Showing posts with label Ke(pemimpin)an. Show all posts
Showing posts with label Ke(pemimpin)an. Show all posts

Monday, August 29, 2016

Risma dan pembangunan-berkelanjutan



Kondisi yang membutuhkan pembangunan strategis

Seiring dengan mendekatnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017, perhatian publik yang digiring media terhadap topik ini pun semakin meningkat. Tak Cuma partai politik (parpol), aliansi masyarakat sipil beserta sejumlah organisasi pun turut serta meramaikan bahasan ini dengan mengusung sejumlah calon. Hal ini semakin menjadi-jadi setelah Basuki Tjahja Purnama (Ahok), calon incumbent, menetapkan untuk maju melalui jalur parpol. Keputusan ini membuat sejumlah pihak yang tidak menginginkan Ahok sebagai gubernur lagi, menjadi cemas dan langsung ribut memaksa calon lain yang tak kalah kuat, salah satunya adalah Tri Rismaharini (Risma), Walikota Surabaya saat ini yang berprestasi.

Sejumlah seruan dan bujukan untuk Risma menjadi calon gubernur Jakarta sontak menggeliat dimana-mana. Mulai dari masyarakat sipil, warga Kelurahan Kalianyar, Jakarta Barat dan warga Jatinegara Ilir beberapa waktu lalu menggelar deklarasi mendukung Risma menjadi calon gubernur (Cagub) DKI. Alasan warga tersebut adalah karena ingin Jakarta dipimpin figur yang lebih merakyat dan mengedepankan dialog. Kemudian disusul oleh pernyataan sejumlah Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) yang juga menyatakan Risma pantas didukung untuk maju menjadi Cagub DKI melawan Ahok.

Tak cuma itu, media massa pun turut berkonspirasi menggiring berita seolah-olah Risma akan maju jadi Cagub DKI. Sebuah pidato Risma di Surabaya yang menyatakan permintaan maaf akibat ia tidak menghadiri sebuah acara di Surabaya, di-framing menjadi permintaan maaf untuk maju jadi Cagub DKI. Tampaknya media pun sangat memanfaatkan topik ini untuk meningkatkan popularitas portalnya.

Kenapa 230 juta populasi hanya dapat satu emas?




Brasil akhirnya meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 untuk cabang sepak bola putra setelah mengalahkan Jerman. Namun tim putri Jerman sebelumnya mengobati kekalahan ini, untuk kali pertama, mereka meraih medali emas Olimpiade seusai mengalahkan Swedia di final. Hal ini akhirnya membuat kedua negara masuk dalam daftar negara peraih medali emas untuk sepakbola di olimpiade.

Negara peraih gelar juara sepakbola olimpiade terbanyak bukanlah Brasil, Argentina, Jerman atau negara sepakbola yang lain, melainkan adalah Hungaria. Hungaria merupakan tim dengan raihan medali emas Olimpiade terbanyak, bersama Britania Raya dengan tiga gelar. Hungaria menjadi juara pada Helsinki 1952, Tokyo 1964, dan Mexico City 1968. Ada pula Rusia yang menjadi juara Olimpiade dua kali ketika masih bernama Uni Soviet. Mereka melakukannya pada 1956 dan 1968.
Sementara itu, Argentina menjadi negara tersukses di abad 21 dengan kesuksesannya meraih medai emas pada tahun 2004 dan 2008. Pada tahun 2008, di bawah komando Lionel Messi, pemain terbaik asal Barcelona tersebut sukses mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Negara lain yang berhasil meraih medali emas di abad ini adalah Kamerun (2000), Meksiko (2012), dan terakhir, Brazil.

Yang menarik, faktanya sejak sistem timnas u-23 diperkenalkan di Atlanta 1992 hanya Spanyol satu-satunya negara Eropa yang berhasil menjadi kampiun. Selebihnya, medali emas dikuasai oleh Nigeria dan Kamerun dari CAF (Afrika), lalu Argentina dua kali dari CONMEBOL (Amerika Selatan), juga Meksiko dari CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah)

Lalu pertanyaan klasiknya, mengapa negara-negara tersebut yang juara? Dan jawaban klasiknya tentu karena negara tersebut punya banyak pemain berkualitas yang dapat bekerjasama dalam tim yang juga baik. Berikutnya bagaimana mereka bisa mendapatkan dan melahirkan pemain-pemain tersebut? Negara-negara di atas memilih para pemainnya, Brazil dari 200 juta penduduknya, Jerman dari 80 juta jiwa dan Hungaria dari 10 juta penduduknya di tahun 1968, terakhir kali mereka meraih emas sepakbola di olimpiade. Lalu Argentina, Kamerun dan Meksiko, masing-masing berturut dari 39 juta, 15 juta dan 120 juta jiwa, saat mereka meraih juara.

Dari fakta di atas, hanya Brazil negara yang memiliki jumlah populasi lebih dari 200 juta dan berhasil meraih emas sepakbola di Olimpiade, akhirnya di 2016. Lalu bagaimana dengan raihan Brazil di olahraga lain pada olimpiade saat ini? Per 22 Agustus lalu, dari 471 atletnya Brazil meraih 7 emas dan berada di posisi 13. Adalah deretan angka-angka yang menarik, statistik menunjukkan bahwa negara berpopulasi besar yang bahkan sudah mengirim ratusan atlet di olimpiade, namun masih sulit setidaknya berada dalam posisi sepuluh besar.

Tuesday, November 24, 2015

Dari Nelayan sampai Satelit

Pesisir Pantai Medewi, Jembrana, Bali

Hanya sekitar dua bulan lagi, ASEAN (Association of South East Asia Nations) Economic Community-AEC akan dimulai. Masyarakat ASEAN akan hidup lebih dekat satu sama lain dan saling bersaing lebih ketat di sisi lain.

Di waktu yang sama juga, UN (United Nations) akan memulai SDGs (Sustainable Development Goals) sebagai agenda pembangunan dunia bersama seluruh negara, menggantikan MDGs (Millenium Development Goals) yang berakhir. Pergantian tahun ini tampak sangat sibuk.

Tuesday, May 5, 2015

Roads to Castle

https://www.kiwicollection.com/blog/game-of-thrones-filming-locations/29968

Different roads sometimes lead to the same castle – George R Martin. Game OfThrone

Recently, I really enjoyed watching the TV Show Game of Throne (GOT). This show is another way to learn about my favorite subject, geopolitics.

Chris O'Regan, a user of Quora, a knowledge website,  said that GOT has drawn inspiration from actual historical  events. The biggest similarity is that the story resembles events that occurred during medieval times in England particularly the Wars of the Roses. There are two houses in GOT, Stark and Lannister. Stark sounds like York and Lannister sounds like Lancaster.

Watching GOT also reminds me of my undergraduate thesis in 2012. I wrote about political contestation between student groups in my university, from a geopolitical point of view. Some people said it was an unusual topic. But in 2014, it was published as a book titled ‘Geopolitik Islam Kampus’ (Islam Geopolitics in University) and until now I still get orders for it . I had also essays published in other anthologies.

Tuesday, June 10, 2014

#thankSBY

Laporan Bappenas tentang MDGs di era SBY
by ibnubudiman

Chirpstories

Thursday, October 17, 2013

Seragam

http://plymouthuccyouth.files.wordpress.com/2010/06/img_0069.jpg

‘Jadikanlah semua tempat sebagai sekolah, dan semua orang adalah guru’

Kutipan ini disampaikan di sebuah pembukaan pelatihan bagi para peserta pertukaran pemuda Indonesia ke negara maju. Secara ‘nilai’, makna dari kutipan tersebut nyaris sempurna dan membuat kepala para peserta mengangguk-angguk tanda setuju. Mereka pun bergairah memulai pelatihan yang muatannya akan menjadi bekal bagi mereka nanti untuk hidup di negara maju tersebut.

Pelatihan dimulai, sejumlah aturan dikemukakan, disebutkan oleh satu wajah. Lalu di hari berikutnya, wajah lain muncul tanpa perkenalan dan membuat aturan baru. Kemudian, beberapa saat kemudian, wajah baru lagi hadir dengan aturan baru LAGI dan bahkan gerak-geriknya tampak seperti sangat bertentangan dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Miris, semua wajah itu adalah alumni dari program pertukaran pemuda tersebut.

