![]() |
Indikator Smart City ( |
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI
Jakarta menggelar acara peluncuran aplikasi Jakarta Smart City. Gubernur
Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menjelaskan bahwa melalui aplikasi ini
pemprov akan mampu untuk memantau laporan warga, mengontrol kinerja perangkat
daerah, dan merespon berbagai keluhan publik DKI.
Sistem dari aplikasi ini akan terintegrasi dengan sejumlah
data dari pemprov Jakarta, dan kedepannya juga akan dikembangkan terhubung
dengan e-government. Aplikasi Jakarta Smart City ini bekerjasama dengan Google
dan Twitter untuk mendongkrak aksesibilitasnya oleh publik.
Kondisi Jakarta sebagai kota megapolitan memancing
ketertarikan banyak investor di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
untuk menawarkan konsep smart city melalui kerjasama dengan produk mereka.
Ooredoo, sebuah Perusahaan asal Qatar, mengatakan bahwa
lebih dari sepuluh kota megapolitan di dunia menggunakan jasa mereka untuk
mewujudkan konsep smart city. Dengan sudut pandang bisnisnya, mereka meyakini
bahwa peran internet bisa menjawab banyak permasalahan kota megapolitan.
Namun begitu, definisi smart city diakui banyak pihak masih belum
jelas. Sebuah perusahaan merilis bahwa ada 10 smart city di dunia, diantaranya
yaitu ; Vienna, Toronto, Paris, New York, London, Berlin, dan Hong Kong.
Lalu sekarang, apakah suatu hari Jakarta akan bisa masuk ke
dalam 10 besar itu ?
Konsep smart city yang mengedepankan TIK sebagai solusi bagi
permasalahan kota-kota megapolitan. Ibarat obat, konsep tersebut diharapkan
bisa menyembuhkan penyakit-penyakit kota besar. Sekarang mari kita lihat apa
saja penyakit yang ada di Jakarta.
Berikut riwayatnya, kita mulai dari yang populer dan
biasanya akan segera datang di awal tahun ini, di puncak musim hujan, yaitu Banjir.
Kondisi geografis Jakarta yang dilalui oleh jalur angin muson membuat jumlah
curah hujan yang jatuh di Jakarta selama musim hujan cukup tinggi. Hal ini
kemudian menyebabkan naiknya volume air di 13 sungai yang melintasi Jakarta.
Dengan kondisi sistem drainase dan tanggul yang belum baik, alhasil Jakarta pun
menjadi langganan banjir setiap tahunnya.
Sistem drainase di Jakarta banyak terganggu oleh sampah yang
dibuat oleh jutaan jiwa penduduk Jakarta yang belum cukup pintar secara merata.
Pada Tahun 2013, banjir Jakarta meyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun, 20
korban jiwa, dan puluhan ribu orang mengungsi.
Selanjutnya, adalah penyakit kemacetan. Jumlah kendaraan di
Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) mencapai 38,7 juta
unit (IEE, 2013). Angka ini pun masih terus mengalami pertumbuhan sekitar 16,5
persen per tahun. Sementara itu, ruas jalan di Jakarta sekarang masih jauh dari
kebutuhan normal yang mestinya seluas 20 persen dari luas kota. Saat ini jalan
di Jakarta baru di angka 6,2 persen dan sebagian besar lahan sudah sesak. Lalu
terkait moda transportasi umum, meskipun moda kereta listrik dan busway sudah
mulai membaik, namun jumlah angkot di Jakarta mencapai jumlah 16 ribu angkutan.
Angka-angka tersebut menunjukkan tingkat kebutuhan manusia di Jakarta.
Kemudian, tentang penggunaan lahan dan tata ruang kota. Rencana
tata ruang Jakarta terlihat lebih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan
fasilitas penduduk, sementara soal pengendalian pertumbuhan pemanfaatan lahan
dan pertumbuhan jumlah penduduk kurang diperhatikan. Akibatnya kebutuhan ruang
penduduk akan selalu meningkat dan Jakarta pun tidak muat lagi bagi mereka.
