Showing posts with label Pemuda (Mahasiswa). Show all posts
Showing posts with label Pemuda (Mahasiswa). Show all posts

Monday, August 29, 2016

Kenapa 230 juta populasi hanya dapat satu emas?




Brasil akhirnya meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 untuk cabang sepak bola putra setelah mengalahkan Jerman. Namun tim putri Jerman sebelumnya mengobati kekalahan ini, untuk kali pertama, mereka meraih medali emas Olimpiade seusai mengalahkan Swedia di final. Hal ini akhirnya membuat kedua negara masuk dalam daftar negara peraih medali emas untuk sepakbola di olimpiade.

Negara peraih gelar juara sepakbola olimpiade terbanyak bukanlah Brasil, Argentina, Jerman atau negara sepakbola yang lain, melainkan adalah Hungaria. Hungaria merupakan tim dengan raihan medali emas Olimpiade terbanyak, bersama Britania Raya dengan tiga gelar. Hungaria menjadi juara pada Helsinki 1952, Tokyo 1964, dan Mexico City 1968. Ada pula Rusia yang menjadi juara Olimpiade dua kali ketika masih bernama Uni Soviet. Mereka melakukannya pada 1956 dan 1968.
Sementara itu, Argentina menjadi negara tersukses di abad 21 dengan kesuksesannya meraih medai emas pada tahun 2004 dan 2008. Pada tahun 2008, di bawah komando Lionel Messi, pemain terbaik asal Barcelona tersebut sukses mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Negara lain yang berhasil meraih medali emas di abad ini adalah Kamerun (2000), Meksiko (2012), dan terakhir, Brazil.

Yang menarik, faktanya sejak sistem timnas u-23 diperkenalkan di Atlanta 1992 hanya Spanyol satu-satunya negara Eropa yang berhasil menjadi kampiun. Selebihnya, medali emas dikuasai oleh Nigeria dan Kamerun dari CAF (Afrika), lalu Argentina dua kali dari CONMEBOL (Amerika Selatan), juga Meksiko dari CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah)

Lalu pertanyaan klasiknya, mengapa negara-negara tersebut yang juara? Dan jawaban klasiknya tentu karena negara tersebut punya banyak pemain berkualitas yang dapat bekerjasama dalam tim yang juga baik. Berikutnya bagaimana mereka bisa mendapatkan dan melahirkan pemain-pemain tersebut? Negara-negara di atas memilih para pemainnya, Brazil dari 200 juta penduduknya, Jerman dari 80 juta jiwa dan Hungaria dari 10 juta penduduknya di tahun 1968, terakhir kali mereka meraih emas sepakbola di olimpiade. Lalu Argentina, Kamerun dan Meksiko, masing-masing berturut dari 39 juta, 15 juta dan 120 juta jiwa, saat mereka meraih juara.

Dari fakta di atas, hanya Brazil negara yang memiliki jumlah populasi lebih dari 200 juta dan berhasil meraih emas sepakbola di Olimpiade, akhirnya di 2016. Lalu bagaimana dengan raihan Brazil di olahraga lain pada olimpiade saat ini? Per 22 Agustus lalu, dari 471 atletnya Brazil meraih 7 emas dan berada di posisi 13. Adalah deretan angka-angka yang menarik, statistik menunjukkan bahwa negara berpopulasi besar yang bahkan sudah mengirim ratusan atlet di olimpiade, namun masih sulit setidaknya berada dalam posisi sepuluh besar.

Tuesday, May 5, 2015

Roads to Castle

https://www.kiwicollection.com/blog/game-of-thrones-filming-locations/29968

Different roads sometimes lead to the same castle – George R Martin. Game OfThrone

Recently, I really enjoyed watching the TV Show Game of Throne (GOT). This show is another way to learn about my favorite subject, geopolitics.

Chris O'Regan, a user of Quora, a knowledge website,  said that GOT has drawn inspiration from actual historical  events. The biggest similarity is that the story resembles events that occurred during medieval times in England particularly the Wars of the Roses. There are two houses in GOT, Stark and Lannister. Stark sounds like York and Lannister sounds like Lancaster.

Watching GOT also reminds me of my undergraduate thesis in 2012. I wrote about political contestation between student groups in my university, from a geopolitical point of view. Some people said it was an unusual topic. But in 2014, it was published as a book titled ‘Geopolitik Islam Kampus’ (Islam Geopolitics in University) and until now I still get orders for it . I had also essays published in other anthologies.

Saturday, April 26, 2014

Geopolitik Islam Kampus


Keluarga Mahasiswa (KM) ITB- yang konon mewakili suara mahasiswa ITB- bergejolak menyambut kehadiran Jokowi. Sementara tak ada masalah ketika Anis Matta datang. Putih menolak merah.

Lembaga Dakwah Kampus UI mengkampanyekan untuk memilih partai dengan indeks korupsi paling sedikit di masa menjelang Pileg lalu. Dan 3 lembaga sentral kemahasiswaan UI -BEM, DPM, MWA UM - mengadakan launching bersamaan di waktu yang berdekatan, mereka mengusung tema ; 3 cerita. Nuansa putih di kampus kuning.

Di tempat berbeda, organisasi kemahasiswaan kampus di Semarang terang-terangan mendukung putih dan kelompok lainnya di banyak daerah mendukung pencapresan Mahfud. Mereka semua mahasiswa.

Thursday, December 12, 2013

Ind(one)sia (Can)ada!


Indonesia, this word probably sounds strange from some canadian. One of this biggest country in Asia, doesnt have many residents in Canada. They are less than other southeast asian countries – thailand, vietnam, and philippine. Especially in maritime, it is hard to find indonesian.

However, actually the partnership in democracy and economy development between this two countries – has gone well.

Indonesia and Canada signed the Canada-Indonesia Parliamentary Friendship Group (CIPFG) on April 27, 2009. The Group is pursuing an objective to increase bilateral cooperation, mainly on the Parliamentarian side, as well as encouraging executives in each country to increase bilateral economic and trade relations.