Sunday, October 13, 2013

Penonton yang Menang

http://statik.tempo.co/data/2013/09/22/id_222067/222067_620.jpg

Bola itu pun terhenti, di tengah genangan atau mungkin lebih bisa disebut kubangan air di pinggir lapangan. Hujan berhari-hari membuat lapangan tua itu hampir menyerupai kolam ikan, rupa-nya lebih didominasi c-air-an dibanding re-rumput sakit yang kedinginan.

Para pemain timnas mulai tampak kelelahan, nafasnya tersengal, darah di otak pun sepertinya tak mengalir normal lagi ; mereka mulai kehabisan akal. Sementara papan skor menunjukkan mereka masih tertinggal, tekanan mendera.

Friday, September 13, 2013

(Masih) Samo-Samo Karajo

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAhPHyz_gYDQDV-nH2hY4eOYBOfmM5xk-dBA6h2u9luKX9CE3YDapEIoy_jfwNgsGrxgO4d6MrYrISAHKlXG0zJs0bJ2FoFVLZZqJF6ZBNP24n5ecT19zM5dtYtfqJoFG6x4U-RppbmsE/s1600/as.jpg

Hujan mengguyur kota Padang beberapa hari di minggu-minggu terakhir ini, membasahi kertas-kertas dan kain-kain bergambar aneka wajah yang minta dikenal. Bersama dengannya, slogan-slogan klise beserta nama-nama bergelar yang terpampang didalamnya menciut dingin, basi dan hambar.

Sekitar delapan abad yang lalu, tidak jauh dari kota tersebut berdiri Kerajaan Minangkabau yang menjadi akar peradaban Sumatera Barat (Sumbar) saat ini. Ketika itu di dalamnya terjadi pertentangan antara dua pemimpinnya. Ialah Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang. Perbedaan ide dasar antara mereka kemudian membawa perpecahan kerajaan ke dalam dua sistem politik, yaitu Lareh Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Monday, September 2, 2013

Evaluate Ourselves

http://www.brightcookie.com/wp-content/uploads/2012/12/evaluation.jpg


Leadership

We have to give our best contribution personally and also in teamwork. We fill the empty spaces in job description, work optimalization, and sharing information and knowledge. We should know and understand well about what is meaning of ‘responsibilty, and that is why we do our job. Each job is not only for our self, but it also give influence for others, it is connected each other ; human and also non human ; sustainable life.

Rules for Self-Management

http://integra-leadership.com/press/wp-content/uploads/2011/03/leader-self-management.jpg

Management is not just for managers, just as leadership is not just for leaders.
We all manage, and we all lead; these are not actions reserved for only those people who happen to hold these “positions” in a system or structure. I personally think of management and leadership as callings, and we all get these callings to manage and lead at different times, and to different degrees.

Sunday, August 18, 2013

Saya (Masril Koto) Belajar (Sociopreneur)

http://media.viva.co.id/thumbs2/2013/01/02/23016-0_663_382.jpeg
Add caption

Saya tidak banyak berteori (banyak bicara), saya terinspirasi dari seorang tokoh Bung Hatta yang banyak membawa semangat kebersamaan, kerakyatan. Saya banyak belajar secara otodidak, belajar dari rakyat langsung, bung hatta juga gemar melakukan hal ini. Pemikiran-pemikiran beliau dalam kerangka ke Indonesiaan, ekonomi kerakyatan, salah satu contoh produknya adalah konsep koperasi. Sederhana saja pertimbangan saya dalam bergiat dalam kegiatan saya sekarang, hanya ingin menebar kebermanfaatan, atau singkatnya ingin masuk surga bersama-sama.

Monday, July 15, 2013

Beyond Technique: Teaching How to Think Structurally

http://kalaharimeetings.files.wordpress.com/2013/07/structure.jpg


The presenter held a potato in his left hand and a refreshment straw in the right one. Seconds later the straw had neatly perforated the potato from side to side. Most of the aspiring young executives in the audience accepted the invitation to try themselves, but after a few frantic attempts, the table was littered with dented potatoes, broken straws, and damaged egos. The presenter then called the executives’ attention on a technical trick: his right thumb was firmly placed on the upper end of the straw, cutting the air flow and giving the straw more rigidity. With renewed enthusiasm, the leaders-to-be tried again-—and again they failed. Now the presenter was ready to make his point: “I observed that your movements were hesitant, as if you were wondering whether the straw would go through the potato or not.” He demonstrated his own movements once more. “You see, I know that I can get the straw through the potato, so I move my right hand in one single, fast thrust, and I do it.”

Sunday, July 7, 2013

Suspending Judgement

http://lateralaction.com/base/media/post-images/magnifying.jpg

How to Build Effective Teams through Critical and Creative Thinking

Just beneath the surface of polite behavior in most meetings there lurks a primitive---even savage---struggle for turf and power. Emerging concepts get lost in hidden, underground conflicts. Good ideas are attacked and destroyed even before they are understood. Useful thoughts are prematurely cut off by interruptions unconnected to previous statements. Most of what happens in meetings is a colossal waste of time and energy.

One exasperated manager told me recently that in most of the meetings she attends, 95% of the time is caught up in jockeying for power and other such activities unrelated to the purpose of the meeting. "All this stuff just gets in the way," she said. Another told me, "So often we spend more than half our meeting time just wandering. It's a wonder anything ever gets done !"

Sunday, June 23, 2013

Racism

http://us.123rf.com/400wm/400/400/macx/macx1003/macx100300223/12188021-prejudice-racism-discrimination.jpg

Racism is the belief that a particular race is superior or inferior to another, that a person’s social and moral traits are predetermined by his or her inborn biological characteristics. Racial separatism is the belief, most of the time based on racism, that different races should remain segregated and apart from one another.

Tuesday, June 18, 2013

Canada World(ing) Youth

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&docid=bjPnYJ2WYc10CM&tbnid=xtUpFvDWB2kZfM:&ved=0CAUQjRw&url=http%3A%2F%2Fpcmikepulauanbabel.blogspot.com%2F2012%2F04%2Ficyepppik.html&ei=XnzAUbTrB8eHrQfImIDoCQ&bvm=bv.47883778,d.bmk&psig=AFQjCNH-SufQ33HRmzQt_miyXN071EvFjg&ust=1371655614556607


There are many youth organizations in worldwide. They have different style to express their idea. One of them whose good track record is Canada World Youth (CWY).

Canada World Youth (CWY) is founded in 1971 by Jacques Hébert. A writer, editor, politician, and tireless globetrotter who travelled to more than 130 countries around the world, Jacques Hébert was inspired by a deep commitment to young people and a desire to bring cultures closer together. In 1972- 1973, The first groups of young Canadians are sent to Cameroon, Malaysia, Mexico, Tunisia, and the former Yugoslavia. More than ten years after its creation, CWY is running educational programs between Canada and more than twenty-five countries in Africa, Asia, Europe, Latin America, and the Caribbean.

Monday, June 17, 2013

Youth and MDGs



http://www.unhabitat.org/images/content/image_in.jpg


Some countries in africa and asia still got many problems with each targets of MDGs (Millennium Development Goals). There are eight MDGs – which range from halving extreme poverty rates to halting the spread of HIV/AIDS and providing universal primary education, all by the target date of 2015 – form a blueprint agreed to by all the world’s countries and all the world’s leading development institutions. They have galvanized unprecedented efforts to meet the needs of the world’s poorest. MDGs which is created by UN and its partners for building a better world, now its limit is getting closer.

Friday, May 3, 2013

Gerakan Peretas Batas


Sumber : http://di.dk/globalleadershipacademy/newsandarticles/insights/pages/theglobalmanagersboundaryspanningrole.aspx


Jamaah ‘Cilik’ Tabligh

HMI, sebuah akronim yang samar-sayup terdengar dahulunya ketika penulis masih duduk di bangku sekolah menengah. Entah dimana akronim itu pernah didengar, tidak ada ingatan persis yang muncul hingga detik tulisan ini mengalir. Tapi yang pasti nama ini pernah bersuara di pikiran penulis sekitar enam tahun yang lalu.

Tumbuh kembang di lingkungan sekolah umum negeri milik pemerintah, membuat penulis tidak terlalu banyak bersentuhan dengan ragam pemikiran Islam. Meskipun dahulunya ketika masih sekolah dasar (SD) penulis bercita-cita ingin masuk salah satu pondok pesantren di Tanah Jawa dan ternyata kandas karena kekurangan dana, namun cita-cita mempelajari Islam lebih jauh ternyata tidak berlanjut di sekolah menengah karena ditebus oleh godaan masa remaja yang tak kuat menahan serangan globalisasi.