Hal di atas juga berkaitan dengan soal daya dukung
lingkungan di Jakarta. Jakarta dari Abad ke 15 hingga sekarang adalah daerah
teluk yang berdataran rendah, dan berada di bawah muka laut pasang. Lalu
Jakarta juga memiliki sejumlah dataran banjir di sepanjang pinggiran aliran
sejumlah sungai. Daerah dengan kondisi seperti ini mestinya memiliki aliran
permukaan dan daerah resapan yang cukup. Namun faktanya, pembangunan di Jakarta
sekarang sebagian besar sudah mengabaikan semua itu karena tingginya kebutuhan
manusianya.
Itulah sejumlah riwayat penyakit Jakarta, yang kemudian
benar-benar menyebabkan penyakit sebenarnya. Polusi dari kendaraan di Jakarta
menyebabkan 57,8 persen warga menderita berbagai penyakit, dari asma hingga
infeksi pernapasan. Itulah juga yang kemudian membuat Jakarta masuk ke dalam 20
kota di dunia yang terancam bangkrut menurut Jurnal Nature Climate Change.
Dalam sejumlah teori tahap perkembangan kota, sulit
menjelaskan Jakarta berada di tahap yang mana, karena terdapat sejumlah anomali
akibat riwayat penyakit di atas.
Jika dibaca kembali, maka salah satu penyebab utama dari
riwayat penyakit di atas adalah jumlah penduduk Jakarta. Laju urbanisasi cukup
tinggi yakni di atas 4,5 persen per tahun. Kepadatan penduduk di Jakarta 15.234
orang per kilometer persegi. Data dari World Population Review mencatat jumlah
penduduk Jakarta mencapai 10,2 juta jiwa di akhir Tahun 2014 lalu. Ini yang
tinggal menetap di dalam area DKI Jakarta, yang sering melakukan perjalanan
dari kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, mencapai sekitar dua kali
lipatnya. Jumlah penduduk di Kawasan Jabodetabek lebih dari 28 juta jiwa. Angka
ini hampir sama dengan jumlah penduduk di Malaysia dan Kanada.
Jika jumlah penduduk di atas dapat dikendalikan, maka
penyakitnya pun lebih mudah disembuhkan.
Kembali pada smart city, apakah aplikasi tersebut bisa jadi
obat untuk semua riwayat penyakit di atas?. Terlepas dari konsep smart city
yang merupakan jualan para perusahaan TIK, sederhananya, smart city mestinya tidak
akan punya riwayat penyakit sebanyak itu.
Well, Jakarta
sekarang mencoba berbenah. TIK bisa membantu, tapi jika pengendalian populasi
tak dilakukan, maka itu hanya akan menjadi obat warung. Obat penghilang rasa
sakit, namun tak akan pernah menyembuhkan riwayat penyakit Jakarta.
Sejauh ini, belum tampak langkah serius yang efektif dari pemprov
DKI untuk mengendalikan jumlah populasinya. Padahal jumlah tersebut sudah
merugikan pemprov yang mesti terus mensubsidi mereka.
Maka menjadi penting sekarang untuk kembali memperhatikan
persoalan ini. Lakukan pengendalian populasi, sesuaikan dengan rencana
pembangunan yang telah ada yang juga menyangkut pertumbuhan kota-kota lain di
Indonesia. Kembalikan wacana pemindahan ibukota dan segera realisasikan. Jangan
hanya sibuk dengan drama politik yang melelahkan, perhatikan isu yang lebih
produktif. Ini bagian dari geopolitik dan geostrategi pembangunan Indonesia
Jika hal di atas dilakukan maka ada peluang Jakarta bisa
masuk ke dalam 10 smart city dunia. Jika tidak, mungkin Jakarta smart city tak
lebih dari slogan, dagelan.
Tulisan ini dipublish di Selasar.com ,16 Januari 2015
No comments:
Post a Comment