Sunday, August 18, 2013

Saya (Masril Koto) Belajar (Sociopreneur)

http://media.viva.co.id/thumbs2/2013/01/02/23016-0_663_382.jpeg
Add caption

Saya tidak banyak berteori (banyak bicara), saya terinspirasi dari seorang tokoh Bung Hatta yang banyak membawa semangat kebersamaan, kerakyatan. Saya banyak belajar secara otodidak, belajar dari rakyat langsung, bung hatta juga gemar melakukan hal ini. Pemikiran-pemikiran beliau dalam kerangka ke Indonesiaan, ekonomi kerakyatan, salah satu contoh produknya adalah konsep koperasi. Sederhana saja pertimbangan saya dalam bergiat dalam kegiatan saya sekarang, hanya ingin menebar kebermanfaatan, atau singkatnya ingin masuk surga bersama-sama.

Sunday, July 21, 2013

Calling All Young People: The Water Crisis Needs You

http://images.huffingtonpost.com/2013-07-09-ZAM7_4191_JulyHuffPo3-thumb.jpg

Watching President Obama's historic visit to Africa this past week, I was struck by the attention he gave to young people. "The heartbeat of Africa," he called them -- a reminder of the fact that one in three people in Africa today are between the ages of 10 and 24.

This means that the young people of today are going to be determining the fate of Africa in the very near future. If they are given information in school about the importance of clean water and safe hygiene practices, today's young Africans could soon be leading countries where fewer kids die from preventable water-related diseases and more lead healthy, productive lives.

Youth and Social Entrepreneurship

http://sgentrepreneurs.com/wp-content/uploads/2009/07/rysec-poster-590x.jpg


When President Barack Obama was inaugurated this month for a second term, it
was in large part due to the youth vote. According to the Tufts University-based Center for Information and Research on Civic Learning and Engagement (CIRCLE), which conducts research on the civic and political engagement of young Americans, 23 million Americans between the ages of 18-29, or approximately 50 percent of that demographic, voted in the election on November 6, 2012. CIRCLE further reports that 60 percent of those young Americans voted for President Obama over Governor Mitt Romney. Tellingly, had Romney won half the youth vote in Florida, Ohio, Pennsylvania, and Virginia, or had young people abstained from voting there, not only would Romney have won those battleground states but he also would have won the presidency.

Sunday, July 7, 2013

Suspending Judgement

http://lateralaction.com/base/media/post-images/magnifying.jpg

How to Build Effective Teams through Critical and Creative Thinking

Just beneath the surface of polite behavior in most meetings there lurks a primitive---even savage---struggle for turf and power. Emerging concepts get lost in hidden, underground conflicts. Good ideas are attacked and destroyed even before they are understood. Useful thoughts are prematurely cut off by interruptions unconnected to previous statements. Most of what happens in meetings is a colossal waste of time and energy.

One exasperated manager told me recently that in most of the meetings she attends, 95% of the time is caught up in jockeying for power and other such activities unrelated to the purpose of the meeting. "All this stuff just gets in the way," she said. Another told me, "So often we spend more than half our meeting time just wandering. It's a wonder anything ever gets done !"

5 Reasons Why Young People Become Terrorists

http://i2.cdn.turner.com/cnn/2009/HEALTH/04/16/children.fears/art.teen.behavior.gi.jpg

What causes a young person to become a terrorist?

 They are looking for an identity.

Many young people often join terrorist organizations because they are looking for an identity for themselves. A 2010 study from the United States Institute of Peace found that among “2,032 ‘foreign fighters’” who joined al-Qaeda, being a so-called “identity seeker” was the largest reason to join a terrorist organization.
Like many young college students, high school students and adolescents, potential terrorists are looking to answer the question “Who am I?” Having a traumatic experience as a youth in particular is a motivating factor in deciding to become a terrorist — and terrorist recruiters recognize this.
“The personal pathway model suggests that terrorists came from a selected, at risk population, who have suffered from early damage to their self-esteem,” said psychologist Eric D. Shaw in a 1986 paper.
American-born al-Qaeda spokesman Adam Gadahn, shoe bomber Richard Reid, American Taliban John Walker Lindh, Puerto Rican dirty bomber plotter Joe Padila, and underwear bomber Umar Farouk Abdulmutallab have been cited as prime examples of this.

Sunday, June 30, 2013

Youth and Climate Change

http://api.ning.com/files/QfTvhVV76RfIUJZYk-NiskejhsA7vhkUNTAszgXukVdHdAH7C*TOSVX*rz4O0x8YTSTN5DSwcEwRcgVBPtXOIhTjTttXoZpF/YouthDecide_BlackBlue_LOGO_TAG.JPG

Young people are actively engaged at national and global levels in awareness-raising, running educational programmes, planting trees, promoting renewable energy and adopting energysaving practices. The United Nations supports youth in combating climate change through educational programmes, adaptation initiatives and participative involvement. Through coordinative efforts of the UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Secretariat, youth have a provisional constituency status giving them a voice in international climate change negotiations.

Tuesday, June 18, 2013

Canada World(ing) Youth

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&docid=bjPnYJ2WYc10CM&tbnid=xtUpFvDWB2kZfM:&ved=0CAUQjRw&url=http%3A%2F%2Fpcmikepulauanbabel.blogspot.com%2F2012%2F04%2Ficyepppik.html&ei=XnzAUbTrB8eHrQfImIDoCQ&bvm=bv.47883778,d.bmk&psig=AFQjCNH-SufQ33HRmzQt_miyXN071EvFjg&ust=1371655614556607


There are many youth organizations in worldwide. They have different style to express their idea. One of them whose good track record is Canada World Youth (CWY).

Canada World Youth (CWY) is founded in 1971 by Jacques Hébert. A writer, editor, politician, and tireless globetrotter who travelled to more than 130 countries around the world, Jacques Hébert was inspired by a deep commitment to young people and a desire to bring cultures closer together. In 1972- 1973, The first groups of young Canadians are sent to Cameroon, Malaysia, Mexico, Tunisia, and the former Yugoslavia. More than ten years after its creation, CWY is running educational programs between Canada and more than twenty-five countries in Africa, Asia, Europe, Latin America, and the Caribbean.

Monday, June 17, 2013

Youth and MDGs



http://www.unhabitat.org/images/content/image_in.jpg


Some countries in africa and asia still got many problems with each targets of MDGs (Millennium Development Goals). There are eight MDGs – which range from halving extreme poverty rates to halting the spread of HIV/AIDS and providing universal primary education, all by the target date of 2015 – form a blueprint agreed to by all the world’s countries and all the world’s leading development institutions. They have galvanized unprecedented efforts to meet the needs of the world’s poorest. MDGs which is created by UN and its partners for building a better world, now its limit is getting closer.