Meskipun demikian, selain di sekolah formal, lingkungan keluarga penulis cukup membantu untuk mengenal Islam secara lebih menurut Kitab Fadhilah Amal yang disusun oleh Muhammad Zakariya al-Kandhlawi. Sejak sekitar usia 10 tahun penulis berkenalan dengan sekumpulan bapak-bapak berjubah dan bersorban yang rutin pengajian setiap kamis malam di sebuah masjid, kemudian jumat paginya mereka berangkat berkelompok-kelompok menyebar ke berbagai daerah untuk ‘berdakwah’ dalam rentang waktu tertentu. Pada akhirnya penulis mengetahui mereka menamakan kelompoknya dengan nama “Jamaah Tabligh”.

Ya penulis ikut bergabung dengan jamaah ini semenjak SD karena ikut bersama ayah yang tertarik untuk bergabung dengan mereka ketika itu. Setiap malam di rumah kami pun berkumpul untuk membaca dan mempelajari kitab yang disebutkan di atas. Kitab tersebut hampir menjadi tuntunan utama mengalahkan Al Qur’an bagi kami ketika itu, karena porsi waktu membacanya yang melebih waktu memahami Al Qur’an. Rutinitas setiap malam ini disebut dengan “Ta’lim”.

Pertemuan pengajian rutin mingguan di masjid (baca : markas) yang telah ditetapkan pun juga penulis ikuti dahulu bersama dengan ayah. Hingga sampai dakwah ke daerah-daerah dengan menginap di mesjid pun penulis lakoni dulu ketika SD. Semangat keislaman ketika itu yang dimiliki penulis terseret sudah ke dalam aliran pemikiran Jamaah Tabligh. Hal ini juga yang mendorong keingingan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren ketika itu.

Memasuki sekolah menengah pertama hingga tingkat atas, pengetahuan Islam penulis masih didominasi oleh pemikiran Jamaah Tabligh bersama Fadhilah Amal-nya. Meskipun ketika di SMA penulis sempat mengikuti kegiatan organisasi Rohis, namun tetap saja tidak banyak pemikiran keislaman yang menggugah yang didapatan disana dikarenakan memang kualitas sumber daya manusia yang ada disana relatif rendah dan mereka juga bagian dari Jamaah Tabligh.

Sehigganya, hingga SMA usai tidak banyak pergolakan pemikiran Islam yang berkecamuk di pemikirian penulis. HMI pun cuma terdengar samar-sayup, seperti yang dijelaskan di atas.

Pesantren Tarbiyah UI

Awal masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), penulis serasa masuk ke dalam area pesantren. Bagaikan kota santri, hampir setiap orang yang ditemui disana terlihat begitu santun dan islami (menurut pemahaman Islam penulis ketika itu). Para lelaki dengan baju koko dan celana bahan yang panjangnya tidak melebihi mata kaki mendominasi mewakili potret lelaki disana. Di sela percakapan mereka, terdengar mereka saling memanggil dengan kata “ane-ente-akhi”. Di sudut yang lain para perempuan berjilbab besar pun juga berkumpul sesamanya dan terdengar panggilan “ukhti”.

Bagi penulis ketika itu, suasana kampus tersebut terasa begitu damai. Maka tak heran juga terdengar sebutan-sebutan dari luar yang menyebut FMIPA UI sebagai pesantren-nya UI. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di FMIPA UI pun tak lepas dari unsur-unsur keislaman, simbol-simbol Islam bertebaran dimana-mana, bahkan di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) disana hingga Himpunan setiap jurusan memiliki bidang khusus yang mengurusi kerohanian Islam para anggota organisasinya.

Lingkungan fakultas tersebut sangat Islam, ditanamkan melalui simbol-simbol hingga kegiatan-kegiatan. Namun dibalik semua identitas keislaman fakultas tersebut, ada sebagian kecil kelompok mahasiswa yang kurang senang dengan gaya-gaya keislaman tersebut. Mereka bukan saja non-muslim, namun juga para muslim. Mereka menilai para lelaki dan wanita yang lekat dengan simbol-simbol Islam tersebut bersifat ekslusif. Tidak membumi bersama mereka. bertindak seolah membenci golongan mereka. Hal ini dilihat dari gaya pergaulan para “akhi-ukhti” tersebut yang terbatas di kelompok mereka saja, hingga akhirnya keluar istilah “anak mushola”.

Anak mushola bagi penulis ketika itu tak jauh berbeda dengan para anak rohis di SMA dahulu, mulai dari simbol-simbolnya hingga perilakunya. Penulis menganggap tidak banyak perbedaan, sampai akhirnya penulis membaca sebuah artikel terbitan badan otonom pers mahasiswa di kampus yang mengangkat judul “Gerakan Politik Tarbiyah di Kampus-Kampus Besar di Indonesia”.

Dalam artikel tersebut akhirnya penulis mengetahui bahwa sekumpulan anak mushola yang ditemui di lingkungan kampus dan juga anak rohis di SMA tersebut memiliki sebuah jejaring besar yang memiliki sebuah visi pergerakan. Dalam artikel itu mereka disebut dengan istilah “anak tarbiyah”. Mereka tersebar hampir di seluruh kampus besar di Indonesia dan bahkan juga SMA-SMA. Dimulai dari organisasi rohis SMA, mereka mulai menanamkan pemahaman keislaman menurut mereka berdasar tokoh-tokoh Hassan Al Banna, Sayyid Quttub, dan Gerakan Ikhwanul Muslimin lainnya yang berawal dari Turki.

Selepas tamat dari SMA, para alumni rohis ini diberikan sebuah surat pengantar untuk diantarkan ke cabang mereka di dekat kampus si anak. Mereka disini telah disebut sebagai kader. Masuk di dunia kampus, mereka pun bergabung di lembaga-lembaga dakwah yang ada di kampus-kampus. Lalu di tahun kedua di kampus, kader-kader terbaik mereka disebar untuk menguasai lembaga-lembaga kemahasiswaan lain dan juga posisi-posisi strategis lain di kampus. Gerakan bawah tanah mereka sangat rapi dan cantik terlihat dari luar.

Dengan menggunakan  sistem mentoring atau liqo’ para kader tarbiyah ini didoktrin tentang Islam menurut pemahaman para tokoh Ikhwanul Muslimin. Mereka berpolitik, hal ini tidak terbantahkan karena dibuktikan dengan kecondongan salah satu partai politik (parpol) kepada golongan mereka.

Sistem dan alur kaderisasi serta pembinaan yang mereka lakukan sangat rapi dan bersih terlihat dari luar. Meskipun di dalamnya mereka bahkan juga menggunakan strategi tokoh boneka untuk dapat memenangkan hukum demokrasi. Bagi mereka, hal ini dihalalkan karena demi kemaslahatan umat menurut mereka.

Usai mengenal dan mengetahui seputar gerakan politik tarbiyah tersebut, penulis mulai sedikit paham dengan ragam warna pergerakan dan pemikiran Islam. Setelah itu juga, penulis sedikit mulai tahu bahwa HMI adalah lawan dari tarbiyah.

Ahmad Wahib

Berawal dari sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan di kampus. Awalnya penulis tidak terlalu paham dengan apa buku itu hingga siapa itu penulisnya. Penulis hanya ingin mengisi kegiatan dengan hal bermanfaat tatkala masih bersama status mahasiswa baru di kampus. Dalam bedah buku tersebut si pembicara berkoar-koar tentang kekagumannya akan pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib, penulis dari buku yang dibedah : “Pembaharuan tanpa Apologia”.

Ketika mendengarkan seminar tersebut, penulis belum terlalu paham siapa itu Ahmad Wahib dan apa sebenarnya isi dari bukunya tersebut sehingga para pembicara di acara itu mengagung-agungkan dia. Namun demikian, rasa penasaran memaksa penulis ketika itu untuk membaca dan memahami isi buku tersebut hingga tuntas.

Usai membaca buku tersebut itulah akhirnya penulis paham mengapa si pembicara mengagumi pemikiran Ahmad Wahib. Wahib ialah seorang pemuda cerdas yang bergulat dengan pemikiran-pemikiran keislamannya sejak muda. Dulu ia tergabung di HMI, dan di tengah jalan ia memutuskan untuk keluar karena merasa ada yang salah dengan HMI dan ia merasa sudah tidak lagi cocok.

