperti anak tiri. Mereka dianggap sebagai organ ekstra kampus yang mengganggu.
Desember 2010, sama seperti tahun-tahun sebelumnya rektorat memanggil semua paguyuban daerah untuk datang ke rektorat mendengarkan sosialisasi tentang penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru UI dan juga dibagikan ketika itu sejumlah brosur SIMAK UI dalam jumlah yang sangat terbatas.
Secara tersirat kegiatan itu bertujuan untuk meminta bantuan kepada sejumlah paguyuban daerah untuk sosialisasi UI serta jalur masuknya. Sungguh mulia mereka para paguyuban daerah kembali dari tempat itu dengan ikhlas dalam kondisi brosur dan supporting system kegiatan yang sangat terbatas. Rektorat tidak pernah peduli tentang hal ini.
Mereka pun kembali ke daerah masing-masing dan menghabiskan waktu libur Januari untuk mengabdikan diri mereka dengan sejumlah kegiatan yang pada intinya sangat membesarkan nama UI di mata anak-anak Indonesia. Meskipun dukungan untuk acara sangat terbatas namun mereka tidak kehilangan semangat berjuang demi melihat senyum optimis adik-adik mereka menggapai masa depan yang lebih baik.
Ya begitulah sebulan waktu libur mereka habis tanpa terasa bersama keringat dan suara yang telah serak menyuarakan pendidikan berkualitas nan diharapkan masih berkeadilan. Terkadang sebagian orang tua mereka tidak mampu memahami pekerjaan luhur anak-anak mereka sehingga alhasil kemarahan pun mereka terima sepulang dari pekerjaan luhur itu. Tapi meskipun demikian mereka tetap bersyukur masih mendapatkan perhatian dari orang tua mereka.
Liburan telah usai dan mereka pun kembali ke kampus yang dulu rektoratnya meminta bantuan kepada mereka. Keikhlasan membuat mereka tidak terlalu mempermasalahkan ketidak-pedulian rektorat kepada mereka meskipun permohonan telah dikabulkan. Tidak masalah, kita meyakini banyak pekerjaan lain yang lebih penting dan mendesak hingga rektorat lupa akan sekedar ucapan terima kasih. Sekian bulan berlalu hingga waktu mendekati masa penerimaan mahasiswa baru (maba).
Dalam menyambut masa penerimaan maba, paguyuban daerah yang dulunya memberikan informasi secara langsung kepada para calon mahasiswa tentu merasa berkewajiban melanjutkan pekerjaannya. Dalam hal ini paguyuban daerah sepenuhnya menyadari bahwa dalam tindak advokasi mereka harus berkoordinasi dengan pihak Kesma BEM. Koordinasi pun dijalankan dan semua berjalan lancar sampai pada akhirnya terjadi kesalahan sistem informasi yang cukup fatal terkait pembayaran BOP B pada website penerimaan yang dikelola rektorat dan menimbulkan sejumlah pertanyaan dari para maba.
Secara kultural para maba lebih dekat dengan seniornya satu daerah yang dulunya memberikan informasi di Januari. Maka pertanyaan pun pertama kali diajukan kepada para paguyuban daerah. Karena keadaan yang mendesak dan pihak Kesma BEM pun tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut akhirnya salah satu paguyuban daerah mencoba bertanya langsung kepada bagian kemahasiswaan di PPMT dan jawaban yang diterima sungguh menampar keikhlasan yang dibina paguyuban daerah. “Karena kamu dari paguyuban daerah maka saya tidak bisa memberikan jawaban”. Jawaban ini akhirnya menyebabkan kerugian pun diderita oleh mahasiswa dari daerah terkait.
Beberapa bulan sebelumnya, tamparan lain juga sebenarnya telah menghampiri. Fasilitas Gazebo Asrama UI yang dulunya merupakan satu-satunya tempat favorit bagi paguyuban daerah untuk melakukan sejumlah kegiatan konsolidasi sekarang tidak lagi dapat digunakan. Peraturan baru dari Manajer Direktorat Fasilitas Umum (Dirfasum) yang membawahi asrama melarang tempat tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan terutama oleh paguyuban daerah. Sedangkan untuk meminjam ruangan di UI dikenakan biaya mahal disamakan dengan harga peminjaman dari pihak eksternal kampus.
Pergerakan paguyuban daerah semakin dikekang dan terbatas. Tamparan demi tamparan terus melecut semangat juang mereka. Mereka ikhlas. Semangat menyukseskan akselerasi otonomi daerah sebagai salah satu pilar kebangkitan bangsa merupakan visi dari paguyuban daerah yang bersatu dalam tekad nusantara : untuk Indonesia. Semangat tersebut justru semakin kuat. Bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan kebudayaan merupakan sorot utama dalam pergerakan ini. Sama sekali bukan gerakan separatis berpaham primordial, namun kita bicara tentang sinergisasi pergerakan. Universitas Indonesia sudah seharusnya benar-benar memberikan kebermanfaatan yang meng-Indonesia. Fondasi Indonesia ada di daerah-daerah.
Bhineka Tunggal Ika!