Friday, May 3, 2013

Gerakan Peretas Batas


Sumber : http://di.dk/globalleadershipacademy/newsandarticles/insights/pages/theglobalmanagersboundaryspanningrole.aspx


Jamaah ‘Cilik’ Tabligh

HMI, sebuah akronim yang samar-sayup terdengar dahulunya ketika penulis masih duduk di bangku sekolah menengah. Entah dimana akronim itu pernah didengar, tidak ada ingatan persis yang muncul hingga detik tulisan ini mengalir. Tapi yang pasti nama ini pernah bersuara di pikiran penulis sekitar enam tahun yang lalu.

Tumbuh kembang di lingkungan sekolah umum negeri milik pemerintah, membuat penulis tidak terlalu banyak bersentuhan dengan ragam pemikiran Islam. Meskipun dahulunya ketika masih sekolah dasar (SD) penulis bercita-cita ingin masuk salah satu pondok pesantren di Tanah Jawa dan ternyata kandas karena kekurangan dana, namun cita-cita mempelajari Islam lebih jauh ternyata tidak berlanjut di sekolah menengah karena ditebus oleh godaan masa remaja yang tak kuat menahan serangan globalisasi.

Meskipun demikian, selain di sekolah formal, lingkungan keluarga penulis cukup membantu untuk mengenal Islam secara lebih menurut Kitab Fadhilah Amal yang disusun oleh Muhammad Zakariya al-Kandhlawi. Sejak sekitar usia 10 tahun penulis berkenalan dengan sekumpulan bapak-bapak berjubah dan bersorban yang rutin pengajian setiap kamis malam di sebuah masjid, kemudian jumat paginya mereka berangkat berkelompok-kelompok menyebar ke berbagai daerah untuk ‘berdakwah’ dalam rentang waktu tertentu. Pada akhirnya penulis mengetahui mereka menamakan kelompoknya dengan nama “Jamaah Tabligh”.

Ya penulis ikut bergabung dengan jamaah ini semenjak SD karena ikut bersama ayah yang tertarik untuk bergabung dengan mereka ketika itu. Setiap malam di rumah kami pun berkumpul untuk membaca dan mempelajari kitab yang disebutkan di atas. Kitab tersebut hampir menjadi tuntunan utama mengalahkan Al Qur’an bagi kami ketika itu, karena porsi waktu membacanya yang melebih waktu memahami Al Qur’an. Rutinitas setiap malam ini disebut dengan “Ta’lim”.

Pertemuan pengajian rutin mingguan di masjid (baca : markas) yang telah ditetapkan pun juga penulis ikuti dahulu bersama dengan ayah. Hingga sampai dakwah ke daerah-daerah dengan menginap di mesjid pun penulis lakoni dulu ketika SD. Semangat keislaman ketika itu yang dimiliki penulis terseret sudah ke dalam aliran pemikiran Jamaah Tabligh. Hal ini juga yang mendorong keingingan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren ketika itu.

Memasuki sekolah menengah pertama hingga tingkat atas, pengetahuan Islam penulis masih didominasi oleh pemikiran Jamaah Tabligh bersama Fadhilah Amal-nya. Meskipun ketika di SMA penulis sempat mengikuti kegiatan organisasi Rohis, namun tetap saja tidak banyak pemikiran keislaman yang menggugah yang didapatan disana dikarenakan memang kualitas sumber daya manusia yang ada disana relatif rendah dan mereka juga bagian dari Jamaah Tabligh.

Sehigganya, hingga SMA usai tidak banyak pergolakan pemikiran Islam yang berkecamuk di pemikirian penulis. HMI pun cuma terdengar samar-sayup, seperti yang dijelaskan di atas.

Pesantren Tarbiyah UI

Awal masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), penulis serasa masuk ke dalam area pesantren. Bagaikan kota santri, hampir setiap orang yang ditemui disana terlihat begitu santun dan islami (menurut pemahaman Islam penulis ketika itu). Para lelaki dengan baju koko dan celana bahan yang panjangnya tidak melebihi mata kaki mendominasi mewakili potret lelaki disana. Di sela percakapan mereka, terdengar mereka saling memanggil dengan kata “ane-ente-akhi”. Di sudut yang lain para perempuan berjilbab besar pun juga berkumpul sesamanya dan terdengar panggilan “ukhti”.

Bagi penulis ketika itu, suasana kampus tersebut terasa begitu damai. Maka tak heran juga terdengar sebutan-sebutan dari luar yang menyebut FMIPA UI sebagai pesantren-nya UI. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di FMIPA UI pun tak lepas dari unsur-unsur keislaman, simbol-simbol Islam bertebaran dimana-mana, bahkan di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) disana hingga Himpunan setiap jurusan memiliki bidang khusus yang mengurusi kerohanian Islam para anggota organisasinya.

Lingkungan fakultas tersebut sangat Islam, ditanamkan melalui simbol-simbol hingga kegiatan-kegiatan. Namun dibalik semua identitas keislaman fakultas tersebut, ada sebagian kecil kelompok mahasiswa yang kurang senang dengan gaya-gaya keislaman tersebut. Mereka bukan saja non-muslim, namun juga para muslim. Mereka menilai para lelaki dan wanita yang lekat dengan simbol-simbol Islam tersebut bersifat ekslusif. Tidak membumi bersama mereka. bertindak seolah membenci golongan mereka. Hal ini dilihat dari gaya pergaulan para “akhi-ukhti” tersebut yang terbatas di kelompok mereka saja, hingga akhirnya keluar istilah “anak mushola”.

Anak mushola bagi penulis ketika itu tak jauh berbeda dengan para anak rohis di SMA dahulu, mulai dari simbol-simbolnya hingga perilakunya. Penulis menganggap tidak banyak perbedaan, sampai akhirnya penulis membaca sebuah artikel terbitan badan otonom pers mahasiswa di kampus yang mengangkat judul “Gerakan Politik Tarbiyah di Kampus-Kampus Besar di Indonesia”.

Dalam artikel tersebut akhirnya penulis mengetahui bahwa sekumpulan anak mushola yang ditemui di lingkungan kampus dan juga anak rohis di SMA tersebut memiliki sebuah jejaring besar yang memiliki sebuah visi pergerakan. Dalam artikel itu mereka disebut dengan istilah “anak tarbiyah”. Mereka tersebar hampir di seluruh kampus besar di Indonesia dan bahkan juga SMA-SMA. Dimulai dari organisasi rohis SMA, mereka mulai menanamkan pemahaman keislaman menurut mereka berdasar tokoh-tokoh Hassan Al Banna, Sayyid Quttub, dan Gerakan Ikhwanul Muslimin lainnya yang berawal dari Turki.