Buku “Pembaharuan tanpa Apologia” tersebut adalah kumpulan dari catatan-catatan harian Wahib yang ditanggapi dengan tulisan-tulisan lain oleh para penulis lainnya. Dalam catatan-catatan hariannya, Wahib menyatakan kegundahan, keresahan, dan berbagai pertanyaan tak terjawabnya kepada Tuhan. Wahib menyuarakan refleksinya akan relatifitas kebenaran-kebenaran yang memaksa.

Wahib juga banyak bercerita seputar perjuangannya di HMI. Ia memperjuangkan netralitas dan keobjektifan berpikir dan bertindak di tubuh HMI kala itu. Namun di sisi lain ternyata sebagian pihak melihat usaha Wahib ini tidak ideal menurut mereka. Pihak tersebut menekankan bahwa HMI harus berpolitik agar dapat memaksimalkan pengaruhnya. Wahib menentang hal ini dan ternyata perjuangannya tidak berhasil meraih banyak massa yang mendukungnya. Alhasil Wahib pun akhirnya lebih memilih untuk mundur dari HMI dan melanjutkan kebebasan berpikirnya yang out of the box.

Beberapa kutipan pemikiran Wahib yang populer yaitu :

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. (Catatan Harian 9 Oktober 1969)

Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam, Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah, yaitu dari sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang produktif, analitis dan kreatif. (Catatan Harian 16 Agustus 1970)

Mengenal Wahib dan pemikirannya serta sedikit keterangan tentang HMI ketika itu, membuat penulis memiliki keinginan lebih untuk mencari tahu lebih banyak tentang hal tersebut. HMI berhasil melahirkan pemikir revolusioner Islam yang luar biasa seperti Wahib. Namun HMI hari ini, kondisinya sepertinya sangat jauh dari kemungkinan lahirnya Wahib-Wahib berikutnya. HMI di mata publik, terutama sebagian besar mahasiswa saat ini, kalah kepercayaan dibanding Tarbiyah.

Islam Rahmatan lil Alamin

Salah satu ajaran Al Qur’an yang banyak dikutip oleh berbagai ulama yaitu kata kunci “Islam sebagai Rahmatan lil Alamin atau rahmat bagi seluruh alam”. Penulis sangat setuju akan hal ini bahwa Islam  memang merupakan rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam, baik bagi seluruh makhluk hidupnya maupun benda matinya. Ketika Islam memang bersifat seperti ini berarti Islam memang dapat diterima oleh semua manusia. Lalu wajah Islam seperti apa yang dapat diterima oleh semua manusia yang dilahirkan dan berkembang dalam keyakinan yang berbeda-beda ?

Ketika bergabung dengan Jamaah Tabligh Islam dipahami sangat simbolis dan kurang kontekstual. Dalam Kitab Fadhilah Amal yang dijadikan pegangan inti jamaah banyak dijelaskan hadist nabi terkait fadhilah tiap jenis ibadah ; fadhilas shalat, puasa, dzikir, dan lain lain. Pemahaman akan hadist nabi dipraktekkan secara telanjang atau tanpa mempertimbangkan relevansi dengan kondisi kekinian zaman.

Konsep dakwah yang dilakukan dengan metode menginap di mesjid-mesjid dan melakukan ceramah ke warga-warga sekitar menurut Jamaah Tabligh sangat meniru konsep yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dulu. Konsep ini banyak menuai protes dan kecurigaan dari masyarakat, sehingganya tidak sedikit warga yang akhirnya menuding jamaah ini sebagai aliran sesat.

Kemudian dari gaya hidup termasuk gaya berpakaian. Jamaah ini biasa menggunakan pakaian seperti jubah dan kepala ditutupi sorban. Lalu mereka juga membiasakan menggunakan siwak yang biasa digunakan Nabi Muhammad SAW untuk menggosok gigi. Dari contoh-contoh ini bisa dilihat bagaimana mereka memahami sunnah Rasulullah SAW kurang kontekstual. Terjadi distorsi pemahaman antara nilai Islam dengan budaya arab.

Gaya berpakaian yang diajarkan Islam sesungguhnya adalah menutupi aurat, karena aurat dapat memicu nafsu manusia yang dekat dengan kejahatan. Banyak jenis pakaian yang seharusnya dapat menutupi aurat, namun Jamaah tabligh tidak menangkap pemahaman tersebut. Bagi mereka semua hal apapun yang ada di diri Nabi Muhammad SAW adalah hal yang baik dan semuanya harus diikuti.

Pemahaman yang sama juga mendasari mereka menggunaan siwak. Padahal kondisi saat ini akibat perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan telah ditemukannya benda lain yang mampu menggantika fungsi siwak tanpa mengurangi nilainya. Nilainya adalah mampu membersihkan gigi. Namun lagi-lagi bagi Jamaah Tabligh mereka kurang cerdas memahami nilai-nilai dibalik semua yang ada di diri Nabi Muhammad. Alhasil pemahaman mereka terhadap Islam pun menjadi terbatas pada simbol dan praktek syariat.

Pemahaman Islam seperti di atas sulit untuk diterima oleh semua manusia, karena dinilai tidak logis, primitif, dan mistis. Akhirnya penulis menilai jalan dakwah Islam yang ditempuh mereka masih perlu dicerdaskan lagi.

Selanjutnya, penulis melirik ke gerakan tarbiyah. Secara pemahaman Islam sebenarnya tidak banyak yang berbeda antara tarbiyah dengan Jamaah tabligh yang sama-sama terbatas pada simbol dan praktek syariat. Namun sedikit lebih progresif, gerakan ini bergerak lebih rapi, cantik, dan masif. Tarbiyah mengkader para pemuda-pemuda dengan strategi politik yang taktis. Sehingga hal inilah yang membuat mereka berkembang pesat.

Hanya saja sayang pemahaman Islam mereka yang minim nilai filosofis dan juga gaya pergaulan yang ekslusif membuat mereka masih belum bisa diterima oleh semua kalangan. Islam mereka belum bisa bersifat universal. Kesolidan internal mereka yang luar bisa membuat mereka tumbuh menjadi kelompok yang angkuh dan mengklaim semua golongan diluar mereka adalah kafir dan bahkan disebut sebagai musuh Allah.

Beberapa kalangan menyebut mereka sebagai kelompok konservatif. Mereka sangat antipati dengan ilmu-ilmu asing dan istilah liberal, bagi mereka ilmu-ilmu dan pemikiran liberal sebagai ancaman bagi keaslian Islam. Tarbiyah cenderung menutup diri dari pengaruh pemikiran asing. Para kader mereka bahkan dilarang membaca buku-buku yang mereka anggap liberal. Hal ini pun membuat kader-kader mereka miskin pengetahuan umum dan cenderung buta akan pemahaman-pemahaman filosofis.

Gaya konservatif tarbiyah ini pun akhirnya tidak disetujui oleh penulis karena menyebabkan gerakan ini akan stagnan dan tidak berkembang. Sehingga semakin sulit untuk dapat berbaur dengan dunia luar, apalagi untuk dapat diterima oleh seluruh kalangan.

Setelah merasa tarbiyah pun belum mampu mewakili wajah Islam yang me-rahmatan lil alamin. Penulis pun mencoba mengenal HMI lebih jauh. Usai mengenal dan memahami pemikiran Wahib, penulis melanjutkan pengembaraan mengenal tokoh besar HMI lainnya seperti Nurcholis Madjid (Cak Nur), ideologi HMI, dan juga mengamati kondisi kekinian HMI.

Melalui pemikiran Wahib penulis menemukan bagaimana Wahib menempatkan Islam secara objektif dan memiliki toleransi yang besar terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Selanjutnya Cak Nur juga menyatakan bahwa Islam adalah kumpulan nilai-nilai universal yang maknanya dapat memberikan petunjuk kepada seluruh manusia. Disini penulis merasa bahwa pemahaman-pemahaman ini mulai menjawab bahwa Islam yang seperti inilah yang dapat benar-benar menjadi rahmatan lil alamin.

Selanjutnya, dalam Nilai Dasar Perjuangan HMI juga ditekankan bahwa pemahaman akan Islam seharusnya adalah paham akan esensi dari tiap perintah yang tertera dalam Al Qur’an maupun hadits. Jika dianalogikan Islam sebagai gelas berisi air, maka yang paling penting adalah airnya. Airnya inilah yang seharusnya dipahami umat sebagai tujuan mereka, bukan gelasnya. Air tersebutlah yang sebenarnya mengandung nilai-nilai universal yang me-rahmatan lil alamin.

Kondisi kekinian umat Islam saat ini terutama di Indonesia banyak yang tidak menyadari akan hal ini. Jamaah tabligh dan tarbiyah terjebak dalam pemahaman pentingnya gelas. Pada hakikatnya gelas juga penting sesungguhnya, namun bukan itu tujuannya, tujuannya adalah air. Salah satu contoh keterbatasan pemahaman umat Islam saat ini yaitu ketika membaca Al Qur’an. Banyak umat Islam Indonesia membaca Al Qur’an tanpa memahami tafsirnya. Mereka terjebak dalam pemahaman bahwa membaca huruf arab Al Qur’an dapat memberikan banyak faedah. Padahal sesunggunya faedah yang dimaksud adalah ketika kita memahami tafsirnya dan dapat mengamalkan hikmah ayat-ayat Al Qur’an tersebut.

HMI di awal berdirinya melalui para tokoh-tokoh yang mereka lahirkan dan dalam buku-buku teks pemikiran keislamannya berjuang mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Hal inilah yang menyebabkan kecendrungan berpikir penulis akhirnya mengarah kepada kelompok ini.

Kemunduran HMI

Berbagai pandangan sinis dan miring tentang HMI hari ini bertebaran dimana-mana. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, mengingat memang kondisi HMI hari ini tidak lagi seperti masa kejayaannya di awal berdiri hingga era Cak Nur dahulu. Bahkan kemunduran HMI ini pun diakui oleh Cak Nur. HMI hari ini sudah hampir kehilangan arah. Perjuangan mereka hanya terbatas di ruang-ruang kelas latihan kepemimpinan (LK) dan konspirasi politik.

Sejumlah kader HMI hari ini bisa dilihat kualitasnya yang sangat jauh dibawah para tokoh-tokoh terdahulunya. Sebagian besar mereka larut dalam romantisme masa lalu kejayaan dan kebesaran nama alumni-alumni mereka. Mereka hanya bisa bercerita dan merasa bangga akan raihan alumni-alumni mereka tanpa berupaya bercermin diri apa yang telah mereka raih dan lakukan demi peradaban.

Jika kita berkunjung ke tempat-tempat pelatihan pengkaderan HMI, disana kita akan temui asap-asap rokok mengepul dimana-mana, sejumlah pria bertindik anting dengan obrolah angkuh sok pintar mencaci maki golongan lain, dan gaya malas lain lainnya. Itulah mereka potret sebagian besar kader HMI hari ini. Jika mungkin dahulu orang-orang seperti ini disebut sebagai oknum atau bagian kecil yang buruk dari HMI, namun hari  ini para oknum ini sudah hampir dominan. Sehingganya merekalah yang hari ini akhirnya mewakili wajah HMI.

Para kader hari ini telah terjebak dalam kebebasan berpikir yang tidak lagi kontekstual dengan kebutuhan zaman. Mereka terlalu banyak berwacana, berdiskusi, euforia kebencian terhadap kelompok lain, dan merasa angkuh dengan ilmu yang belum seberapa. Hingga akhirnya lupa akan cita-cita utama menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

Sebagian besar alasan mereka bergabung di HMI, jawabannya adalah jaringan. Para alumni HMI yang telah tersebar dimana-mana mereka anggap sebagai peluang mereka untuk mudah menjajal karir politis. Itulah sebagian besar kader pragmatis yang ada di HMI hari ini. Niat mereka bergabung di HMI awalnya sudah sangat berbeda dengan para tokoh terdahulu yang bergabung karena memang ingin belajar dan mengabdi bersama membangun peradaban Islam dan Indonesia.

Semua kondisi buruk kader HMI di atas saat ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Karenanya pandangan terhadap HMI pun menjadi tidak lagi baik di kampus-kampus. HMI dipandang sebagai kelompok yang terkenal mengacau dan membuat kerusuhan di kampus-kampus. HMI tidak lagi dikenal sebagai pencipta ide-ide dan pemikiran brilian seperti dahulunya.

Penurunan kualitas kader HMI ini sekarang dimanfaatkan oleh tarbiyah yang berhasil mendominasi kampus-kampus besar di Indonesia. Meskipun baru berdiri sejak reformasi dengan nama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), namun ekspansi mereka berlaju cepat karena politik mereka yang rapi, cantik, dan elegan.

Pemetaan kekuatan kelompok-kelompok mahasiswa hari ini menggambarkan bahwa KAMMI menguasai hampir semua kampus besar di Indonesia. Sementara HMI hanya ada di beberapa kampus kecil dan itu pun tidak terlalu kuat. Kemudian diluar kedua ini, ada beberapa kelompok lain seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan lain lain. Kelompok-kelompok lain ini kekuatannya dibawah KAMMI dan HMI.

KAMMI dengan pemahaman Islam konservatifnya hari ini telah besar dan memiliki basis massa yang cukup besar serta mereka juga memiliki sistem tata kelola organisasi dan pengkaderan yang sangat rapi. Sementara HMI dengan pemahaman Islam moderatnya mengalami penurunan kualitas kader dan basis massa sangat rapuh. Sistem tata kelola organisasi dan pengkaderannya pun masih jauh dari manajemen yang baik.

Penulis pun sempat memiliki keraguan untuk memilih jalan pengabdian di antara dua kelompok besar di atas. Ketika bergabung dengan KAMMI maka hal yang harus dirubah disana adalah pemahaman akan Islam yang konservatif untuk menjadi lebih terbuka dan dinamis. Hal ini adalah sesuatu yang berat, mengingat pemahaman tersebut sudah berkembang pesat di selutuh basis massa.

Sementara di HMI sebenarnya pemahaman Islam ideal yang rahmatan lil alamin telah mereka dapat serap. Namun hal ini masih terbatas di ranah teoritis, belum menjalar ke area praksis dalam wujud ibadah dan tindakan nyata pengabdian yang bermanfaat bagi peradaban. Selain itu tata kelola organisasi pun masih butuh banyak pembenahan dalam tubuh HMI.

Pilihan akhirnya adalah mengubah pemahaman manusia atau menyempurnakan pemahaman manusia dan memperbaiki tata kelola organisasi. Dengan semua pertimbangan visiblitas rasional akhirnya penulis lebih memilih pilihan kedua, karena mengubah pemahaman yang telah hampir mendarah daging adalah cukup sulit dalam waktu yang terbatas dan juga tidak bisa dilakukan seorang diri. Bersama HMI penulis berharap mampu menjawab tantangan tersebut.

Gerakan Peretas Batas

Pergerakan mahasiswa ini dianggap mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan musuh bersama dan juga arogansi tiap golongan mahasiswa yang semakin tinggi. Yang menjadi musuh saat ini bagi mahasiswa adalah bangsa mereka sendiri. Kelompok lain di luar mereka itulah yang saat ini dianggap sebagai lawan politik.

Hal yang sama juga terjadi di HMI. HMI bersama PMII, GMNI dan lain-lain saat ini berupaya mengalahkan dominasi besar KAMMI di kampus-kampus besar di Indonesia. Inilah pergeseran cita-cita yang terjadi saat ini. Tidak lagi kepentingan umat atau rakyat yang lebih diperjuangkan, melainkan kepentingan golongan masing-masing. Resistensi antar golongan sekarang menjadi semakin kuat.

Untuk menjawab tantangan ini maka sekarang dibutuhkan Boundary Spanner atau peretas batas. Orang-orang yang tidak terikat pada kepentingan masing-masing golongan dan namun tidak bersikap resisten terhadap keberadaan golongan-golongan tersebut. Mereka justru berupaya meminimalisir kepentingan golongan pada setiap golongan dan membuka jalan komunikasi kerjasama antar golongan. Sehingga pada akhirnya setiap golongan yang ada dapat lebih membuka diri dan kembali pada tujuan utama membangun bangsa, bukan membangun golongan masing-masing atau pun klaim kebenaran masing-masing.