Selepas tamat dari SMA, para alumni rohis ini diberikan sebuah surat pengantar untuk diantarkan ke cabang mereka di dekat kampus si anak. Mereka disini telah disebut sebagai kader. Masuk di dunia kampus, mereka pun bergabung di lembaga-lembaga dakwah yang ada di kampus-kampus. Lalu di tahun kedua di kampus, kader-kader terbaik mereka disebar untuk menguasai lembaga-lembaga kemahasiswaan lain dan juga posisi-posisi strategis lain di kampus. Gerakan bawah tanah mereka sangat rapi dan cantik terlihat dari luar.

Dengan menggunakan  sistem mentoring atau liqo’ para kader tarbiyah ini didoktrin tentang Islam menurut pemahaman para tokoh Ikhwanul Muslimin. Mereka berpolitik, hal ini tidak terbantahkan karena dibuktikan dengan kecondongan salah satu partai politik (parpol) kepada golongan mereka.

Sistem dan alur kaderisasi serta pembinaan yang mereka lakukan sangat rapi dan bersih terlihat dari luar. Meskipun di dalamnya mereka bahkan juga menggunakan strategi tokoh boneka untuk dapat memenangkan hukum demokrasi. Bagi mereka, hal ini dihalalkan karena demi kemaslahatan umat menurut mereka.

Usai mengenal dan mengetahui seputar gerakan politik tarbiyah tersebut, penulis mulai sedikit paham dengan ragam warna pergerakan dan pemikiran Islam. Setelah itu juga, penulis sedikit mulai tahu bahwa HMI adalah lawan dari tarbiyah.

Ahmad Wahib

Berawal dari sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan di kampus. Awalnya penulis tidak terlalu paham dengan apa buku itu hingga siapa itu penulisnya. Penulis hanya ingin mengisi kegiatan dengan hal bermanfaat tatkala masih bersama status mahasiswa baru di kampus. Dalam bedah buku tersebut si pembicara berkoar-koar tentang kekagumannya akan pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib, penulis dari buku yang dibedah : “Pembaharuan tanpa Apologia”.

Ketika mendengarkan seminar tersebut, penulis belum terlalu paham siapa itu Ahmad Wahib dan apa sebenarnya isi dari bukunya tersebut sehingga para pembicara di acara itu mengagung-agungkan dia. Namun demikian, rasa penasaran memaksa penulis ketika itu untuk membaca dan memahami isi buku tersebut hingga tuntas.

Usai membaca buku tersebut itulah akhirnya penulis paham mengapa si pembicara mengagumi pemikiran Ahmad Wahib. Wahib ialah seorang pemuda cerdas yang bergulat dengan pemikiran-pemikiran keislamannya sejak muda. Dulu ia tergabung di HMI, dan di tengah jalan ia memutuskan untuk keluar karena merasa ada yang salah dengan HMI dan ia merasa sudah tidak lagi cocok.

Buku “Pembaharuan tanpa Apologia” tersebut adalah kumpulan dari catatan-catatan harian Wahib yang ditanggapi dengan tulisan-tulisan lain oleh para penulis lainnya. Dalam catatan-catatan hariannya, Wahib menyatakan kegundahan, keresahan, dan berbagai pertanyaan tak terjawabnya kepada Tuhan. Wahib menyuarakan refleksinya akan relatifitas kebenaran-kebenaran yang memaksa.

Wahib juga banyak bercerita seputar perjuangannya di HMI. Ia memperjuangkan netralitas dan keobjektifan berpikir dan bertindak di tubuh HMI kala itu. Namun di sisi lain ternyata sebagian pihak melihat usaha Wahib ini tidak ideal menurut mereka. Pihak tersebut menekankan bahwa HMI harus berpolitik agar dapat memaksimalkan pengaruhnya. Wahib menentang hal ini dan ternyata perjuangannya tidak berhasil meraih banyak massa yang mendukungnya. Alhasil Wahib pun akhirnya lebih memilih untuk mundur dari HMI dan melanjutkan kebebasan berpikirnya yang out of the box.

Beberapa kutipan pemikiran Wahib yang populer yaitu :

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. (Catatan Harian 9 Oktober 1969)

Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam, Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah, yaitu dari sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang produktif, analitis dan kreatif. (Catatan Harian 16 Agustus 1970)

Mengenal Wahib dan pemikirannya serta sedikit keterangan tentang HMI ketika itu, membuat penulis memiliki keinginan lebih untuk mencari tahu lebih banyak tentang hal tersebut. HMI berhasil melahirkan pemikir revolusioner Islam yang luar biasa seperti Wahib. Namun HMI hari ini, kondisinya sepertinya sangat jauh dari kemungkinan lahirnya Wahib-Wahib berikutnya. HMI di mata publik, terutama sebagian besar mahasiswa saat ini, kalah kepercayaan dibanding Tarbiyah.

Islam Rahmatan lil Alamin

Salah satu ajaran Al Qur’an yang banyak dikutip oleh berbagai ulama yaitu kata kunci “Islam sebagai Rahmatan lil Alamin atau rahmat bagi seluruh alam”. Penulis sangat setuju akan hal ini bahwa Islam  memang merupakan rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam, baik bagi seluruh makhluk hidupnya maupun benda matinya. Ketika Islam memang bersifat seperti ini berarti Islam memang dapat diterima oleh semua manusia. Lalu wajah Islam seperti apa yang dapat diterima oleh semua manusia yang dilahirkan dan berkembang dalam keyakinan yang berbeda-beda ?

Ketika bergabung dengan Jamaah Tabligh Islam dipahami sangat simbolis dan kurang kontekstual. Dalam Kitab Fadhilah Amal yang dijadikan pegangan inti jamaah banyak dijelaskan hadist nabi terkait fadhilah tiap jenis ibadah ; fadhilas shalat, puasa, dzikir, dan lain lain. Pemahaman akan hadist nabi dipraktekkan secara telanjang atau tanpa mempertimbangkan relevansi dengan kondisi kekinian zaman.

Konsep dakwah yang dilakukan dengan metode menginap di mesjid-mesjid dan melakukan ceramah ke warga-warga sekitar menurut Jamaah Tabligh sangat meniru konsep yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dulu. Konsep ini banyak menuai protes dan kecurigaan dari masyarakat, sehingganya tidak sedikit warga yang akhirnya menuding jamaah ini sebagai aliran sesat.