Menjadi peretas batas inilah yang seharusnya diperankan oleh HMI saat ini. Menjadi para pemimpin politik kreatif yang berintegritas. Indonesia dan Islam saat ini butuh para peretas batas ini sebagai pilar-pilar muda pembangun masa depan peradaban. Menjaga keutuhan bhineka tunggal ika dan menyongsong kebangkitan garuda dan Islam yang sesungguhnya.

Untuk menjadi gerakan peretas batas, ada beberapa hal yang penting diperhatikan oleh HMI saat ini. Para kader HMI saat ini sebagian besarnya seringkali berujar menyatakan bahwa KAMMI merupakan kelompok yang ekslusif dikarenakan gaya berpakaian mereka yang seragam dengan celana bahan dan baju kokonya. Namun di sisi lain sebenarnya mereka pun juga tidak kalah ekslusif dengan wacana dan bahasa orasi mereka yang tidak membumi. Kemudian keengganan mereka untuk berbaur dengan kelompok lain, khususnya KAMMI juga bisa disebut sebagai ekslusifisme.

Pertama, meniadakan tindakan ekslusif dan membaur bersama untuk menyelipkan pemikiran Islam sebagai kumpulan nilai universal, hal inilah yang seharusnya diilakukan oleh HMI. Kembali pada cita-cita ideal untuk menjadi insan pengabdi, bukan insan angkuh yang pragmatis egois.

Selanjutnya kedua yaitu memahami nilai-nilai Islam yang universal secara kontekstual, sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini. banyak sekali kita temukan saat ini kader-kader HMI yang merokok. Hal ini memang merupakan hal kecil, namun substansial. Rokok memiliki bahaya dan kerugian yang tidak  terbantahkan lagi. Andaikan dana yang dikeluarkan untuk rokok oleh para kader HMI dikumpulkan selama setahun maka dananya sudah bisa digunakan untuk kegiatan sosial yang jauh lebih bermanfaat dan nyata kontribusinya.

Rokok adalah salah satu contoh kasus bagaimana seharusnya para kader HMI mengamalkan nilai-nilai Islam yang universal secara kontekstual. Masih banyak contoh kasus lain yang hadir di tengah kader HMI saat ini, seperti gaya hidup lainnya dan juga dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang lebih mementingkan popularitas dibanding nilai yang dibawa.

Kemudian yang ketiga yaitu gerakan yang berjalan saat ini harus lebih terbuka dan bersih. Jangan menggunakan politik bawah tanah dan kotor. Katakan dan buktikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, sekalipun itu kepentingan golongan, negara, maupun agama. Integritas, hal ini penting ditanamkan dalam setiap kader HMI.

Lalu yang terakhir yaitu merapikan kembali sistem tata kelola organisasi dan pengkaderan. Manajemen yang dilakukan oleh HMI terkait hal ini terlihat sangat kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertebaran dan tidak terurusnya para kader HMI saat ini sehingganya kualitas mereka pun menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pemahaman ilmu yang diajarkan di LK dan seharusnya diamalkan dalam realisasi kontribusi nyata akhirnya hanya tinggal wacana. HMI perlu banyak berbenah demi untuk menyelamatkan keberlanjutan pemahaman Islam yang rahmatan lil alamin, bukan demi kepentingan masa depan HMI.

Layaknya, pemahaman akan Islam yang diajarkan di Nilai Dasar Perjuangan I, dalam analogi gelas dan air ; yang lebih penting adalah air. Gelas juga penting, tapi itu bukan tujuan, tujuannya adalah air. Seperti itu juga lah seharusnya HMI idealnya menurut penulis. HMI hanyalah gelas, airnya adalah masa depan peradaban. Menjadikan Islam benar-benar sebagai rahmatan lil alamin yang mampu membangun peradaban dunia secara umum dan Indonesia secara khusus.

Jika pemahaman di atas telah bisa diterima oleh para kader HMI. Maka kita akan menyongsong tak lama lagi sebagai gerakan peretas batas antar golongan. Mewujudkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

Pustaka

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 1, 2010

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 2, 2010

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 3, 2011

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 4, 2011

Fadhilah Amal, Muhammad Zakariya al-Kandhlawi,

Ahmad Wahib, Pembaharuan tanpa Apologia, 2009

id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zakariya_al-Kandhlawi

http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Wahib

Tulisan ini meraih Juara II dalam Lomba Karya Tulis Milad HMI ke 66

Monday, February 4, 2013

Saatnya Bicara Solusi!


sumber : http://iqramahbaraputra.files.wordpress.com/2011/11/solusi2.jpg

“Menurut ahli A, B, C, dan bla bla..”

Begitulah sayup-sayup suara dalam sebuah diskusi antar mahasiswa di salah satu kampus perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Kemudian tidak jauh dari lokasi tersebut, di ruang-ruang kuliah, nada yang sama juga menggebu-gebu disuarakan oleh para dosen berusia setengah baya yang tidak mau dibantah. Lalu bergeser cukup jauh dari kampus tersebut, di sebuah sekolah elit yang juga konon terbaik, sejumlah siswa dan guru juga terjebak dalam irama diskusi yang sejenis.

Itulah potret suasana pembelajaran yang terjadi di ibukota, pusat segala pusat peradaban negeri ini, tak terkecuali pendidikan. Bagaimana dengan potret di daerah ?. Ketika tokoh-tokoh ibukota di atas berkunjung ke daerah dan ia bercerita dengan metode diskusi atau belajar yang ia lakukan di ibukota, sontak kepolosan dan keluguan anak-anak daerah itu pun terkagum-kagum mendengarkan penjelasannya. Jadilah metode diskusi atau belajar dengan cara tersebut menjadi tersohor dimana-mana tempat di negeri ini. Lebih lanjut, dalam perkembangannya kemudian orang-orang mampu berbicara “Menurut ahli A, B, C, dan bla bla..”, lalu dianggap keren dan pinter.

Sementara hampir semua orang setuju dengan definisi pinter dan keren di atas, di setiap jengkal vertikal maupun horizontal ruang negeri ini tersumpal jutaan masalah yang nyaris diterima dengan pasrah oleh manusia-manusianya. Seminar-seminar, forum-forum diskusi dengan tumpukan kertas-kertas makalah menggudang di institusi-institusi pendidikan di negeri ini. Ada yang bilang bahkan Indonesia adalah negara dengan jumlah seminar terbanyak di dunia. Sementara itu, jutaan masalah tadi masih menggenang di permukaan, dan bahkan sebagian tenggelam melekat di dasar keputus-asaan.

Apa yang salah dengan semua ini ?. Semakin banyak orang belajar, semakin banyak masalah yang muncul dan tak tertuntaskan. Kenapa kedua hal yang seharusnya berkorelasi positif ini, justru malah memunculkan dampak sebaliknya ?.

Kiblat Sains Kita (?)

Sebagian besar paradigma yang berkembang di Indonesia saat ini adalah menganggap bahwa seseorang dengan kemampuan retorika bagus dan dapat menjelaskan berbagai teori, adalah orang hebat. Padahal jika kita melihat ke peradaban yang lebih maju di sejumlah negara maju, orang dengan tipikal seperti di atas jika hanya sampai pada tahap itu, belumlah hebat.

Di Indonesia, orang-orang yang mengaku hebat dengan berbagai teori yang dihafalnya sesungguhnya agak konyol. Mengingat bahwa sebagian besar teori-teori ilmu pengetahuan yang berkembang di Indonesia adalah diserap dari negara-negara barat. Teori-teori tersebut tentu dibuat berdasarkan riset-riset yang dilakukan di sana menggunakan studi kasus yang terjadi di sana. Perbedaan karakteristik fisik maupun sosial di setiap-setiap wilayah tentu berpengaruh terhadap hasil riset yang dilakukan. Apalagi tingkat perbedaan karakteristik di negara-negara barat dengan timur cukup signifikan. Singkatnya, teori yang dihasilkan dari ilmuwan-ilmuwan di negara barat tidak semuanya relevan diterapkan di negara-negara timur, termasuk Indonesia.

Apa yang sedang terjadi di Indonesia dan banyak negara timur lainnya saat ini sesungguhnya adalah sesuatu yang ambigu. Di satu sisi para ilmuwan timur, tengah bergiat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang mau tidak mau harus bersumber dari referensi barat, dikarenakan ilmu pengetahuan diklaim berkembang lebih dahulu di negara-negara barat. Sehingganya referensi terbanyak pun datang dari negara-negara barat.

Di lain sisi, ketika mempelajari tentu para ilmuwan timur ini dipengaruhi oleh apa yang ia baca. Dikarenakan tidak banyak bahan pembanding dan juga tersugesti oleh kemajuan peradaban barat, sehingganya gelar kebenaran pun jatuh pada referensi barat yang ia pelajari tersebut. Padahal terkadang ada beberapa studi kasus khusus di negaranya yang sebenarnya tidak bisa dipahami dengan teori barat yang ia pahami tersebut. Alhasil jadinya, ia malah memaksakan studi kasus di negaranya tersebut mengikut dengan teori barat yang ia yakini.

Seharusnya, yang dilakukan oleh ilmuwan timur tersebut adalah menguji teori tersebut dengan studi kasus di negaranya dengan daya analisis netral objektif. Sehingganya jika teori tersebut tidak relevan, ia mampu mencipta teori baru yang relevan dengan studi kasus di negaranya. Hal inilah yang bisa menjadi titik tolak kemajuan ilmu pengetahuan di negara-negara timur.

Memang ilmu pengetahuan lebih berkembang di barat terlebih dahulu, namun bukan berarti para ilmuwan timur turut mengikuti atau terhanyut dalam arus tersebut. Sangat sering para ilmuwan timur mengalami kesalahan dalam melakukan penyesuaian teori. Seperti contoh di atas, sering kali yang dipaksa menyesuaikan adalah kondisi di negaranya sehingga harus mengikut teori tersebut. Padahal yang harusnya disesuaikan adalah teori tersebut yang harus mengikut kondisi di negaranya.

Kondisi yang dimaksud disini tentu adalah hal yang positif yang bersifat sebagai karakter dari peradaban di negara tersebut. Salah seorang ilmuwan di Asia Timur dalam pernyataannya pernah berujar bahwa Asia sudah saatnya harus punya kiblat sains sendiri, tidak lagi berkiblat pada sains barat.

Pernyataan di atas seirama dengan seruan Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka “Akuilah dengan hati bersih bahwa kalian bisa belajar dari orang barat. Tapi jangan sekali-kali kalian meniru mereka. Jadilah murid-murid dari timur yang cerdas”.

Analisa Komparatif

Dalam dasawarsa terakhir, banyak perubahan baru, atau bahkan hal baru terkait sistem pendidikan di Indonesia, terutama pasca Reformasi. Sudah banyak terjadi perubahan kurikulum pendidikan di berbagi tingkat, baik tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

Ada kurikulum tahun 1994, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), serta untuk metode pembelajarannya, ada SCL (Student Center Learning), dan segera katanya akan ada STARS (Student, Teacher, Aestetic, Rulers Sharing). Semua punya tujuan sama: agar kualitas pendidikan di Indonesia meningkat, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari kurikulum tersebut diharapkan agar peserta ajar aktif dalam proses belajar, mencari tahu ilmu pengetahuan, dan pengajar sebagai pembimbing.

Masih jauh panggang dari api, untuk saat ini ungkapan tersebutlah yang mencerminkan kondisi harapan di atas. Sebagian besar pengajar masih mengajar dengan skema pengajar-oriented. Pengajar bicara panjang lebar, tapi peserta ajar cuma didiamkan saja, hanya disuruh mendengarkan, dan seringkali membuat  mereka mengantuk. Bahkan di perguruan tinggi terbaik di negeri ini pun, tidak sedikit dosen yang masih terjebak dalam zona nyaman metode tersebut.

Kondisi yang lebih parah adalah sebagian besar para pengajar di Indonesia melakukan discouragement, “menelan” peserta ajarnya dalam proses belajar. Studi kasus dalam sidang skripsi di perguruan tinggi, ketika seorang promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Banyak para dosen penguji yang sangat tidak manusiawi. Discoragement yang mereka lakukan membuat kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata akhirnya pun ditemukan juga menguji dengan cara menekan.

Sangat berbeda jika kita melihat ke Amerika Serikat (AS), filosofi mendidik di sana bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju, Encouragement!. Dalam ujian program doktor di AS, suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menerangkan seterang-terangnya sehingga mahasiswanya makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Para pengajar disana tidak hanya pintar secara akademis, melainkan karakternya juga sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Tidak jauh berbeda dengan di AS, sistem pengajaran di Belanda bersifat menghargai pendapat dan keyakinan individu merupakan landasan negaranya yang mampu memperkokoh akar masyarakat mereka, yang dikenal dengan keragaman dan masyarakat pluralistiknya. Ini juga merupakan landasan utama dari metode pengajaran yang diberlakukan di perguruan tinggi di Belanda.

Gaya pengajaran di Belanda sangat interaktif dan berpusat pada peserta belajar itu sendiri, memberikan perhatian dan kebebasan lebih bagi mahasiswa untuk mengembangkan pendapat dan kreativitas dalam menerapkan ilmu yang dipelajari. Interaksi di ruang kelas sangat dihargai. Mahasiswa dituntut untuk menelaah pengetahuan yang mereka terima dan mengembangkan serta mengekspresikan pendapat mereka. Mahasiswa tidak boleh pasif, namun harus terus bertanya dan berpikir kritis terhadap apa yang dikatakan pengajar atau sesama mahasiswa.

Hal yang lebih menarik lagi ditemukan di Finlandia yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia. Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

Pendidikan, Pembangunan, dan Perekonomian

Ada sebuah kesamaan karakter yang ditemukan pada gaya pendidikan di negara-negara barat. Perkembangan ilmu filsafat dan ilmu sosial yang sangat pesat membuat mereka begitu memahami filosofi pendidikan. Sehingganya dasar dari setiap sistem atau metode yang digunakan sangat berakar dari nilai-nilai universal yang konstruktif.

Lain halnya dengan dengan negara-negara di Asia Timur yang saat ini juga tengah mengalami kemajuan pesat. Jika di barat filsafat dan ilmu sosial begitu mengakar, di Jepang berfokus pembangunannya di bidang teknologi. Sehingga sistem pendidikannya pun mengikut kepada hal tersebut. Alhasil pendidikan di bidang sains terapan seperti teknologi sangat berkembang di negara ini.

Tidak mau kalah dengan Jepang sebagai negeri jirannya, Korea saat ini gencar menyebarkan korean wave-nya di berbagai penjuru dunia. Korean wave adalah sebuah image tersendiri yang dibuat oleh Korea melalui industri kreatifnya, seperti musik dan film. Berkembang pesatnya korean wave ini pun memicu pendidikan-pendidikan di bidang ini menjadi melesat menjamur.

Belajar dari sistem pendidikan di berbagai negara di belahan dunia, tampak sebuah benang merah antara pendidikan, pembangunan, dan perekonomian. Di negara-negara barat yang telah berstatus negara maju, hampir seluruh bidang ilmu berkembang dengan baik dikarenakan sistem pendidikan yang juga baik. Hal ini akhirnya berbanding lurus dengan tingkat pembangunan dan perekonomiannya. Hal yang sama pun terjadi di Jepang dan Korea yang memiliki fokus masing-masing. Pembangunan perekonomian yang terjadi berbasis kepada ilmu pengetahuan yang telah berkembang dikarenakan sistem pendidikan yang berkualitas.

Kemajuan yang dicapai oleh negara-negara di atas diraih akibat adanya kesadaran mereka akan pentingnya sumbangsih pengetahuan terhadap pembangunan perekonomian. Antara arah pembangunan, pendidikan, dan perekonomian, satu sama lainnya berkorelasi. Dimulai dengan penentuan arah pembangunan negara, kemudian diturunkan menjadi langkah-langkah mencapainya melalui bidang perekonomian, dan selanjutnya sistem pendidikan dirancang untuk melancarkan strategi mencapai arah tersebut.

Lalu selanjutnya,bagaimana kondisi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia ?. Pembangunan perekonomian yang terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia masih berbasis kepada resource atau sumber daya alam dan kuantitas sumber daya manusia. Tingkat pengetahuan rata-rata yang masih rendah menyebabkan sumber daya yang ada belum mampu dikembangkan secara optimal menjadi nilai ekonomi yang maksimal.

Basis sumber daya, inilah yang harus ditransformasikan oleh negara-negara berkembang menjadi basis ilmu pengetahuan untuk dapat mendongkrak pembangunan perekonomian. Untuk dapat melakukan transformasi ini tentu adalah sebuah proses komprehensif, kuncinya ada di sistem pendidikan.