Kemudian dari gaya hidup termasuk gaya berpakaian. Jamaah ini biasa menggunakan pakaian seperti jubah dan kepala ditutupi sorban. Lalu mereka juga membiasakan menggunakan siwak yang biasa digunakan Nabi Muhammad SAW untuk menggosok gigi. Dari contoh-contoh ini bisa dilihat bagaimana mereka memahami sunnah Rasulullah SAW kurang kontekstual. Terjadi distorsi pemahaman antara nilai Islam dengan budaya arab.

Gaya berpakaian yang diajarkan Islam sesungguhnya adalah menutupi aurat, karena aurat dapat memicu nafsu manusia yang dekat dengan kejahatan. Banyak jenis pakaian yang seharusnya dapat menutupi aurat, namun Jamaah tabligh tidak menangkap pemahaman tersebut. Bagi mereka semua hal apapun yang ada di diri Nabi Muhammad SAW adalah hal yang baik dan semuanya harus diikuti.

Pemahaman yang sama juga mendasari mereka menggunaan siwak. Padahal kondisi saat ini akibat perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan telah ditemukannya benda lain yang mampu menggantika fungsi siwak tanpa mengurangi nilainya. Nilainya adalah mampu membersihkan gigi. Namun lagi-lagi bagi Jamaah Tabligh mereka kurang cerdas memahami nilai-nilai dibalik semua yang ada di diri Nabi Muhammad. Alhasil pemahaman mereka terhadap Islam pun menjadi terbatas pada simbol dan praktek syariat.

Pemahaman Islam seperti di atas sulit untuk diterima oleh semua manusia, karena dinilai tidak logis, primitif, dan mistis. Akhirnya penulis menilai jalan dakwah Islam yang ditempuh mereka masih perlu dicerdaskan lagi.

Selanjutnya, penulis melirik ke gerakan tarbiyah. Secara pemahaman Islam sebenarnya tidak banyak yang berbeda antara tarbiyah dengan Jamaah tabligh yang sama-sama terbatas pada simbol dan praktek syariat. Namun sedikit lebih progresif, gerakan ini bergerak lebih rapi, cantik, dan masif. Tarbiyah mengkader para pemuda-pemuda dengan strategi politik yang taktis. Sehingga hal inilah yang membuat mereka berkembang pesat.

Hanya saja sayang pemahaman Islam mereka yang minim nilai filosofis dan juga gaya pergaulan yang ekslusif membuat mereka masih belum bisa diterima oleh semua kalangan. Islam mereka belum bisa bersifat universal. Kesolidan internal mereka yang luar bisa membuat mereka tumbuh menjadi kelompok yang angkuh dan mengklaim semua golongan diluar mereka adalah kafir dan bahkan disebut sebagai musuh Allah.

Beberapa kalangan menyebut mereka sebagai kelompok konservatif. Mereka sangat antipati dengan ilmu-ilmu asing dan istilah liberal, bagi mereka ilmu-ilmu dan pemikiran liberal sebagai ancaman bagi keaslian Islam. Tarbiyah cenderung menutup diri dari pengaruh pemikiran asing. Para kader mereka bahkan dilarang membaca buku-buku yang mereka anggap liberal. Hal ini pun membuat kader-kader mereka miskin pengetahuan umum dan cenderung buta akan pemahaman-pemahaman filosofis.

Gaya konservatif tarbiyah ini pun akhirnya tidak disetujui oleh penulis karena menyebabkan gerakan ini akan stagnan dan tidak berkembang. Sehingga semakin sulit untuk dapat berbaur dengan dunia luar, apalagi untuk dapat diterima oleh seluruh kalangan.

Setelah merasa tarbiyah pun belum mampu mewakili wajah Islam yang me-rahmatan lil alamin. Penulis pun mencoba mengenal HMI lebih jauh. Usai mengenal dan memahami pemikiran Wahib, penulis melanjutkan pengembaraan mengenal tokoh besar HMI lainnya seperti Nurcholis Madjid (Cak Nur), ideologi HMI, dan juga mengamati kondisi kekinian HMI.

Melalui pemikiran Wahib penulis menemukan bagaimana Wahib menempatkan Islam secara objektif dan memiliki toleransi yang besar terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Selanjutnya Cak Nur juga menyatakan bahwa Islam adalah kumpulan nilai-nilai universal yang maknanya dapat memberikan petunjuk kepada seluruh manusia. Disini penulis merasa bahwa pemahaman-pemahaman ini mulai menjawab bahwa Islam yang seperti inilah yang dapat benar-benar menjadi rahmatan lil alamin.

Selanjutnya, dalam Nilai Dasar Perjuangan HMI juga ditekankan bahwa pemahaman akan Islam seharusnya adalah paham akan esensi dari tiap perintah yang tertera dalam Al Qur’an maupun hadits. Jika dianalogikan Islam sebagai gelas berisi air, maka yang paling penting adalah airnya. Airnya inilah yang seharusnya dipahami umat sebagai tujuan mereka, bukan gelasnya. Air tersebutlah yang sebenarnya mengandung nilai-nilai universal yang me-rahmatan lil alamin.

Kondisi kekinian umat Islam saat ini terutama di Indonesia banyak yang tidak menyadari akan hal ini. Jamaah tabligh dan tarbiyah terjebak dalam pemahaman pentingnya gelas. Pada hakikatnya gelas juga penting sesungguhnya, namun bukan itu tujuannya, tujuannya adalah air. Salah satu contoh keterbatasan pemahaman umat Islam saat ini yaitu ketika membaca Al Qur’an. Banyak umat Islam Indonesia membaca Al Qur’an tanpa memahami tafsirnya. Mereka terjebak dalam pemahaman bahwa membaca huruf arab Al Qur’an dapat memberikan banyak faedah. Padahal sesunggunya faedah yang dimaksud adalah ketika kita memahami tafsirnya dan dapat mengamalkan hikmah ayat-ayat Al Qur’an tersebut.

HMI di awal berdirinya melalui para tokoh-tokoh yang mereka lahirkan dan dalam buku-buku teks pemikiran keislamannya berjuang mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Hal inilah yang menyebabkan kecendrungan berpikir penulis akhirnya mengarah kepada kelompok ini.