Pendidikan Karakter : Problem Based Learning

Salah satu metode belajar yang banyak dikembangkan di negara-negara maju saat ini adalah metode Problem Based Learning (PBL). Metode ini saat ini juga tengah giat dikembangkan di Indonesia. Metode ini menekankan nilai-nilai ide, kebebasan berpikir, inovasi, dan problem solving

Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap PBL. Duch (1995) menyatakan bahwa PBL adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.

Menurut Nurhadi (2004: 100) “pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran”. Pengertian pembelajaran berbasis masalah adalah proses kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan atau memunculkan masalah dunia nyata sebagai bahan pemikiran bagi siswa dalam memecahkan masalah untuk memperoleh pengetahuan dari suatu materi pelajaran.

PBL pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of McMaster University di Kanada pada tahun 1966. Yang menjadi ciri khas dari pelaksanaan PBL di mcmaster adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat, terfokus pada manusia, melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar berdasar masalah.

Kemudian pada tahun 1976, Maastricht Faculty of Medicine di Belanda menyusul sebagai institusi pendidikan kedokteran kedua yang mengadopsi PBL. Kekhasan pelaksanaan PBL di Maastrich terletak pada konsep tes kemajuan (progress test) dan pengenalan keterampilan medik sejak awal dimulainya program pendidikan. Dalam perkembangannya, PBL telah diadopsi baik secara keseluruhan atau sebagian oleh banyak fakultas kedokteran di dunia.

Dalam pendidikan konvensional, mahasiswa lebih banyak menerima pengetahuan dari perkuliahan dan literatur yang diberikan oleh dosen. Mereka diharuskan mempelajari beragam cabang ilmu kedokteran dan menghapal begitu banyak informasi. Setelah lulus dan menjadi profesional, mereka dihadapkan pada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dari pengetahuan yang mereka dapat selama kuliah. Sistem pendidikan konvensional cenderung membentuk mahasiswa sebagai pembelajar pasif. Mahasiswa tidak dibiasakan berpikir kritis dalam mengidentifikasi masalah, serta aktif dalam mencari cara penyelesainnya.

Dalam PBL, siswa dituntut bertanggungjawab atas pendidikan yang mereka jalani, serta diarahkan untuk tidak terlalu tergantung pada guru. PBL membentuk siswa mandiri yang dapat melanjutkan proses belajar pada kehidupan dan karir yang akan mereka jalani. Seorang guru lebih berperan sebagai fasilitator atau tutor yang memandu siswa menjalani proses pendidikan. Ketika siswa menjadi lebih cakap dalam menjalani proses belajar PBL, tutor akan berkurang keaktifannya.

Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat, sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang akan dihadapi. Masalah-masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif.

Siswa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetahuan yang mereka miliki. Pertama-tama mereka mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya.
Langkah selanjutnya, siswa mulai mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, laporan, informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. Melalui cara ini, belajar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya tiap individu.
Setelah mendapatkan informasi, mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk lebih memahami dan menyelesaikannya.
Di akhir proses, siswa melakukan penilaian terhadap dirinya dan memberi kritik mambangun bagi kolega.

Salah satu negara yang telah menerima pengakuan internasional untuk sistem pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah (Problem Based Learning) adalah Belanda. Negara ini melatih mahasiswa untuk menganalisa dan memecahkan permasalahan dengan menggunakan penekanan pada pembelajaran mandiri dan disiplin. Semua program pendidikan tinggi Belanda berfokus pada karya tulis, bekerja sama kelompok untuk menganalisa dan menyelesaikan permasalahan spesifik, memberikan kesempatan kerja praktek melalui kerja magang dan melakukan penelitian di laboratorium.

Pada akhirnya PBL bisa  menjadi salah satu aplikasi dari pendidikan karakter. Karakter solutif, itulah yang ditanamkan dalam PBL.

Saatnya Bicara Solusi!

Metode PBL inilah yang harus dikembangkan secara intensif dan menyeluruh di Indonesia. Kurangi kajian teoritis yang tidak pernah menggunakan studi kasus. Perhatikan relevansi teori. Mari ubah pola pikir klasik yang menganggap bahwa orang hebat adalah yang hafal dan tahu banyak teori. Orang hebat adalah orang yang mampu mentransformasikan segala ilmu atau teori yang ia punya menjadi sebuah jalan keluar atau solusi dari permasalahan kekinian.

Saat ini juga tengah gencar digalakkan pendidikan karakter di Indonesia. Namun belum ada sebuah panduan yang jelas untuk konsep ini. PBL bisa hadir sebagai jawabannya. Karakter yang harus dibangun seharusnya adalah karakter solutif. Ini sesuai dengan nilai-nilai di PBL. Indonesia telah muak dengan media-media yan setiap hari menyebarkan jutaan berita-berita masalah di negeri ini yang menumbuhkan pesimisme. Saatnya melahirkan optimisme dengan menghadirkan solusi-solusi konkrit atas berbagai permasalahan tersebut. PBL mampu mendukung proses ini.

Selanjutnya, dalam jangka panjang PBL sangat efektif dalam pengembangan keilmuan. Melalui PBL dapat diuji teori-teori lama yang terkadang sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian zaman atau pun tidak relevan dengan kondisi wilayah tertentu. Sehingganya dapat dilahirkan teori-teori baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi wilayah tertentu tersebut. Ini terkait dengan kiblat sains yang diungkapkan di atas, melalui PBL kita bisa mencipta kiblat sains kita sendiri, menjadi superior, bukan terus meng-inferior.

Metode PBL ini bisa diterapkan di semua jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi. Untuk menerapkan hal ini tentu para generasi pengajar tua juga mesti mempelajari metode ini dan terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuannya. Karena sering kali perubahan sistem di Indonesia terhambat gara-gara generasi tua yang masih ortodoks. Bertahan pada prinsip-prinsip lama yang mereka anut dan konservatif terhadap gagasan baru.

Jangan sampai kita harus memilih opsi ‘Potong Generasi’ untuk permasalahan ini. Marilah kepada siapapun yang peduli terhadap masa depan  negeri ini dan menginginkan perbaikan peradaban, tua muda kaya miskin, saatnya bicara solusi terhadap segala permasalahan yang ada. Jangan cuma dan terus mengeluh sehingga akhirnya pasrah terhadap keadaan. Semua punya solusi, semua punya jawaban. Melalui metode PBL, akan lahir generasi problem solver di negeri ini untuk menghentikan para problem maker.

Memang untuk solusi atas sistem pendidikan di Indonesia adalah hal yang kompleks. Karena menyangkut berbagai hal. Dibutuhkan perbaikan yang menyeluruh, mulai dari sistem yang rumit, kurikulum, tenaga pengajar, fasilitas, dan lain lain. Namun setidaknya untuk saat ini, jika PBL mampu diterapkan secara maksimal di semua institusi pendidikan, maka kita akan menyaksikan optimisme semua anak neger i ini bersorak ”saatnya bicara solusi!”.



Pustaka

Boud, D & Feletti, Grahamme I. 1997. The Challenge of Problem Based Learning (2nd Edition). London : Designs and Potents Act.

Chanlin, Lih Juan & Kung Chi Chan. 2007. Integrating Inter-Disciplinary Experts For Supporting Problem-Based Learning. London. 44(2) pg 211

Ho, Fui Fong & Hong Kwen Boo. 2007. Cooperative Learning: Exploring Its Effectiveness In The Physic Classroom. Asia-Pasific Forum on Science Learning and Teaching. 8(2)(7) p 1

Duch, Barbara J & Grob, Susan E, & Allen, Deborah E. 2001. The Power  Of Problem based Learning. Virginia USA : Stylus Publishing.

http://mm.fe.ui.ac.id/index.php/berita/261-encouragement-prof-rhenald-kasali-phd

http://forum.orisinil.com/index.php?topic=3964.0

http://inspirasibelajar.wordpress.com/2011/02/27/kurikulum-dan-metode-pembelajaran-pendidikan-di-indonesia/

http://unisys.uii.ac.id/index.asp?u=710&b=I&v=1&j=I&id=8

http://www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/informasi-dalam-bahasa/sistem-pendidikan-belanda/sistem-pengajaran-di-belanda


Esai ini meraih Juara 1 dalam Kompetisi Esai KSM EP UI 2012 dan dibukukan dalam Buku "Solusi Dunia Pendidikan Indonesia"