Kemunduran HMI

Berbagai pandangan sinis dan miring tentang HMI hari ini bertebaran dimana-mana. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, mengingat memang kondisi HMI hari ini tidak lagi seperti masa kejayaannya di awal berdiri hingga era Cak Nur dahulu. Bahkan kemunduran HMI ini pun diakui oleh Cak Nur. HMI hari ini sudah hampir kehilangan arah. Perjuangan mereka hanya terbatas di ruang-ruang kelas latihan kepemimpinan (LK) dan konspirasi politik.

Sejumlah kader HMI hari ini bisa dilihat kualitasnya yang sangat jauh dibawah para tokoh-tokoh terdahulunya. Sebagian besar mereka larut dalam romantisme masa lalu kejayaan dan kebesaran nama alumni-alumni mereka. Mereka hanya bisa bercerita dan merasa bangga akan raihan alumni-alumni mereka tanpa berupaya bercermin diri apa yang telah mereka raih dan lakukan demi peradaban.

Jika kita berkunjung ke tempat-tempat pelatihan pengkaderan HMI, disana kita akan temui asap-asap rokok mengepul dimana-mana, sejumlah pria bertindik anting dengan obrolah angkuh sok pintar mencaci maki golongan lain, dan gaya malas lain lainnya. Itulah mereka potret sebagian besar kader HMI hari ini. Jika mungkin dahulu orang-orang seperti ini disebut sebagai oknum atau bagian kecil yang buruk dari HMI, namun hari  ini para oknum ini sudah hampir dominan. Sehingganya merekalah yang hari ini akhirnya mewakili wajah HMI.

Para kader hari ini telah terjebak dalam kebebasan berpikir yang tidak lagi kontekstual dengan kebutuhan zaman. Mereka terlalu banyak berwacana, berdiskusi, euforia kebencian terhadap kelompok lain, dan merasa angkuh dengan ilmu yang belum seberapa. Hingga akhirnya lupa akan cita-cita utama menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

Sebagian besar alasan mereka bergabung di HMI, jawabannya adalah jaringan. Para alumni HMI yang telah tersebar dimana-mana mereka anggap sebagai peluang mereka untuk mudah menjajal karir politis. Itulah sebagian besar kader pragmatis yang ada di HMI hari ini. Niat mereka bergabung di HMI awalnya sudah sangat berbeda dengan para tokoh terdahulu yang bergabung karena memang ingin belajar dan mengabdi bersama membangun peradaban Islam dan Indonesia.

Semua kondisi buruk kader HMI di atas saat ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Karenanya pandangan terhadap HMI pun menjadi tidak lagi baik di kampus-kampus. HMI dipandang sebagai kelompok yang terkenal mengacau dan membuat kerusuhan di kampus-kampus. HMI tidak lagi dikenal sebagai pencipta ide-ide dan pemikiran brilian seperti dahulunya.

Penurunan kualitas kader HMI ini sekarang dimanfaatkan oleh tarbiyah yang berhasil mendominasi kampus-kampus besar di Indonesia. Meskipun baru berdiri sejak reformasi dengan nama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), namun ekspansi mereka berlaju cepat karena politik mereka yang rapi, cantik, dan elegan.

Pemetaan kekuatan kelompok-kelompok mahasiswa hari ini menggambarkan bahwa KAMMI menguasai hampir semua kampus besar di Indonesia. Sementara HMI hanya ada di beberapa kampus kecil dan itu pun tidak terlalu kuat. Kemudian diluar kedua ini, ada beberapa kelompok lain seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan lain lain. Kelompok-kelompok lain ini kekuatannya dibawah KAMMI dan HMI.

KAMMI dengan pemahaman Islam konservatifnya hari ini telah besar dan memiliki basis massa yang cukup besar serta mereka juga memiliki sistem tata kelola organisasi dan pengkaderan yang sangat rapi. Sementara HMI dengan pemahaman Islam moderatnya mengalami penurunan kualitas kader dan basis massa sangat rapuh. Sistem tata kelola organisasi dan pengkaderannya pun masih jauh dari manajemen yang baik.

Penulis pun sempat memiliki keraguan untuk memilih jalan pengabdian di antara dua kelompok besar di atas. Ketika bergabung dengan KAMMI maka hal yang harus dirubah disana adalah pemahaman akan Islam yang konservatif untuk menjadi lebih terbuka dan dinamis. Hal ini adalah sesuatu yang berat, mengingat pemahaman tersebut sudah berkembang pesat di selutuh basis massa.

Sementara di HMI sebenarnya pemahaman Islam ideal yang rahmatan lil alamin telah mereka dapat serap. Namun hal ini masih terbatas di ranah teoritis, belum menjalar ke area praksis dalam wujud ibadah dan tindakan nyata pengabdian yang bermanfaat bagi peradaban. Selain itu tata kelola organisasi pun masih butuh banyak pembenahan dalam tubuh HMI.

Pilihan akhirnya adalah mengubah pemahaman manusia atau menyempurnakan pemahaman manusia dan memperbaiki tata kelola organisasi. Dengan semua pertimbangan visiblitas rasional akhirnya penulis lebih memilih pilihan kedua, karena mengubah pemahaman yang telah hampir mendarah daging adalah cukup sulit dalam waktu yang terbatas dan juga tidak bisa dilakukan seorang diri. Bersama HMI penulis berharap mampu menjawab tantangan tersebut.

Gerakan Peretas Batas

Pergerakan mahasiswa ini dianggap mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan musuh bersama dan juga arogansi tiap golongan mahasiswa yang semakin tinggi. Yang menjadi musuh saat ini bagi mahasiswa adalah bangsa mereka sendiri. Kelompok lain di luar mereka itulah yang saat ini dianggap sebagai lawan politik.

Hal yang sama juga terjadi di HMI. HMI bersama PMII, GMNI dan lain-lain saat ini berupaya mengalahkan dominasi besar KAMMI di kampus-kampus besar di Indonesia. Inilah pergeseran cita-cita yang terjadi saat ini. Tidak lagi kepentingan umat atau rakyat yang lebih diperjuangkan, melainkan kepentingan golongan masing-masing. Resistensi antar golongan sekarang menjadi semakin kuat.

Untuk menjawab tantangan ini maka sekarang dibutuhkan Boundary Spanner atau peretas batas. Orang-orang yang tidak terikat pada kepentingan masing-masing golongan dan namun tidak bersikap resisten terhadap keberadaan golongan-golongan tersebut. Mereka justru berupaya meminimalisir kepentingan golongan pada setiap golongan dan membuka jalan komunikasi kerjasama antar golongan. Sehingga pada akhirnya setiap golongan yang ada dapat lebih membuka diri dan kembali pada tujuan utama membangun bangsa, bukan membangun golongan masing-masing atau pun klaim kebenaran masing-masing.

Menjadi peretas batas inilah yang seharusnya diperankan oleh HMI saat ini. Menjadi para pemimpin politik kreatif yang berintegritas. Indonesia dan Islam saat ini butuh para peretas batas ini sebagai pilar-pilar muda pembangun masa depan peradaban. Menjaga keutuhan bhineka tunggal ika dan menyongsong kebangkitan garuda dan Islam yang sesungguhnya.

Untuk menjadi gerakan peretas batas, ada beberapa hal yang penting diperhatikan oleh HMI saat ini. Para kader HMI saat ini sebagian besarnya seringkali berujar menyatakan bahwa KAMMI merupakan kelompok yang ekslusif dikarenakan gaya berpakaian mereka yang seragam dengan celana bahan dan baju kokonya. Namun di sisi lain sebenarnya mereka pun juga tidak kalah ekslusif dengan wacana dan bahasa orasi mereka yang tidak membumi. Kemudian keengganan mereka untuk berbaur dengan kelompok lain, khususnya KAMMI juga bisa disebut sebagai ekslusifisme.

Pertama, meniadakan tindakan ekslusif dan membaur bersama untuk menyelipkan pemikiran Islam sebagai kumpulan nilai universal, hal inilah yang seharusnya diilakukan oleh HMI. Kembali pada cita-cita ideal untuk menjadi insan pengabdi, bukan insan angkuh yang pragmatis egois.

Selanjutnya kedua yaitu memahami nilai-nilai Islam yang universal secara kontekstual, sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini. banyak sekali kita temukan saat ini kader-kader HMI yang merokok. Hal ini memang merupakan hal kecil, namun substansial. Rokok memiliki bahaya dan kerugian yang tidak  terbantahkan lagi. Andaikan dana yang dikeluarkan untuk rokok oleh para kader HMI dikumpulkan selama setahun maka dananya sudah bisa digunakan untuk kegiatan sosial yang jauh lebih bermanfaat dan nyata kontribusinya.

Rokok adalah salah satu contoh kasus bagaimana seharusnya para kader HMI mengamalkan nilai-nilai Islam yang universal secara kontekstual. Masih banyak contoh kasus lain yang hadir di tengah kader HMI saat ini, seperti gaya hidup lainnya dan juga dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang lebih mementingkan popularitas dibanding nilai yang dibawa.

Kemudian yang ketiga yaitu gerakan yang berjalan saat ini harus lebih terbuka dan bersih. Jangan menggunakan politik bawah tanah dan kotor. Katakan dan buktikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, sekalipun itu kepentingan golongan, negara, maupun agama. Integritas, hal ini penting ditanamkan dalam setiap kader HMI.

Lalu yang terakhir yaitu merapikan kembali sistem tata kelola organisasi dan pengkaderan. Manajemen yang dilakukan oleh HMI terkait hal ini terlihat sangat kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertebaran dan tidak terurusnya para kader HMI saat ini sehingganya kualitas mereka pun menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pemahaman ilmu yang diajarkan di LK dan seharusnya diamalkan dalam realisasi kontribusi nyata akhirnya hanya tinggal wacana. HMI perlu banyak berbenah demi untuk menyelamatkan keberlanjutan pemahaman Islam yang rahmatan lil alamin, bukan demi kepentingan masa depan HMI.

Layaknya, pemahaman akan Islam yang diajarkan di Nilai Dasar Perjuangan I, dalam analogi gelas dan air ; yang lebih penting adalah air. Gelas juga penting, tapi itu bukan tujuan, tujuannya adalah air. Seperti itu juga lah seharusnya HMI idealnya menurut penulis. HMI hanyalah gelas, airnya adalah masa depan peradaban. Menjadikan Islam benar-benar sebagai rahmatan lil alamin yang mampu membangun peradaban dunia secara umum dan Indonesia secara khusus.

Jika pemahaman di atas telah bisa diterima oleh para kader HMI. Maka kita akan menyongsong tak lama lagi sebagai gerakan peretas batas antar golongan. Mewujudkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

Pustaka

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 1, 2010

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 2, 2010

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 3, 2011

Titik Temu, Jurnal Peradaban, Nurcholis Madjid Society, Volume 4, 2011

Fadhilah Amal, Muhammad Zakariya al-Kandhlawi,

Ahmad Wahib, Pembaharuan tanpa Apologia, 2009

id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zakariya_al-Kandhlawi

http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Wahib

Tulisan ini meraih Juara II dalam Lomba Karya Tulis Milad HMI ke 66

Sunday, February 24, 2013

Geopolitik PKS



Ditengah ombang-ambing eksistensi PKS yang tengah menjadi bulan-bulanan berbagai pihak akibat kasus korupsi impor daging sapi yang menimpa kader terbaiknya, Lutfi Hasan Ishaq (LHI), muncul sebuah pola menarik yang menggambarkan kekuatan Geopolitik PKS di berbagai daerah di Indonesia.

Reaksi Kader Muda

Ketika beberapa saat setelah LHI diboyong KPK dengan berstatus tersangka dalam kasus korupsi impor daging sapi, jutaan kader PKS di berbagai daerah di Indonesia pun langsung bereaksi. Ada beraneka macam jenis reaksi, mulai dari reaksi menyangkal tuduhan tersebut, menyalahkan pihak lain dengan menyebut kasus ini sebagai konspirasi, menyerahkan kepada KPK, hingga setuju dengan aksi KPK dan mulai meragukan kredibilitas citra PKS sebagai partai dengan slogan bersih.

Dari berbagai reaksi yang muncul, yang paling menarik adalah reaksi dari sejumlah kader muda PKS yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Sejumlah mereka yang masih menyandang amanah di berbagai organisasi intra maupun ekstra di sekolah atau kampusnya masing-masing ini, menunjukkan militansinya sebagai kader yang begitu mencintai PKS dengan melakukan pembelaan habis-habisan. Justifikasi bertubi-tubi di berbagai media sosial dan fitur internet lainnya yang membela LHI dan PKS pun terus berdatangan dari para kader muda tersebut.

Justifikasi dari para kader muda tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan-pernyataan, poster-poster, artikel-artikel di berbagai media sosial, hingga pembuatan grup facebook yang menyatakan dukungan terhadap LHI dan pembelaan terhadap PKS. Hal ini menujukkan bahwa kaderisasi PKS yang masuk melalui penetrasi ke berbagai organ intra siswa dan mahasiswa di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, ternyata berjalan sangat sukses.

Daerah-daerah yang sukses tersebut antara lain adalah ; Depok, Bandung, Banten, Semarang, Jogjakarta, Padang, Medan, serta Aceh. Di sejumlah daerah tersebut terdapat sejumlah perguruan tinggi-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah dengan kualitas pendidikan relatif baik di Indonesia.

Daerah-daerah di atas menjadi lumbung kader muda PKS. Selain di daerah-daerah di atas, di berbagai daerah lainnya, seperti Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan hingga Maluku, juga tengah gencar penetrasi yang dilakukan oleh PKS untuk menjaring pemuda-pemuda kelas menengah untuk menjadi kader-kadernya.

Selanjutnya, usai justifikasi terhadap LHI mereda, topik pengangkatan Anis Matta sebagai pengganti LHI menjadi Presiden PKS pun kembali meramaikan nama PKS di seantero Indonesia. Siapa yang meramaikan topik ini ?. Mereka kembali datang dari daerah-daerah di atas yang menjadi lumbung kader muda PKS. Hal ini juga ditunjukkan oleh sejumlah kader muda PKS yang membanjiri media sosial dengan pernyataan-pernyataan dukungan terhadap Anis Matta, bahkan hingga memasang foto Anis Matta menjadi foto profil di akun media sosialnya.

Pembuktian bahwa daerah-daerah tersebut sebagai lumbung kader muda PKS semakin terbukti setelah Anis Matta menentukan daerah-daerah yang menjadi tujuan safari dakwahnya. Anis Matta melakukan safari dakwah ke Jawa Barat, Sumatera Utara, hingga Yogyakarta.

Dalam melancarkan aksi justifikasinya, para kader muda PKS dibantu oleh keberadaan sejumlah media massa partisan yang dimiliki PKS. Media massa partisan inilah yang mencoba melawan arus serangan media massa besar lain yang seolah anti PKS. Media massa partisan ini bukan hanya ada di tingkat nasional, beberapa media massa lokal juga terlihat memiliki haluan yang sama. Beberapa media massa tersebut bertempat di daerah-daerah yang hampir sama dengan daerah-daerah yang disebutkan di atas sebagai lumbung kader muda PKS. Daerah-daerah tersebut antara lain adalah Semarang, Solo, Kawasan Pantura, Muria, Banyumas, Kedu, hingga Jember.

Sejumlah media massa partisan tersebut dalam memberitakan sejumlah pemberitaan seputar PKS terlihat membentuk pola berbeda dengan sebagian besar media massa lainnya. Jika dilakukan penelusuran terhadap semua berita yang terkait PKS di media tersebut maka akan didapatkan berita-berita yang cenderung memberikan pembelaan dan berita-berita positif tentang PKS. Sejumlah berita-berita inilah yang kemudian gencar disebarluaskan oleh para kader-kader muda PKS yang aktif di berbagai media jejaring sosial.

Heartland-Rimland PKS

Dalam studi Geografi Politik ada Teori Geopolitik Heartland dan Rimland. Heartland sebagai daerah yang menjadi jantung kekuatan dari gerakan politik dan Rimland sebagai daerah yang menjadi perluasan ruang gerak kekuatan dari heartland tadi. Pola menarik yang terlihat dari multiplier effect kasus LHI menggambarkan heartland dan rimland PKS saat ini di Indonesia.

Peristiwa sebelumnya yang juga memicu terlihatnya heartland dan rimland PKS adalah momentum Pemilu 2009. Dari pemilu tersebut terlihat PKS meraih suara signifikan di Sumatera, sebagian besar Jawa, hingga beberapa daerah di Kalimatan dan Sulawesi. Hal ini mengindikasikan bahwa heartland PKS ketika itu berada di Sumatera dan sebagian Jawa bagian barat. Kemudian rimlandnya berada di beberapa provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.

Sementara dari Kasus LHI sekarang terlihat terjadi perubahan geopolitik PKS. Heartland PKS saat ini semakin luas hingga mencakup daerah-daerah yang dahulunya menjadi rimlandnya di 2009. Daerah tersebut antara lain adalah Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. Otomatis ini membuat rimlandnya pun semakin melebar hingga ke daerah Indonesia Timur.

Dilihat dari daerah-daerah di atas, tampak ada sebuah karakteristik daerah yang menjadi sasaran perluasan geopolitik PKS. Yaitu adalah daerah-daerah yang memiliki perguruan-perguruan tinggi dengan kualitas relatif baik di Indonesia. Pasar PKS yang menjaring kader-kader muda dari kelas-kelas menengah terdidik membuat daerah-daerah tersebut pun menjadi geostrategi PKS dalam menentukan geopolitiknya.

Kader Muda : Masa Depan PKS

Penjaringan kader muda di daerah-daerah adalah geostrategi bawah tanah PKS yang paling sukses dibanding berbagai parpol lainnya di Indonesia. Jumlah kader muda ini diduga sudah mencapai jutaan se Indonesia. Mereka dirancang dari sekarang untuk menjadi pemimpin-pemimpin di daerah dengan cara menjadikan mereka tokoh di kampus-kampus atau sekolah mereka dari sekarang. Inilah geostrategi dari PKS untuk memperluas daerah-daerah yang menjadi geopolitik mereka di Indonesia.

Kasus LHI yang menghancurkan citra PKS saat ini di mata publik secara umum, tidak berpengaruh terlalu besar terhadap kesetiaan para kader muda. Sistem kaderisasi doktrin melalui sistem kelompok-kelompok sel di PKS membuat militansi mereka menjadi sangat kuat, dibuktikan dari penyangkalan dan justifikasi yang dilakukan oleh hampir seluruh dari mereka. Meski untuk 2014 kasus ini mungkin berdampak terhadap elektabilitas PKS di publik, namun PKS menyimpan amunisi masa depan mereka untuk mewujudkan visi mereka, melalui pergerakan para kader muda yang meng-Indonesia.

Tulisan ini dimuat di Sinar Harapan 15 Februari 2013 , Republika 20 Februari, dan Gatra Minggu ke 3 Februari